SPORTKU.COM

Keberhasilan Leicester City menumbangkan Liverpool dengan skor telak 3-1, seakan menjadi bukti positif dari pemecatan Claudio Ranieri.

Padahal, di pertemuan terakhir kedua tim pada September 20016 lalu, Leicester harus menelan kekalahan telak 4-1 dari Liverpool. 

Parahnya, di laga dini hari tadi hanya ada satu nama berbeda dibanding 11 pemain yang diturunkan sebagai starter pada laga kontra Liverpool sebelumnya. Karena itu, keberhasilan Leicester menumbangkan Liverpool justru memunculkan dua pertanyaan besar.

Yang pertama tentunya perihal kualitas kepelatihan Ranieri musim ini. Dengan berhasilnya Leicester menumbangkan Liverpool, apakah menjadi tanda kalau Ranieri memang menjadi penyebab utama keterpurukan performa The Foxes musim ini?

Dan pertanyaan yang kedua, apakah sejak awal musim ini para pemain Leicester memang sengaja bermain di bawah kualitas mereka sebenarnya, hanya demi menyingkirkan sang pelatih asal Italia yang musim lalu sukses membawa mereka keluar sebagai juara?

''Pemain akan menentukan sendiri kapan mereka ingin bermain (bagus) dan mereka telah memutuskannya malam ini. Malam ini mereka telah mengubah catatan statistik mereka sepanjang musim ini,'' ungkap mantan penggawa Manchester United, Gary Neville.

''Claudio Ranieri tentu bertanya, kemana (performa) itu dua pekan lalu? Saya tidak begitu bisa mengerti bagaimana pemain bisa berubah sangat drastis secepat itu,'' imbuhnya.

Sesaat setelah didepaknya Ranieri dari bangku kepelatihan, memang santer terdengar kalau sudah sejak beberapa bulan terakhir muncul ketidakharmonisan di ruang ganti Leicester City. Sebagian pemain bahkan dikabarkan telah melakukan pembicaraan dengan manajemen klub dan mengutarakan ketidakcocokan mereka terhadap penerapan pola permainan Ranieri musim ini, hingga akhirnya keluarlah keputusan untuk memecat Ranieri.

''Jalur (perintah) dari pemilik klub ke pemain, perihal masa depan pelatih, sama sekali tidak menggambarkan sebuah rantai komando yang baik. Itu bahkan seharusnya tidak boleh pernah ada,'' ucap Neville.

Dalam laga kontra Liverpool semalam, Leicester memang tampil sangat berbeda dari biasanya. Mereka menekan hingga tengah lapangan sejak menit awal yang membuat gawang Liverpool terus berada di bawah ancaman.

Meski Simom Mignolet yang berada di di bawah mistar gawang mampu melakukan sejumlah penyelamatan gemilang, namun gawang Liverpool akhirnya robek juga pada menit 28.

Jamie Vardy yang lepas dari pengawalan, berhasil mendekati gawang Liverpool tanpa gangguan dan melepaskan sepakan keras di sudut kiri gawang. Dan hanya sebelas menit berselang, sepakan keras Daniel Drinkwater dari luar kotak penalti berhasil membuat Leicester menutup babak pertama dengan keunggulan 2-0.

Meski di babak kedua Liverpool tampak berusaha keras untuk membalikan keadaan, namun semangat para pemain Leicester tampaknya masih belum bisa untuk mereka redam. Buktinya, hanya 15 menit setelah dimulainya babak kedua, Vardy kembali menambah keunggulan lewat tandukan kepalanya.

Delapan menit kemudian Liverpool memang berhasil mencetak gol balasan. Namun sayangnya satu gol masih belum cukup untuk bisa menghancurkan kepercayaan diri Leicester dalam mendominasi permainan dini hari tadi.

assets/ams/default/expandable-cover.png button billboard

ADVERTISEMENT

assets/ams/default/standard.png

ADVERTISEMENT

assets/ams/default/standard.png