Demi Prestasi, Pssi Harus Benahi Standar Klub Dalam Negeri

Text : M Rusjdi Alatas | Photo / Video : Greg Bima | Editor: Andi Wahyudi | 1 March 2017

SPORTKU.COM

Antusias sepak bola Indonesia kembali terasa. Semangat yang sempat hilang lantaran kekecewaan yang terus berulang, perlahan mulai berganti dengan keyakinan.

Semangat ini bahkan semakin nyata terasa setelah PSSI menunjuk Luis Milla sebagai Pelatih Timnas Indonesia. Walaupun memang hingga saat ini hasil dari kepemimpinan Milla belum berbuah apa-apa, bahkan belum rampung merangkai skuat Timnas U22 yang dipersiapkan untuk berlaga di gelaran multi event negara-negara Asia Tenggara. 

Tapi jelas terbaca, kalau PSSI sebagai federasi sepak bola Indonesia, belakangan benar-benar berusaha untuk mengembalikan marwah sepak bola dengan sejumlah program dan terobosan yang bisa dibilang sangat meyakinkan.

Bukan hanya mendorong tim nasional untuk bisa berprestasi di kancah internasional, namun PSSI juga kini mulai fokus pada pengembangan usia muda yang diharapkan bisa menelurkan pesepakbola kelas dunia. Sebuah kurikulum bahkan juga tak lupa disiapkan untuk menyeragamkan semua level pembinaan.

Tapi jangan salah, sebenarnya sudah bertahun-tahun lamanya Indonesia kerap memunculkan sejumlah nama pemain muda yang diyakini bisa menembus level dunia. Tapi sayangnya, kebanyakan dari mereka justru mengalami penurunan performa bahkan sebelum sempat memasuki masa keemasaannya.

Ini jelas menunjukan kalau masalah utamanya bukan hanya pola permainan dan teknik dasar yang diterapkan, tapi PSSI juga perlu memikirkan bagaimana kemudian memperbaiki semua aspek demi menjaga telenta-talenta yang mereka punya.

Aspek pertama yang harus dipikirkan mungkin bagaimana caranya menetapkan standar kelayakan bagi sebuah klub profesional. Bukan hanya mengatur dan mengawasi klub-klub nasional untuk menjalankan kewajiban mereka dalam memenuhi hak finansial para pemainnya, namun PSSI juga harus bisa memaksa semua klub nasional untuk menyediakan semua fasilitas pendukung yang dibutuhkan para pemainnya.

Bima Sakti yang pernah mengenyam pendidikan sepak bola di sejumlah negara Eropa seperti Italia dan Swedia, mengakui kalau standar klub Indonesia masih jauh bila dibandingkan dengan negara-negara Eropa. Hal ini menurutnya harus juga dipikirkan dan segera diubah bila Indonesia ingin para pemainnya bisa bersaing di tingkat dunia.

''Seandainya kita berkaca pada AFC dan FIFA, regulasinya bagaimana sih untuk menjadi sebuah klub profesional? Misalnya di Swedia, Tim-B atau Tim-C nya ini bukan hanya ikut berkompetisi, tapi mereka juga mendapatkan treatment yang sama seperti tim seniornya, mulai dari tim dokternya, fisio, nutrisionis dan lain-lain. Pokoknya yang dibutuhkan untuk menjaga kondisi pemain itu benar-benar disiapkan oleh klub di sana,'' jelas Bima Sakti kepada SPORTKU.

Senada dengan Bima Sakti, Arthur Irawan yang juga sempat meniti karir di sejumlah klub Eropa, mengakui akan pentingnya fasilitas penunjang di sebuah klub bagi seorang pemain. Karena dengan dukungan dari sejumlah staff yang ahli di bidangnya, memudahkan pemain untuk terus mengembangkan kualitasnya.

''Jadi kalau libur kompetisi-pun kami tetap berkonsultasi dengan fisio soal menu gym. Nanti mereka akan berikan kepada kami menu gym yang cocok untuk menjaga kondisi selama libur kompetisi,'' terang Arthur saat dihubungi SPORTKU.

''Bahkan disaat seorang pemain merasa butuh untuk meningkatkan kemampuannya secara spesifik, misalnya menguatkan kaki, mereka akan berkonsultasi pada fisio. Nanti fisio akan memberikan menu latihan untuk bisa mencapai hasil yang diinginkan oleh pemain tersebut,'' tambahnya.

Tidak hanya itu, fasilitas penunjang seperti fitness centre juga nyatanya tidak dimiliki oleh sebagian besar klub di Indonesia. Padahal kenyataannya, fasilitas-fasilitas tersebut sangat penting bagi seorang pesepakbola profesional.

''Dulu waktu di Swedia fasilitas mulai dari kolam air panas, kolam air dingin, kolam renang, tempat fitnes itu ada semua. Bukan buat gaya-gayaan, tapi memang fasilitas itu semua kan sangat penting buat menjaga kondisi pemain,'' terang Bimas Sakti.

Meski demikian, Bima Sakti juga mengerti benar kalau tidak semudah itu untuk memaksa klub di Indonesia menyediakan semua fasilitas yang dimiliki klub-klub profesional di Eropa. Untuk itu diperlukan perhatian dari semua pihak untuk bisa mewujudkan semua hal tersebut demi kemajuan sepak bola Indonesia.

''Tapi ini juga jangan dijadikan sebagai alat untuk saling menyalahkan. Kita semua harus duduk bersama, semua stake holder sepak bola, bukan cuma PSSI saja atau klub saja, tapi pemerintah dan sejumlah pihak lainnya juga harus hadir di situ. Kita harus pikirkan, bagaimana caranya agar bisa mewujudkan semua ini, karena memang hal-hal semacam ini penting bila kita ingin mencapai prestasi,'' tegas Bima.

Benar memang yang dikatakan Bima, meski nantinya hanya satu dua nama pemain saja yang bisa menembus level dunia, tetap saja ada nama besar Indonesia yang akan mereka bawa. Karena itu, sangat penting bagi semua stake holder sepak bola untuk bisa duduk bersama dan mewujudkan cita-cita bangsa yang sudah puluhan tahun tak juga bisa terlaksana.

Baca juga
Bersama Luis Milla, PSSI Rancang Filosofi Sepak Bola Indonesia
Jangan Mimpikan Piala Dunia, Bila Tak Peduli Pemain Muda

  • facebook share
  • twitter shere

RELATED NEWS

Kebangkitan Toyota Team Indonesia 2017

Kebangkitan Toyota Team Indonesia 2017

TOPIC OF THE WEEK
Sepak Terjang Zarco di MotoGP

Sepak Terjang Zarco di MotoGP

TOPIC OF THE WEEK
Wasit Rusak Liga Champions Eropa

Wasit Rusak Liga Champions Eropa

TOPIC OF THE WEEK
Aksi 'Tipu-tipu' Pebalap ARRC

Aksi 'Tipu-tipu' Pebalap ARRC

TOPIC OF THE WEEK

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company