Tekad Perenang Tanpa Kaki di Ajang Renang Dunia

Text : Maya Soeparwoto | Photo / Video : Reuters | Editor: Andi Wahyudi | 15 June 2017

Tekad Kuat Perenang Tanpa Kaki

SPORTKU.COM

Kehilangan anggota tubuh bukan akhir dari segala cita-cita. Malek Mohammad kini berjuang untuk mimpinya.

A blessing in disguise, kemalangan yang berujung keindahan. Sebuah frasa yang tepat disematkan untuk seorang Malek Mohammad. Beberapa ranjau darat yang memisahkan kaki Malek Mohammad dengan tubuhnya justru membuat dirinya menemukan hasrat hidupnya untuk menggeluti dunia renang di Afghanistan.

Saat itu ia berusia 11 tahun hendak saat mengumpulkan kayu bakar di sebuah lahan kosong di Kabul, kota yang hingga kini masih berusaha pulih dari perang saudara selama bertahun-tahun.

"Ketika saya kehilangan kaki saya ... saya dalam kondisi yang mengerikan karena tidak tahu tentang masa depan saya dan saya merasa sangat buruk," ujar Mohammad yang kini berusia 24, menceritakan kepada Reuters saat dia beristirahat setelah latihan berenang pada pagi hari di Kabul.

Dihadapkan pada masa depan yang tidak pasti di sebuah negara yang dipenuhi para korban perang dengan penderitaan yang terus-menerus, kehidupan Mohammad berubah ketika seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat mengatur agar dia menerima perawatan, terapi fisik, dan pendidikan di Amerika Serikat.

Di sanalah Mohammad pertama kali belajar berenang, dan memasukkannya ke jalur yang menjadi harapannya bisa meraih sukses  di Paralimpiade Musim Panas 2020 Tokyo.

"Saya berharap bisa dipilih di sana untuk mewakili negara saya, karena komunitas masyarakat yang diamputasi menaruh harapan pada saya," kata Mohammad.

Impiannya untuk berkompetisi di Olimpiade telah pupus sebelumnya, saat ia gagal melakukan cut untuk pertandingan musim panas di London pada tahun 2012. Dia berharap dapat tampil prima di World Para Swimming Championships di Mexico City pada bulan September mendatang dan akan membantunya merealisasikan mimpinya.

Mohammad mengatakan bahwa beberapa aplikasi persyaratannya untuk ajang di Meksiko nanti telah terganjal oleh rincian konflik mengenai dokumen tanda pengenalnya. Sebuah masalah umum di Afghanistan di mana banyak orang, termasuk Mohammad, tidak tahu tanggal lahir dan informasi mereka yang sebenarnya.

Anggota tim berharap untuk mengikuti Abbas Karimi berusia 18 tahun, yang baru-baru ini memenuhi syarat untuk ajang Meksiko. Karimi kini tinggal dan berlatih di Amerika Serikat.

Kurangnya sumber daya untuk program pelatihan kelas dunia menyulitkan anggota tim renang paralimpiade Afghanistan yang tidak memiliki akses terhadap fasilitas dan dukungan internasional.

Tiga anggota tim, dimana semuanya adalah atlet dengan amputasi kaki akibat dari luka perang, berlatih di kolam renang umum kecil dengan minim dukungan dari pemerintah.

Mereka dilatih oleh Mohammad Jawad, mantan atlet pelempar lembing yang kini menjadi relawan untuk membantu para atlet paralimpiade.

"Malek adalah pribadi yang berbakat dan dia telah berkompetisi di kompetisi internasional, tapi kali ini jika dia melakukan usaha terbaiknya, Insya Allah, saya yakin dia juga bisa mencapai hal-hal hebat untuk negaranya di Olimpiade," kata Jawad.

Kaki palsunya (prosthetic legs) mulai dipakai setelah delapan tahun, dan sebuah klinik di Amerika Serikat telah menawarkan untuk memberikan perawatan.

Permohonan Mohammad untuk visa Amerika ditolak tahun lalu, bagaimanapun, Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa dia tidak membuktikan bahwa dia bersedia kembali ke Afghanistan.

Dia berusaha mengajukan permohonan visa kembali, namun dengan beberapa kasus banyaknya penduduk Afghanistan yang menggunakan visa untuk mencari suaka di Barat, tak menjamin bahwa dia akan bisa mendapatkan perawatan yang dia butuhkan.

Tidak peduli apa yang terjadi, Mohammad mengatakan kolam renang telah menjadi tempat yang nyaman, karena saat berada dalam air ia tidak pernah merasa kehilangan kakinya.

"Memenangkan atau kehilangan permainan tidak penting bagi saya karena ini adalah kebanggaan bagi saya bahwa meski kehilangan kaki, saya bisa buktikan bahwa saya bisa berenang dan rasa rileks saya rasakan di air," katanya.

Malek kini telah menjadi selebriti di Afghanistan dan dunia, dengan bangga menyebutkan saat dia bertemu dengan mantan presiden AS George Bush.

Kisah pedih tentu masih menggelayut dalam benak keluarganya. Mereka mengungkapkan keterkejutannya tentang bagaimana kemalangan kakinya yang justru berakhir mengubah hidupnya.

"Saya putus asa dan menangis," kata ibunya, Bibi Sabza Gul. "Bayangkan saat Anda melihat anak Anda kehilangan dua kaki dan berlumuran darah. Sekarang kenangan mengerikan itu telah pudar," katanya.

"Saya sangat senang melihat anak saya dapat memperbaiki hari demi hari dalam karirnya, kini dia dapat membantu saudara perempuan dan saudara laki-lakinya dan mendorong mereka dalam dunia olahraga. Kini tak ada lagi kekhawatiran saya untuk Malek," ujar sang Ibunda.

  • facebook share

RELATED NEWS

Renang Indonesia Pecahkan Rekor ASEAN

Renang Indonesia Pecahkan Rekor ASEAN

SWIMMING
Emas Pertama Indonesia

Emas Pertama Indonesia

SWIMMING
Perginya Legenda Renang Indonesia

Perginya Legenda Renang Indonesia

SWIMMING
Seleksi Prsi Untuk Sea Games

Seleksi Prsi Untuk Sea Games

SWIMMING

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company