Lesotho: Surga Tersembunyi Bersepeda Gunung

Text : Adi Supriyatna | Photo / Video : Dan Milner | Editor: Andi Wahyudi | Media Source: Outsideonline.com | 24 June 2017

Surga Tersembunyi Bersepeda Gunung

SPORTKU.COM

Meski belum dikenal, Lesotho memiliki potensi yang luar biasa untuk bersepeda gunung, sebagaimana yang dikisahkan Dan Milner.

Pada bulan April 2017, saya bergabung dengan rider gunung Kevin Landry dan Claudio Caluori untuk mengendarai dan memotret selama enam hari, menempuh jarak sekitar 192km melintasi negara Lesotho yang terkurung daratan, di Afrika Selatan. Perjalanan kami disatukan oleh penyelenggara lomba balap sepeda Lesotho Sky, yang mencoba memperkenalkan potensi pariwisata daerah ini dari sisi bersepeda gunung.

Mereka memiliki cara yang mudah. Dimulai di Air Terjun Maletsunyane yang setinggi 630 kaki, di tengah negeri ini, kami menemukan titik terbaik bersepeda gunung antara puncak di ketinggaian 10 ribu kaki, di sepanjang lembah-lembah liar, dan kota-kota terpencil yang tak terhitung jumlahnya.

Lesotho adalah negara miskin dan sangat bergantung pada tetangganya, Afrika Selatan, untuk kemajuan ekonomi. Bahkan balapan 100-rider Lesotho Sky, yang dimulai pada 2011 dan sedang berlangsung lagi musim gugur ini, terhambat oleh minimnya infrastruktur di negara tersebut. Padahal, lansekap Lesotho sangatlah indah. 

Mission Aviation Fellowship (MAF), yang mengakui potensi ekonomi yang dapat dibawa oleh pariwisata, mendukung perjalanan kami dan menerbangkan kami dan sepeda kami ke titik awal kami di dekat Semonkong, di bagian tengah negara ini. Lesotho memiliki lebih dari 20 landasan terbang kecil yang pada awalnya dibuat untuk membantu ekspor wol dan saat ini banyak digunakan oleh layanan dokter terbang, seperti MAF.

lesotho-surga-tersembunyi-bersepeda-47750612444f26b.jpg

Perjalanan enam hari kami dimulai di Maletsunyane Gorge, tempat wisata paling terkenal di negara ini. Kami menghabiskan lima hari berikutnya mengendarai melalui pemandangan yang mempesona. Tapi tidak sekali pun kami bertemu turis lain.

Kepala desa Makhaleng Michael Ramashamole menghabiskan dua jam untuk menceritakan tentang masa lalu Lesotho kepada kami di rumahnya.

Selama perjalanan, kami bersepeda sekitar 40-50km, dan kami melakukan pendakian lebih dari 3 ribu kaki. Beberapa diantaranya bisa kami lalu dengan sepeda. Tapi beberapa bagian lainnya begitu curam dan penuh dengan batu-batu besar sehingga kami harus mengangkat sepeda.

Selama perjalanan, akomodasi kami cukup bervariasi, mulai dari pondok-pondok komersial mewah di Semonkong dan Roma hingga berkemah di lantai bekas pos perdagangan, seperti ini di desa Nykosoba. 

Seluruh perjalanan kami dipimpin oleh Ishak Molapo, seorang rider lokal yang mengenakan selimut wol tradisional dan balaclavas dari China. Molapo menjelajahi medan dengan ahli dan membawa kami melewati puluhan desa setempat.

Di sini, Molapo yang berusia 22 tahun membersihkan kuku kuda selama 15 tahun. Kuda merupakan bagian integral kehidupan di pedesaan Lesotho, dan sementara sebagian besar secara tradisional digunakan sebagai hewan pekerja. Ishak sekarang mencari nafkah sebagian besar sebagai pemandu kuda untuk kunjungan wisata di kampung asalnya, Semonkong.

lesotho-surga-tersembunyi-bersepeda-1246154d1bbcb28.jpg

Puncak Lesotho cukup tinggi untuk mendapatkan salju selama musim dingin - dari bulan Juni sampai September. Bahkan di bulan April, awan yang gelap dan guntur yang gemuruh, menandakan kedatangan badai yang segera terjadi, membuat kami harus bergegas untuk mencari perlindungan di kota berikutnya.

Dengan tidak adanya wisma atau tempat perdagangan yang tersedia untuk akomodasi pada malam ketiga, kami berkemah di sebuah lembah terpencil yang digunakan oleh raja untuk melepas ternaknya.

Negara ini, hanya seukuran Massachusetts, menawarkan medan liar yang terasa terpencil dan sangat terpencil. Setiap lintasan yang kami lewati membuka satu pemandangan yang baru.

Sekitar 40 persen penduduk Lesotho hidup di bawah garis kemiskinan. Jauh dari berlian dan pabrik permodalannya, penduduk pedesaan bertahan hidup dengan pertanian subsisten.

Tanah Lesotho dimiliki oleh rajanya, Letsie III, namun rakyatnya secara terbuka memberikan sewa untuk pertanian subsisten. Perjalanan kami membawa kami melewati padang gurun, ladang ternak, dan ladang jagung dan sorgum.

Pegunungan Lesotho mencapai puncaknya pada ketinggian 11.424 kaki, dengan seluruh negara berada di atas 4.500 kaki. Bersepeda di sini terasa sesak dengan memanjat dan tebing-tebing yang menakjubkan.

Bersepeda gunung masih merupakan olahraga yang baru di Lesotho. Tapi disambut dengan penuh semangat. 



  • facebook share

RELATED NEWS

Alexandre Fayolle Raih 2 Gelar

Alexandre Fayolle Raih 2 Gelar

DOWNHILL
Kriss Kyle Beraksi dengan MTB

Kriss Kyle Beraksi dengan MTB

ENDURO
Petualangan Clementz dkk di Alpen

Petualangan Clementz dkk di Alpen

ENDURO
Tim UBL-69er Belum Puas

Tim UBL-69er Belum Puas

CROSS COUNTRY

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company