5 Kota Paling Ramah Sepeda di Dunia

Text : Adi Supriyatna | Photo / Video : Wired.com | Editor: Andi Wahyudi | Media Source: wired.com | 26 June 2017

SPORTKU.COM

Kembali menuju paradigma, sepeda sebagai transportasi urban modern, terus berlanjut. Di seluruh dunia, manusia telah menemukan kembali manfaat bersepeda.

Untuk itu, sejumlah kota merespons dengan membangun infrastruktur untuk melayani dan menjaganya agar tetap aman.

Dengan Indeks Kota Ramah Sepeda Copenhagenize 2017, lembaga Copenhagenize Design Co memiliki peringkat 136 kota di dunia dan mengidentifikasi kota teratas dengan menggunakan 14 parameter.

Bersepeda di kota, terlepas dari topografi ataupun iklim, adalah bisnis yang bagus. Di Kopenhagen, populasi bersepeda menyumbang US$261 juta atau sekitar Rp3,3 triliun per tahun untuk penghematan dana kesehatan masyarakat. Nilai itu cukup untuk melunasi biaya infrastruktur sepeda yang dilindungi kurang dari lima tahun.

Dalam Indeks Kota Ramah Sepeda empat tahunan, pada tahun 2017 menunjukkan banyak kejutan. Kopenhagen memegang tempat pertama karena investasi yang besar dalam bersepeda sebagai transportasi. Utrecht mempesona dengan investasi dan inovasi, menggeser Amsterdam ke posisi ketiga.

Sembilan kota, dari 20 besar pada 2015, juga telah naik peringkat, diantaranya Munich, Helsinki dan Tokyo kembali setelah absen. Tahun ini Oslo bersinar terang. Meskipun terletak di perbukitan dan musim dingin yang panjang, ibu kota Norwegia itu fokus untuk mengatasi kemacetan lalu-lintas dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan infrastruktur dan fasilitas bersepeda.

Berikut 5 kota di dunia yang paling ramah dengan sepeda:

1. Kopenhagen, Denmark
Di tengah kompetisi antara Kopenhagen, Amsterdam dan Utrecht di puncak Indeks yang tetap berlangsung ketat, jelas sekali bahwa ibukota Denmark ini terus mengembangkan dirinya sebagai kota yang ramah sepeda. Kota ini telah menginvestasikan US$150 juta (sekitar Rp1,9 triliun) untuk infrastruktur dan fasilitas bersepeda selama dekade terakhir. Kota ini juga memiliki 16 jembatan baru untuk sepeda dan pejalan kaki yang dibangun atau sedang dibangun. Delapan di antaranya telah dibuka sejak tahun 2015.

Sejak tahun 2015 saja, Kopenhagen telah menyelesaikan jalur sepeda Havneringen - Harbor Ring, yang memungkinkan warga kota untuk menyusuri seluruh pelabuhan, mengendarai sistem lampu lalu-lintas baru yang mendeteksi dan memprioritaskan pengendara sepeda, meluncurkan tanda kemacetan lalu- lintas digital untuk memperbaiki arus untuk melalui kota, dan membuka rute superhighway sepeda yang baru.

Kini, 62 persen penduduk Kopenhagen mengendarai sepeda setiap hari untuk bekerja atau ke sekolah di kota itu dan hanya sembilan persen yang mengendarai kendaraan bermotor.

Kopenhagen mungkin menjadi kota sepeda yang dirancang dan sangat kompleks. Namun kota ini masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kemacetan di jalur sepeda - bahkan yang terluas - akan menjadi masalah kecuali bila kota itu mengalokasikan lebih banyak ruang jalan untuk bentuk transportasi yang dominan di kota. Dan hal itu perlu membendung arus pengendara bermotor yang menyerang kota dari pinggiran kota setiap harinya.

2. Utretch, Belanda
Salah satu kota yang lebih kecil dalam daftar ini, Utrecht terus mengesankan dan meluncur, melewati Amsterdam ke tempat kedua. Saat kota-kota di Belanda memiliki kecenderungan untuk mempertahankan tingkat bersepeda mereka daripada bekerja untuk memperbaiki diri, Utrecht malah bertekad untuk melawan tren itu.

Jembatan Dafne Schippersbrug yang dirancang secara unik adalah contoh yang bagus. Rencana kota yang sedang berjalan untuk membangun 33ribu tempat parkir sepeda di Central Station pada tahun 2020 adalah hal yang lain. 12 ribu tempat yang ada saat ini rupanya tidak cukup lagi.

"Jalan-jalan sepeda" adalah standar di banyak kota di Belanda. Namun Utrecht memiliki jalan negara terpanjang di negara ini, 3,7mil atau sekitar 5,9km - dengan adanya rencana untuk penambahan. Kota ini telah menciptakan konsep parkir pop-up untuk sepeda dan mereka memasang "Flo" - sebuah sistem deteksi kecepatan yang digabungkan dengan kios digital yang mampu membaca setiap kecepatan pengendara sepeda dan membantu mereka untuk bisa lebih cepat.

3. Amsterdam, Belanda
Melihat Utrecht yang merapat ke tempat kedua menunjukkan Amsterdam perlu memperbaiki dirinya. Status quo-nya luar biasa, namun kota ini gagal melakukan kemajuan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu kekhawatirannya adalah kenaikan jumlah skuter yang cepat – 8 ribu di tahun 2007, 35 ribu pada tahun lalu.

Amsterdam memiliki rencana untuk pengembangan proyek urbanisme yang mengesankan dan pembangunan. Perbaikan infrastruktur di belakang Central Station juga disambut baik, seperti koneksi yang ada di bawah Museum Rijks beberapa tahun yang lalu. Tapi masih ada ruang untuk perbaikan, mengingat banyaknya jenis transportasi yang bersaing di kota berpenduduk padat itu.

Seperti Kopenhagen, Amsterdam memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengasumsikan dan mempertahankan posisi kepemimpinannya. Menempatkan sepeda di kota - agenda politik yang jauh lebih banyak daripada sekarang ini - akan diperlukan jika Amsterdam ingin memperkuat visinya sebagai kota sepeda.

4. Strasbourg, Perancis
Selama beberapa dekade, Strasbourg telah menjadi kota bersepeda utama di Perancis, dengan sedikit kompetitor. Paris, Bordeaux dan Nantes memang telah membuat kemajuan pesat. Namun Strasbourg telah menanggapi.

Kota ini juga menjadi kota pertama di Perancis yang mencapai 16 persen pangsa modal untuk perjalanan sepeda. Sistem Velhop telah membawa konsep berbagi sepeda ke tingkat berikutnya, bahkan mensubsidi sepeda kargo untuk warga yang mengangkut barang.

Seperti banyak kota lainnya, Strasbourg merencanakan jaringan "superhighways sepeda" dengan tiga rute cincin dan beberapa rute radial ke daerah pinggiran kota dan kota-kota di sekitarnya. Mereka juga membangun identitas visual modern dan penunjuk arah untuk jaringan VeloStras, untuk memastikan sepeda sebagai transportasi yang setara dengan transportasi umum lainnya.

Seperti Utrecht dan Amsterdam, tantangan utama Strasbourg adalah menyelesaikan desain infrastruktur yang seragam di seluruh kota.

5. Malmö, Swedia
Sejak tahun 2015, Malmö terus fokus mengukuhkan sepeda sebagai transportasi di kota. Yang menggembirakan adalah pembukaan Cykelhuset atau Bicycle House: Perumahan yang mengakomodasi sepeda di seluruh bangunan, yang mendorong kehidupan tanpa mobil. Di sebelahnya, Bicycle Hotel, menyediakan wisatawan modern dengan akomodasi serupa di kota yang ramah sepeda itu.

Malmö sedang mencari cara untuk menambah sistem berbagi sepeda dan infrastrukturnya, mendistribusikan sepeda kargo dari stasiun kereta pusatnya, dan mengarahkan pengumpulan sampah dengan dua roda. Feri baru, antara Malmö dan Kopenhagen, akan memperkuat wisata sepeda di wilayah ini.

Jembatan Dafne Schippersbrug di Kota Utrecht
5-kota-paling-ramah-125900cb61115f5.jpg

 

  • facebook share

RELATED NEWS

Tukar Guling Bayern-Dortmund

Tukar Guling Bayern-Dortmund

TOP 5
Lima Pemilik Nomor 7 MU

Lima Pemilik Nomor 7 MU

TOP 5
5 Kejadian Menarik GP Singapura

5 Kejadian Menarik GP Singapura

TOP 5
5 Merek Helm MotoGP

5 Merek Helm MotoGP

TOP 5

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company