Yeyen Tumena: Indonesia Tirulah Jerman

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Greg Bima,Sonny Hastara | Editor: Andi Wahyudi | 9 July 2017

Sepak Bola Indonesia Tirulah Jerman

SPORTKU.COM

Masih ingat Yeyen Tumena? Mantan bek Timnas Indonesia ini cerita banyak hal soal pembinaan sepak bola nasional. Berikut rangkumannya.

Yeyen Tumena merupakan salah satu pemain hebat yang pernah lahir di Indonesia. Pria yang kini berusia 41 tahun ini merupakan salah satu pemain andalan Timnas Indonesia era 90-an, bersanding bersama permain seperti Kurniawan Dwi Yulianto, Sugiantoro, Bima Sakti dll.

Mantan pemain yang berposisi sebagai bek ini merupakan salah satu pemain jebolan PSSI Primavera, sebuah program pembinaan usia dini yang diprakasai oleh PSSI untuk dikirim belajar ke Italia dan menjadi andalan Timnas Indonesia saat itu.

Kini, Yeyen yang juga merupakan salah satu legenda klub Persebaya ini disibukan dengan berbagai kegiatan. Seperti menjadi komentator bola, brand ambassador beberapa produk kesehatan, hingga pernah ditunjuk sebagai salah satu pemandu bakat PSSI.

Yeyen sendiri pada, Sabtu (8/7) terlihat di acara Allianz Junior Football Camp (AJFC) 2017. Kehadiran mantan pemain Persija tersebut untuk mendampingi Giovane Elber—mantan penyerang FC Bayern Munich- yang kini didaulat menjadi duta kegiatan AJFC di Asia, termasuk di Indonesia.

SPORTKU sempat berbincang dengan Yeyen terkait kegiatannya saat masih menjadi salah satu pemandu bakat PSSI. Yeyen pun menceritakan banyak hal.

Berikut petikan wawancara dengan Yeyen Tumena:

Anda pernah ditugaskan untuk menjadi pemandu bakat oleh PSSI. Apa tugas pokoknya dari pekerjaan tersebut?

Kalau selama ini saya di plot di usia 14, 16, dan 23. Langkah pertama yang diterapkan adalah filosofi sepak bola dari pelatih kepala atau dari direktur teknis. Kemudian baru keluar spesifikasi pemain mana yang cocok.

Dalam pemilihan pemain tersebut, saya harus keliling 24 provinsi selama tiga bulan. Jadi setiap tiga hari berpindah-pindah. Kemudian kriteria pemain itu juga ditentukan. Seleksi pertama dilakukan oleh Ascab (Assosiasi PSSI Cabang) atau Asprov (Assosiasi Provinsi) ada ribuan, ratusan. Nantinya bila sudah ada sejumlah 50 anak, pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia baru datang melakukan seleksi.

Kenapa ini dilakukan? Karena selama ini ketika seleksi dimungkinkan pelatih daerah banyak yang melakukan penitipan pemain dapat terkikis. Kemudian langsung dilakukan seleksi oleh kami.

Apa yang jadi penilaian PSSI dalam proses tersebut?

Ada tiga hal yang menjadi acuan. Pertama adalah great talent is not best player. Pemain baik yang kita lihat diseleksi belum tentu akan menjadi pemain top, pemain baik. Sebagai contoh, ketika kita ke Papua, banyak sekali pemain yang kita pilih ada 8 sampai 9 pemain yang terpilih saat itu, sementara daerah lain hanya dua sampai tiga saja.

Ketika kita masuk di training camp di Jakarta, pemain asal Papua mengalami degradasi mental karena banyak hal, faktor daerah misalnya. Mereka minder dan hanya bermain dengan kelompok mereka saja. Mereka baik hanya mereka di daerahnya, tapi tak baik ketika bergabung bersama tim nasional.

Yang kedua, What you see is not what you get. Apa yang kita lihat di lapangan, belum tentu itu yang kita dapatkan ketika TC di Jakarta. Ketika di daerah mereka bermain dengan sangat luar biasa, ketika sudah dikumpulkan mungkin level dia di bawah pemain lain.

Akhirnya yang akan terpilih sebagai pemain yang terpilih adalah yang berasal dari Jabodetabek. Karena saat ini Jabodetabek-lah yang konsisten mengadakan kompetisi kelompok usia dini di Indonesia. Mulai dari usia 12 sampe 16.

Sementara teman-teman di daerah kasihan mereka. Tidak ada kompetisi sehingga mereka punya kesempatan seperti temannya di Jabodetabek. Sebenarnya banyak juga klub yang membawa pemain dari daerah ke Jabodetabek karena klub tersebut mengambil dari daerah-daerah. Kita banyak pemain dari timur itu sekolah di Jakarta.

Ketiga, jangan mengagungkan sertifikat dan merendahkan karakter daerah. Sertifikat bukan segalanya, misalnya saya punya lisensi A, B, C dan seterusnya bukanlah yang terbaik. Tapi kalo saya tidak bekerja, saya tidak melatih tidak benar maka saya tidak ada artinya dengan pelatih kampung yang tidak memiliki lisensi. Mungkin pelatih kampung itu lebih banyak menghasilkan pemain tim nasional dibandingkan saya.

Baca juga
Peluang Ezra Tampil Bela Timnas Indonesia

Pemain muda Indonesia mewakili Timnas U-16 dan U-22 di ajang yang akan mereka ikuti masing-masing. Bagaimana peluangnya?

Kalau dari kelompok usia muda, untuk Asia, Indonesia masih bisa bicara. Kalau untuk 19 itu sudah mulai susah. Ini karena pemain kita kurang kompetisi. Kompetisi kita hanya sampai usia 16. Padahal di atas usia 16, mereka minimal harus bermain sebanyak 30 game pertahun. Apakah sudah dapat sebanyak itu?

Usia 19 apa lagi. Untuk itu PSSI harus melakukan terobosan baru. Klub-klub profesional wajib membuat tim U-19. Hari ini (Sabtu,8/7) kick off perdana pembukaanya U-19 Liga 1 dengan pertandingan Persija melawan Sriwijaya.

Kemudian untuk usia 22, Luis Milla adalah pilihan yang tepat. Karena sepak bola di Spanyol itu mengandalkan kecepatan gak harus tinggi badan, tapi semua butuh waktu. kita gak boleh instan.

Kita selalu bicara hari ini datang, hari ini juara. Ya gak boleh. Apapun hasil mereka di Sea Games atau di Asian Games patut kita apresiasi karena mengubah karakter, mengubah filosofi pemain itu gak gampang. Mengubah mindset pemain Indonesia dengan pemain yang di Eropa beda.

Bagaimana sih cara agar anak-anak di Indonesia bisa mencintai sepak bola Indoensia dan mereka yakin bahwa sepak bola bisa menjadi sumber mata pencaharian, apa masukannya buat PSSI?

Kita lihat di Jerman atau Spanyol itu kan pembinaan bagus. Selain itu mereka juga punya icon, seperti Elber (klub Bayern munich asal Jerman) Setiap tim atau setiap klub itu punya ikon untuk bisa memrepresentasikan klub tersebut ke masyarakat atau ke fans mereka.

Nah icon-icon itu adalah pemain terpilih. Nah itu tentunya bisa membagikan pengalamannya. Mungkin Indonesia harus sudah mulai begitu. Tim profesional di sini harus sudah mulai pemain mereka dijadikan speaker untuk anak-anak muda ini sebagai contoh pemain bola yang sudah sukses. Ini bisa menjadi motivasi pemain-pemain muda.

Baca juga
Kontribusi Allianz untuk Sepakbola Indonesia

  • facebook share

RELATED NEWS

Manfaat AR bagi Industri Sepakbola

Manfaat AR bagi Industri Sepakbola

HOT ISSUE
IRC Siapkan Ban Balap Radial

IRC Siapkan Ban Balap Radial

HOT ISSUE
Asal Usul Kartu Merah-Kuning

Asal Usul Kartu Merah-Kuning

HOT ISSUE
Mengenang Kesaktian Gunnar Nordahl

Mengenang Kesaktian Gunnar Nordahl

HOT ISSUE

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company