'Mantra' Federer dan Keagungan Wimbledon

Text : Maya Soeparwoto | Photo / Video : AP | 17 July 2017

'Mantra' Federer dan Keagungan Wimbledon

SPORTKU.COM

Tradisi keagungan Wimbledon seakan berkolaborasi dengan megahnya kemenangan Federer, Minggu (16/7/2017).

Cukup satu kali bersama Roger Federer di Wimbledon, tersirat kesempurnaan. Kita menjadi saksi dari hasil akhir  dan segala ketidak mungkinan namun seakan mimpi mengantarnya menjadi nyata.

Apa yang telah membuat laga menentukan ini secara mengejutkan terjadi, dikonfirmasi dengan kemenangan straight setnya atas Marin Cilic yang bisa dibilang dalam sikon yang menguntungkan Federer, cedera pada kakinya.  

Keraguan sempat hinggap akan kemampuan dirinya. Keraguan bahwa lima tahun tanpa gelar Wimbledon, meski pernah sekali mendominasi dimana ia menang lima kali berturut-turut. Kesangsian bahwa enam bulan setelah kekalahan semifinal setahun yang lalu, oleh pemain yang berusia lebih muda satu dekade, bukanlah akhir masa pensiun di benaknya.

Lihat penampilan Federer tahun lalu dan seterusnya, adalah catatan penting tentang apa yang telah ditempuhnya. Jelas Federer telah melakukannya. Terbukti pada final Wimbledon ini, dia bisa mengendalikan lapangan dan menemukan pukulan-pukulan jitu dan sudut pandang yang hampir tidak bisa Anda bayangkan.

Irama hidup Federer yang berwarna layaknya seorang ayah yang pernah melukai lututnya saat memandikan anak-anaknya, jatuh tertelungkup di lapangan saat mengejar sia-sia forehand Milos Raonic, pernah berambut gondrong dengan ekor kuda dan kemudian merayap kembali di lapangan rumput Center Court seakan menyatu dengan segala kemenangannya.

Penurunan karirnya yang berlangsung lama adalah nyata dan benar. Setelah keteguhannya hancur oleh Rafael Nadal pada 2008, dua gelar Wimbledon datang, tapi mereka tersandung oleh dua kekalahan perempat final dan digantikan oleh penghinaan di putaran kedua, kalah oleh peringkat 116 dunia.

Federer boelh dibilang sebagai pemain yang memiliki 'sihir', berhasil menarik keluar Andy Murray dalam semifinal dua tahun lalu, tapi mantranya tak bertahan lama, sebagaimana kejutan Novak Djokovic dalam final.

Pada awal tahun ini, meski keraguan ada dimana-mana tapi juga hinggap dalam pikirannya sendiri. Membuka awal tahun ke final Australia Terbuka yang menakjubkan melawan Nadal pada bulan Januari, rasanya seperti gema kelompok musik The Beatles saat melakukan reformasi untuk pertunjukan satu kali pada tahun 1979, dan sekarang bukan lagi tur hits terbesar, tapi sebuah keajaiban baru. Bukan juga versi perbaikan kegagalan masa lal, tapi sejarah dibuat lagi oleh Federer.

 

Baca Juga:
Federer Tumbangkan Nadal Untuk Raih Gelar Grand Slam Ke-18


Dia adalah orang pertama dalam sejarah tenis yang mencapai final Grand Slam tunggal sebanyak 11 kali, dan petenis pria pertama di Wimbledon yang memenangkan delapan gelar tunggal. Dia memiliki gelar Grand Slam ke-19, empat lebih banyak dari Nadal, tujuh lebih dari Djokovic, pemenang di dua final Wimbledon sebelumnya.

Sebagai pemain, Federer dikenal sebagai pemain yang tak kenal ampun pada lawan. Dalam kemenangan semifinalnya atas Tomas Berdych, dia memukul forehand dengan gaya squash, melewati lintas lapangan yang membuat lawannya susah payah lakukan pendekatan pukulan ideal dan berdiri tepat di tempat yang seharusnya yaitu berada di net, tapi Federer juastru membuatnya tak berguna sekaligus dipermalukan.

Terjadi di game ke-10 set terakhir, meski servis sudah diamankan, namun dalam pertandingan ia tidak peduli untuk menang.

Nasib malang menimpa Cilic yang menangis sebelum satu jam pertandingan final dimainkan, sebuah set dan sebuah keterpurukan, harapannya mengarah pada rintihan sakitnya sebelum pertandingan. Ironisnya penderitaan Cilic justru berujung pada tuntasnya laga final sekaligus sebuah perayaan bagi sang juara Federer.

Menghadapi Federer juga berarti harus menerima gempuran gemuruhnya penonton yang menanti-nanti sang jagoannya bisa merebut kembali juara.

Wimbledon hadir dengan bersandar pada tradisi agungnya, berpakaian rapi seperti para tamu di pesta kebun Gatsby, menghabiskan waktu lama di cermin dan menceritakan betapa baiknya penampilannya. Bagi beberapa orang, Federer adalah bagian dari itu: blazer monogram yang adalah simbol dirinya di lapangan pada 2006 dan 2007, gaya cardigan ala tahun 1930an dengan kancing berwarna emas.

Selebriti dunia hadir meriuhkan pesta tenis paling bergengsi di dunia. Sebut saja dari PM Inggris Theresa May, Duchess of Cambrige Kate Middleton bersama sang suami Pangeran William, hingga artis Uma thurman, Hugh Grant dan sederet bintang-bintang berkilau lainnya. Sudah menjadi ritual resmi bahwa para selebriti meramaikan keseruan Wimbledon.

Di Center Court pada hari-hari pertandingan seperti ini, hubungan aura dan kondisi lapangan menjadi terkait. Bangunan arena yang menggabungkan desain tahun 1920-an dengan atap abad ke-21, Federer adalah keduanya sebuah estetika masa lampau, membentangkan backhand, memilih servis volley jitu, dan seorang pria yang asyik nyaman dengan dunia digital, 7.6 juta pengikut Twitter-nya dimana 70 kali dari Cilic.

Ini terjadi pada setiap hari Minggu di setiap tahunnya Centre Court menjadi hidup. Federer kini berada pada ritmenya untuk ke-11 kalinya. Stadion seakan telah menentukan dia, dan dia sanggup menjawabnya.

Dewi fortuna seakan menggelayut pada Federer kali ini. Ini adalah pertama kalinya dalam hampir delapan tahun bahwa dia tidak harus bermain dengan salah satu 'The Big Four' dalam perjalanan ke final.

Masih ada keraguan yang terjadi pada hari Minggu pagi, sama seperti saat Berdych ditawari enam break point di semifinal. Ada kekhawatiran di antara pecinta tenis tentang apa yang mungkin dilakukan Cilic setelah loncatan prestasi AS Terbuka pada tahun 2014 dan telah mencapai final pada bulan terakhir di Queen, setidaknya sampai pertandingan dimulai dan sebuah prosesi pun terjadi.

Tapi ada juga keyakinan lagi, dengan narasi sepanjang dua minggu ini kemungkinan akan berbalik pada prospek dia melakukan semuanya lagi. Semua itu tentunya terlepas pada satu hal yang telah terjadi, yaiyu kekecewaan warga Inggris setelah cedera pinggul Murray dan juga perjuangan Konta yang ditumbangkan oleh juara lama lainnya.

"Kadang saya mengira saya sedang bermimpi," kata Federer saat mengalahkan Pete Sampras, yang memenangkan empat gelar sebelumnya, untuk mencapai perempatfinal di sini pada 2001.

Satu lagi sensasi yang dirasakannya pada hari Minggu kemarin, sambil melihat Federer mengangkat supremasi tofi yang berusia 16 tahun, seakan terlahir kembali.  Center Court sekali lagi menampilkan bintangnya.


 

 

 Baca Juga:
Federer Tuntaskan Penderitaan Cilic, Raih Gelar Wimbledon Kedelapan
Muguruza Taklukan Venus, Raih Mahkota Wimbledon pertama
Performa Ajaib, Federer Menuju Final Wimbledon

  • facebook share
  • twitter shere

RELATED NEWS

Federer Raih Gelar Wimbledon Kedelapan

Federer Raih Gelar Wimbledon Kedelapan

TENNIS
Muguruza, Catatan Karir Sang Juara

Muguruza, Catatan Karir Sang Juara

TENNIS
Wimbledon Pertama Muguruza, Venus Runner-Up

Wimbledon Pertama Muguruza, Venus Runner-Up

TENNIS
Performa Ajaib, Federer Menuju Final

Performa Ajaib, Federer Menuju Final

TENNIS

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company