Cassano, Pemain bola yang tidak pernah dewasa

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Sportsworldghana | Editor: Dedi Hermawan | Media Source: republikaonline | 20 July 2017

SPORTKU.COM

Pemain anyar Verona, Antonio Cassano menyatakan pensiun dari sepakbola, namun selang berapa waktu ia membatalkan keputusan tersebut.

Sebagai pesepakbola, pemain kelahiran Bari ini dikategorikan pemain yang hebat. Sewaktu muda, Ia sempat membuat publik Italia percaya bahwa ada pemuda harapan bangsa telah lahir dan akan membawa Tim Nasional (Timnas) Italia berjaya di masa depan.

Bahkan kepercayaan tersebut kian menebal mengingat hari kelahiran Cassano yang tercatat pada 12 Juli 1982 atau tepat saat Italia memenangkan Piala Dunia. Hal ini tentu akan menjadi kisah yang ikonik untuk bisa diceritakan di masa depan. Barangkali, pemuda inilah yang akan membawa Gli Azzuri kembali menjuarai Piala Dunia.

Hal tersebut tak lepas dari penampilannya di klub Bari FC. Sejak mengawali debutnya pada tahun 1999, penampilan Cassano selalu berhasil membuat decak kagum. Puncaknya adalah ketika ia berhasil membawa Bari menang 2-1 atas Inter Milan.

Dalam pertandingan tersebut pria bertinggi badan 175 cm ini sukses mencetak gol penentu kemenangan di menit ke-88 dengan mengiring bola dari jarak 40 kaki dari gawang lalu mengecoh dua bek terbaik dunia saat itu, Christian Panucci dan Laurent Blanc lalu kemudian diakhiri tembakan dummy untuk mengelabui kiper Inter Milan, Fabrizio Ferron.

Dengan usia yang masih muda namun memiliki skill di atas rata-rata usianya tersebut membuat dirinya pun menjadi incaran banyak klub. Namun, AS Roma yang beruntung mendapatkan jasa sang pemain. Meski demikian, Giallorossi mau tak mau merogoh kocek sebesar 30 juta euro saat ini. Hal ini mencatatkan nama Cassano sebagai pemain muda termahal di dunia saat itu.

Di musim pertama Cassano langsung nyetel dengan 5 gol, sebuah jumlah gol yang signifikan mengingat usianya saat itu masih berada di angka 19 tahun. Bersama Roma inilah dapat dikatakan sebagai puncak karirnya —meski kerap dinodai oleh tingkah konyolnya di mana membuat reputasi pria yang kini berusia 35 tahun tersebut dikenal sebagai pemain Bengal. Pasalnya setelah pergi dari klub asal Ibukota tersebut, permainan pria yang sempat dijuluki Permata dari Bari ini inkonsisten.

Baca juga
Kokpit Halo Digunakan F1 2018

Ketika di Real Madrid, ia berseteru dengan Fabio Capello. Tercatat inilah perseteruan lanjutan setelah sebelumnya kedua orang tersebut bermasalah ketika sama-sama di Roma. Selama dua musim, ia otomatis hanya menjadi pajangan di bangku cadangan Real Madrid.

Hal ini membuat Cassano tersingkir dari Timnas Italia di Piala Dunia 2006 silam. Pemuda yang dahulu digadang-gadang menjadi harapan bagi Italia tak dibawa oleh Marcelo Lippi. Namun, Italia pada akhirnya kembali menjadi juara dunia. Tapi tanpa si pemuda itu, pemuda yang dulu disanjung atas kepiawaiannya mendribble bola itu.

Cassano kemudian mengaku bahwa keputusan pindah ke Madrid yang berujung pada tidak dipanggilnya ia ke Timnas Italia adalah keputusan yang paling buruk yang pernah dia buat.

“Kesalahan terbesar menurut saya adalah ketika berkostum Real Madrid. Saya pernah melakukan apapun di dunia sepak bola dan hal ini yang langsung merusak karier saya. Itu merupakan penyesalan terbesar bagi saya. Saat itu saya senang karena tidak terikat dengan segala jenis aturan dan saya berhasrat untuk pulang ke rumah. Ibu saya bahkan tidak senang ketika saya berada di Madrid." kenang Cassano.

Namun meski begitu, Cassano pun akhirnya kembali ke Italia dengan harapan bisa memperbaiki karirnya sebagai pesepakbola. Klub yang dituju adalah Sampdoria dengan status sebagai pemain pinjaman. Bersama La Samp, ia pun menemukan performa baiknya ketika berseragam Sampdoria.

Selama kurang lebih tiga tahun bersama klub tersebut, Cassano sukses mengantarkan Sampdoria sebagai finalis Coppa Italia pada musim 2008/2009.

Baca juga
Dimas Ekky Tatap Sirkuit Estoril

Atas penampilan apiknya tersebut, Cassano pun kembali dipanggil ke Timnas Italia setelah lama absen. Sayang, ia tak dibawa oleh Roberto Donadoni untuk membela Gli Azzuri di putaran final Piala Eropa 2008 lalu meski sering tampil di babak kualifikasi.

AC Milan pun kepincut untuk mendatangkan Cassano ke San Siro. Di klub inilah pemain yang dikenal memiliki nomor punggung 99 ini meraih scudetto pertamanya sebagai pemain. Sayang, ia sendiri bukanlah pemain utama Rossoneri, bahkan hal inilah yang membuatnya ditendang ke klub rival, Inter Milan.

Saat di Inter, usia Cassano termasuk tua sebagai pemain, yakni 30 tahun. Namun tingkahnya masih seperti anak kecil. Bukan menjadi panutan, Ia justru berseteru dengan Manajer Nerazurri saat itu, Andrea Stramaccioni. Hal ini membuat pemain yang sempat dianugerahi sebagai pemain muda terbaik Serie A itu hanya bermain dalam waktu satu tahun saja.

Setelah itu Cassano melanjutkan karirnya di Parma. Bersama klub tersebut, Cassano kembali tampil memikat dan membawa klub asal Gialloblu lolos ke Liga Europa dan dimasukkan sebagai pemain yang pantas tampil di Piala Dunia 2016 untuk membela Italia.

Sayang, kesialan kembali menimpa Cassano. klub tersebut bangkrut dan akhirnya ia kembali ke Sampdoria. Serta ia tak dipanggil (lagi) untuk membela Timnas Italia. Hal inilah yang membuat dirinya tak sekalipun merasakan bermain di ajang empat tahunan tersebut.

Baca juga
PSSI Ingin Selamatkan Timnas Futsal

Bersama Sampdoria, kedatangan kedua Cassano berbeda saat kedatangan pertama. Statusnya hanya menjadi pemain cadangan. Tak hanya itu di pertengahan musim 2016/2017 lalu, ia dilepas oleh klub bahkan untuk latihan bersama tim muda Sampdoria untuj sekedar menjaga kondisi pun dilarang oleh Presiden Klub, Massimo Ferrero.

Kini di musim baru, Cassano pun menjalani kontrak baru bersama Hellas Verona. Namun, 10 hari setelah kontrak, ia memutuskan diri untuk pensiun. Alasannya lantaran dirinya merasa home sick karena jauh dari anak istrinya. Namun, beberapa waktu setelah memutuskan pensiun ia pun berikrar untuk kembali bermain dan siap menjalani satu musim penuh bersama klub yang bermain di Serie B tersebut.

"Setelah satu setengah tahun tinggal bersama keluarga saya, saya merindukan istri dan anak-anak saya. Istri saya kekuatan saya, dan dia mengatakan bahwa mereka tidak dapat melihat saya tidak bermain sepak bola," kata Cassano dikutip dari Republika, Rabu (19/7).

"Saya sempat jatuh, tapi saya ingin terus bermain. Terkadang saya membuat kesalahan. Sekarang saya ingin merasakan keajaiban terakhir dalam karier saya, saya ingin memiliki musim yang hebat bersama Verona. Masih banyak yang bisa saya berikan," sambungnya.

Tingkah polah Cassano kali ini menyisahkan dua hal yang unik. Bahwa ia kini telah berubah menjadi seorang ayah yang cinta keluarga, padahal di masa lalu sang pemain sempat membuat pengakuan mencengangkan dengan mengaku pernah meniduri ratusan wanita. Dan kedua adalah, bahwa kita jangan sampai lupa kalau sang pemain memiliki julukan Peter Pan dunia nyata, seorang pria yang tak pernah dewasa.

Baca juga
Susi Susanti: Jangan Memilah Lawan

  • facebook share

RELATED NEWS

Karel Abraham, Pebalap MotoGP 'Karbitan'

Karel Abraham, Pebalap MotoGP 'Karbitan'

PROFILE
Travic, Satukan Bikers Viar

Travic, Satukan Bikers Viar

PROFILE
Kaisar Sepakbola Franz Beckenbauer

Kaisar Sepakbola Franz Beckenbauer

PROFILE
Wahyu Nugroho Dalami Dua Peran

Wahyu Nugroho Dalami Dua Peran

PROFILE

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company