Didera Kecewa, Fachry Husaini Tetap Setia

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Huebrix | Editor: Andi Wahyudi | 31 July 2017

SPORTKU.COM

Fachry Husaini pernah dikecewakan sebanyak dua kali oleh hal yang paling dicintainya, yakni sepak bola. Meski demikian, ia tetap mencintainya.

Siapa yang tidak kenal dengan Fachry Husaini. Ketika aktif bermain sebagai seorang pesepak bola, ia merupakan salah satu playmaker terbaik yang pernah dimiliki oleh Tim Nasional (Timnas) Indonesia. Capaian tertingginya adalah mengantarkan Indonesia meraih medali perak di ajang SEA Games 1997.

Selama berkarir sebagai pemain bola, Fachry kadung terkenal sebagai pemain Pupuk Kalimantan Timur Galatama (kini Bontang FC) lantaran loyalitasnya bersama klub asal Bontang tersebut selama 9 musim di mana ia sukses membawa klub tersebut menjadi finalis pada Liga Indonesia musim 1999/2000.

Usai pensiun sebagai pemain, pria yang kini menjabat sebagai pelatih Timnas U-16 ini pun tak bisa jauh dari sepak bola. Ia pun terjun sebagai assisten pelatih di PKT Bontang (Kini Bontang FC) dan sempat melatih beberapa tim seperti menjadi pelatih Diklat Manado, PON Kaltim dan assisten Timnas Indonesia U-23.

Kesuksesan pelatih yang kini telah berusia 52 tahun saat membawa PON Kaltim meraih juara juara ketiga, membuatnya ditunjuk sebagai pelatih utama Bontang FC pada tahun 2008 silam menggantikan Mustaqim.

Naas, ketika Fachry dipercaya melatih klub yang Stadion Mulawarman itu terdegradasi pada musim ketiga atau saat Liga Super Indonesia memasuki musim 2010/2011. Hal tersebut terjadi bukan karena pria berkepala plontos itu tak becus mengurusi Bontang FC, namun lantaran adanya skandal pengaturan skor yang melanda klub yang ia tangani.

Menurut Fachry, ia mengaku disodori tawaran untuk mengalah agar Bontang FC bisa mendapatkan imbalan dana yang bisa digunakan untuk membayar tunggakan gaji pemain. Namun pemain yang sempat membela Persegres Gresik United tersebut menolak. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi persepakbolaan tanah air.

Baca juga
Misi Ketum Baru MBC Jakarta

Saat itu tak ada satu pun yang memperdulikan ucapan mantan kapten Timnas Indonesia ini, termasuk PSSI selaku federasi sepak bola tertinggi di Indonesia. Namun, pada akhirnya di tahun 2013, ucapan Fachry tersbukti, Bontang FC terindikasi melakukan pengaturan skor di ajang Indonesia Premier League (IPL) dan harus terdegradasi ke Liga Nusantara.

Hal inilah yang membuat Fachry kecewa dan sempat absen lama di dunia sepak bola dan memilih fokus untuk bekerja di PT Pupuk Kaltim. Meski demikian, atas dasar cintanya kepada dunia yang telah membesarkan namanya tersebut, ia tetap berada di lingkup sepak bola dengan melatih di SSB Pelangi Mandau yang merupakan akademi sepak bola milik PT Pupuk Kaltim tersebut.

Akhirnya, Mantan pemain timnas era 90-an itu dipilih oleh Badan Tim Nasional (BTN) menjadi pelatih U-14 dan U-17 pada 10 Maret 2014 dan akhirnya sempat naik level menukangi Timnas U-16 dan U-19 untuk menggantikan Indra Sjafri setahun setelahnya.

Fachry pun kembali antusias lantaran tugas yang diembannya cukup berat yakni mengantarkan Timnas U-16 dan U-19 menjuarai piala AFF U-16 dan AFF U-19.

Meski demikian, Fachry menunjukan kemampuannya dalam meracik strategi. Terbukti ia sempat mengalahkan Timnas Jepang U-16 dengan skor 2-1.

Baca juga
Toyota Yaris WRC Berjaya di Finlandia

Sayang, kisah heroiknya tersebut tertutup lantaran FIFA memberikan sanksi kepada Indonesia. Hal ini membuat Fachry kecewa untuk kedua kalinya lantaran secara tak langsung posisinya sebagai pelatih timnas hilang lantaran PSSI secara resmi membubarkan timnas sepak bola Indonesia U-16 dan U-19 pada Juni 2015.

"Sejak menerima tugas sebagai pelatih U-16 dan U-19, saya tidak pernah menyangka tugas saya berakhir dengan cara seperti ini," ujar Fachry ketika mengetahui dampak dari sanksi FIFA terhadap dirinya itu.

Kekecewaan Fachry masih berlanjut hingga tahun 2016. Usai FIFA mencabut sanksi bagi PSSI, mantan pemain Timnas era 90-an ini sempat ditunjuk oleh Plt Ketua Umum PSSI, Hinca Pandjaitan untuk melatih Timnas U-19, namun saat itu ia menolak lantaran ingin fokus kepada pekerjaan dan keluarga.

“Sekarang, saatnya saya harus memilih sepakbola yang telah membesarkan nama saya atau berkarya di perusahaan dan keluarga, Sejak saya masuk di PKT Bontang pada 1998 atau 9 tahun bekerja di sini, separuhnya habis untuk sepak bola. Baik saat masih jadi pemain atau pelatih, termasuk beberapa kali ketika menjadi asisten pelatih timnas yang harus meninggalkan pekerjaan kantor,” ungkap Fachry.

Baca juga
Test Bike: Thrill Vanquish Elite

“Tampaknya saya harus berpisah dan mulai memikirkan karier di kantor, Sekarang saya menjabat sebagai superintendent atau setingkat Kabag Sekretaris di PKT Bontang. Seharusnya dengan masa kerja selama 18 tahun, seharusnya jabatan saya sudah di atasnya (superintendent), Saya tidak menyesali keputusan yang telah berlalu. Jalan hidup yang pernah saya jalani juga sebuah pilihan hidup karena saya cinta sepak bola. Sekarang, penolakan jadi pelatih timnas juga pilihan hidup,” sambungnya.

Bahkan keputusan untuk meninggalkan sepak bola sempat membuat Fachry juga menolak tawaran untuk melatih Persela Lamongan dan PS TNI beberapa waktu lalu.

Namun, rasa cinta yang begitu besar kepada sepak bola membuat Fachry gagal menjalani sumpahnya untuk meninggalkan sepak bola dan kembali melatih Timnas U-16 pada Januari 2017 silam. Ia pun ditunjuk berbarengan dengan Luis Milla (sebagai pelatih Timnas Senior dan U-23) dan Indra Sjafri (Timnas U-19).

Di titik inilah, Fachry akhirnya mampu menunjukan kebolehannya melatih dengan membawa Timnas U-16 memenangkan Turnamen Tien Phong Plastic Cup 2017 pada Juni 2017 silam. Di mana pelatih yang sempat membela Lampung Putera ini terpilih menjadi pelatih terbaik di turnamen tersebut.

Sayang, di Piala AFF U-16, Timnas gagal. Namun meski begitu, Fachry masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dengan membawa Timnas U-16 tampil di Piala Asia U-16 2018 mendatang yang babak kualifkasinya akan mulai bergulir pada 16-24 September 2017 mendatang.

Menilik dari pengalaman rasa kecewa yang dialami selama ini, mampukah Fachry mengantarkan Timnas U-16 meraih prestasi tertinggi? Paling tidak untuk membuktikan bahwa pilihannya untuk mencintai sepak bola adalah hal yang tepat. Semoga.

Baca juga
Pebalap DAM Honda Podium Tertinggi

  • facebook share

RELATED NEWS

Lima Pesepakbola Kembar Fenomenal

Lima Pesepakbola Kembar Fenomenal

HOT ISSUE
Derbi yang Tertukar

Derbi yang Tertukar

HOT ISSUE
Lima Pemain Bintang Jebolan Atalanta

Lima Pemain Bintang Jebolan Atalanta

HOT ISSUE
Indonesia Naik ke Urutan Keempat

Indonesia Naik ke Urutan Keempat

HOT ISSUE

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company