Mungkinkah Atalanta Lanjutkan Keajaiban?

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Wikipedia | Editor: Andi Wahyudi | 10 August 2017

SPORTKU.COM

Akankah kesuksesan Atalanta di musim lalu itu bisa terulang di musim ini mengingat mereka ditinggal banyak punggawa penting.

Atalanta sukses mengejutkan Serie A musim 2016/2017 silam dengan menempati urutan keempat di klasemen akhir. Dengan mengumpulkan poin sebanyak 72, klub asal Bergamo tersebut akhirnya bisa kembali tampil di Eropa setelah 26 tahun absen.

Tak heran bila Atalanta sempat dijuluki Leicester City dari Italia lantaran berhasil menghancurkan dominasi papan atas yang nyaris setiap musimnya selalu diisi oleh tim dengan tradisi juara. Persamaan yang mencolok keduanya adalah baik Atalanta maupun Leicester tidak mengandalkan pemain berlabel bintang.

Sayang, julukan Leicester yang disematkan oleh Atalanta sebagai pujian bisa saja berubah menjadi boomerang. Pasalnya, sebagaimana yang kita ketahui bersama, usai memenangkan Liga Premier, The Fox—julukan Leicester—langsung terpuruk dengan hanya menempati urutan ke-12 di klasemen akhir dan memecat Claudio Ranieri.

Keruntuhan Leicester di musim lalu terjadi lantaran mereka kehilangan beberapa pemain andalan mereka di musim lalu. Termasuk harus merelakan N'Golo Kante yang hijrah ke Chelsea—dan membuat klub asal London tersebut menjadi juara.


Begitu pun yang terjadi dengan Atalanta di musim ini. Mereka kehilangan dua pemain andalannya di musim lalu, yakni Andrea Conti dan Franck Kessie yang hijrah ke klub kaya baru, AC Milan. Kedua pemain merupakan kunci permainan Orobici—julukan Atalanta—musim lalu.

Conti dikenal sebagai salah satu bek tajam di Eropa dengan mencetak 8 gol serta menyumbang 5 assist dalam 33 pertandingan di Serie A. Tak ada yang menyangka bahwa usianya baru mencapai 23 tahun, namun memiliki kontibusi yang dapat dikatakan tak sedikit bagi Atalanta.


Hal senada juga dicatatkan oleh Kessie, bahkan pemain Pantai Gading ini tampil luar biasa di musim lalu lantaran sukses menjalankan perannya sebagai gelandang bertahan. Padahal di awal musim, pemain yang baru berusia 20 tahun ini hanya berperan sebagai cadangan, namun lantaran ia sukses mencetak empat gol di tiga laga awal membuat Gian Piero Gasperini, Manajer Atalanta tak ragu menjadikan ia sebagai punggawa utama.


Meski demikian, ada perbedaan mencolok antara Leicester dan Atalanta dalam menyikapi kepergian pemainnya. The Fox justru membeli banyak pemain baru dan mahal, namun kontribusinya kurang.  Sebagai contoh adalah pembelian Nampalys Mendy dari Nice seharga 13 juta Poundsterling atau sekitar Rp235 miliar namun hanya diberikan kesempatan bermain sebanyak 4 kali di Liga Premier.

Sementara, manajemen Atalanta justru melakukan langkah yang dianggap brilian, yakni dengan menghabiskan uang hasil transfer untuk membeli sebuah stadion, yakni Stadio Atleti Azzurri d'Italia dari Pemerintah Italia.

Stadion yang memang sudah lama menjadi markas Atalanta ini dibeli dengan harga yang cukup murah, yakni 8,6 juta euro saja atau sekitar Rp138 miliar. Dana tersebut pun dapat dikatakan hanya sepertiga dari dana transfer hasil penjualan Conti ke Milan yang mencapai 24 juta euro atau sekitar Rp366 miliar.

Dengan demikian, Atalanta pun mengikuti jejak tiga tim Italia lainnya yang memiliki stadion sendiri, yakni Juventus, Udinese and Sassuolo. Dengan kepemilikan stadion, mereka pun bisa merenovasi stadion beserta fasilitas penunjangnya dalam rangka branding atau kegiatan komersil lainnya seperti yang dilakukan tiga tim lainnya yang dianggap sukses.

Baca juga
Montella Kritisi Penggunaan Teknologi VAR

Dikutip dari Republika, setelah memiliki stadion sendiri, Juventus sukses meraup keuntungan sebesar 50 juta euro per musim. Sebelumnya mereka hanya mendapatkan 15 juta euro saja lantaran pemasukan dari tiket dibagi dua dengan pemerintah daerah selaku pemilik stadion.

Selain itu setelah kehilangan pemain andalan mereka, Atalanta tidak serta merta membuang-buang uang hanya untuk transfer. Mengutip data dari Tranfermarkt, mereka hanya mengeluarkan biaya sebesar 25 juta euro atau sekitar Rp393 Miliar untuk mendatangkan 12 pemain baru (termasuk untuk pemain U-21 mereka).

Pemain termahal yang didatangkan Atalanta musim ini adalah Timothy Castagne dari Genk dengan harga 5 juta euro atau sekitar Rp78 juta saja. Ia diproyeksikan untuk mengantikan Conti.

Selain itu, Atalanta juga sukses mendatangkan pemain dengan tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun untuk mendapatkan João Schmidt (Sau Paulo) dan Nicolas Haas (FC luzern). Bahkan mendapatkan Riccardo Orsolini dari Juventus dengan status sebagai pemain pinjaman.

Dengan demikian, Atalanta akan tetap sama seperti musim lalu dengan mengandalkan pemain muda yang mayoritas merupakan pemain hasil akademi mereka. Bahkan dari 12 rekrutan baru La Dea, rata-rata umurnya adalah 23 tahun.

Dapat dikatakan transfer Atalanta merupakan sebuah investasi jangka panjang. Maka tak heran kalau Atalanta baru-baru ini dinilai sebagai salah satu klub dengan pembinaan pemain muda terbaik di dunia. Bahkan yang menilai adalah CIES Football Observatory, sebuah lembaga riset sepak bola kredibel yang berbasis Eropa yang tugasnya adalah mengumpulkan dan menganalisis data pemain bola.

Faktanya adalah apa yang dilakukan oleh Atalanta kali ini lebih persis dengan apa yang dilakukan oleh Sassuolo dari pada Leicester. Klub berjuluk Neroverdi ini juga sempat mengejutkan Serie A dengan pemain muda yang berporos kepada sosok Domenico Berardi. Mereka juga sukses tampil di Eropa.

Namun, ketika Berardi cedera, mereka langsung terjun bebas dan nyaris terdegradasi musim lalu. Hal tersebut terjadi lantaran kedalam skuat yang dimiliki oleh Sassuolo begitu jomplang ketika ditinggal punggawanya.

Atalanta memang telah kehilangan Kessie, Conti, bahkan Roberto Gagliardini di pertengahan musim lalu ke Inter. Tentu penggemar mereka pun memiliki ketakutan tersendiri apakah tim yang mereka dukung bisa konsisten di musim depan atau terjerembab seperti Sassuolo.

Meski demikian, Atalanta sendiri dapat dikatakan memiliki kuda-kuda untuk bisa tampil apik musim depan. Hal itu terjadi lantaran pemain andalan mereka sekaligus top skor musim lalu, Papu Gomez memilih bertahan. Mereka pun masih memiliki pemain seperti Mattia Caldara dan Leonardo Spinazzola setelah Juventus memperpanjang status mereka di klub berjuluk Nerazurri tersebut.


Musim lalu setelah kehilangan Gagliardini Atalanta masih bisa kokoh, kini setelah kehilangan Kessie dan Conti apakah mereka akan tetap sama? Jawabannya mungkin tentatif, bila menilik dari hasil laga pre season, sebenarnya klub yang berdiri tahun 1907 ini tampil baik, bahkan sempat mengalahkan Borrusia Dortmund dengan skor 1-0.

Meski demikian, satu hal yang mesti diketahui bersama adalah bahwa Atalanta kini tengah berproses dengan membangun sebuah pondasi tim yang di masa depan mampu bersaing dengan tim-tim terbaik di Serie A.

Baca juga
Paddy Lowe Kecewa dengan Williams

  • facebook share

RELATED NEWS

Aktivitas Marquez-Pedrosa di Tangerang

Aktivitas Marquez-Pedrosa di Tangerang

HOT ISSUE
Michelin Indonesia Gandeng Marquez-Pedrosa

Michelin Indonesia Gandeng Marquez-Pedrosa

HOT ISSUE
Marquez-Pedrosa Gaungkan Safety Riding

Marquez-Pedrosa Gaungkan Safety Riding

HOT ISSUE
Ed Sheeran Kecelakaan Sepeda

Ed Sheeran Kecelakaan Sepeda

HOT ISSUE

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company