Satdion Arthur Ashe, Monumen Keberagaman dan Toleransi

Text : Maya Soeparwoto | 11 September 2017

Stadion Arthur Ashe, Monumen Keberagaman

SPORTKU.COM

20 tahun sudah stadion Arthur Ashe menjadi saksi keberagaman dan persatuan semangat dunia olahraga tenis.

Ketika Sloane Stephens dan Madison Keys berjalan ke Stadion Arthur Ashe pada hari Sabtu untuk final AS Terbuka, mereka melewati sebuah pernyataan kecil namun bermakna dalam yang tercetak di lapangan: 'Arthur Ashe Stadium 20 Years'.

Mereka tak lagi harus berjuang untuk bisa bertarung di stadion ini, tapi pada 20 tahun yang lalu ketika Chanda Rubin memainkan pertandingan pertama di lapangan bergengsi, adalah tongakt estafet kesuksesan bagi generasi penerus di waktu mendatang.

Saat ketegangan konflik rasial melanda Amerika Serikat, AS Terbuka telah merayakan keragaman dan toleransi baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan.

Adalah 60 tahun yang lalu saat Althea Gibson memenangkan A.S. Terbuka pertamanya dan 20 tahun yang lalu sejak turnamen tenis terbesar ini diganti namanya untuk menghormati Arthur Ashe, pemain, tokoh kemanusiaan dan seorang aktivis.

Upaya untuk membuka laga keberagaman olahraga tersebut tercermin secara dramatis dalam jajaran petenis Amerika minggu ini dari keempat titik di semifinal kelas wanita. Dua dari pemain tersebut, Venus Williams dan Stephens petenis Afrika-Amerika dan Keys petenis kulit putih.

"Saya berpikir tak ada kata lain untuk menggambarkannya daripada "menakjubkan" untuk saya dan Maddie (Madison Keys)," kata Stephens setelah mengalahkan Venus Williams untuk mencapai final Grand Slam pertamanya.

Baca Juga:
Amerika Miliki Juara Baru Grand Slam, Sloane Stephens

Stephens mengutarakan bahwa generasinya mengikuti jejak Venus Williams yang mempresentasikan permainan dengan sangat baik sebagai wanita Afrika-Amerika. "Maddie dan saya di sini untuk bergabung dengan Venus dan mewakilinya, sama seperti kehadiran Venus sebelumnya dan merasa terhormat berada di sini."

Sebelum Williams berkiprah, adalah Arthur Ashe pemenang tiga gelar Grand Slam. Dia adalah petenis kulit hitam pertama yang terpilih ke tim Piala Davis Amerika Serikat dan juga dianugerahi Presidential Medal of Freedom.

Pemandangan seorang pria kulit hitam di lapangan rumput Wimbledon, lapangan tanah liat Prancis Terbuka dan lapangan keras Australia dan AS Terbuka pernah menggetarkan sejarah yang kini menjadi rutinitas.

Arthur Ashe (kanan) saat menjuarai AS Terbuka 1968arthur-ashe-82464861d680950.jpg 

Petenis Afrika-Amerika yang karismatik Frances Tiafoe juga turut menghangatkan stadion Arthur Ashe saat ia melawan Roger Federer dalam sebuah laga menegangkan lima set di putaran pertama.

Kemeriahan itu menderu lagi pada hari Sabtu saat Stephens berhasil melewati Keys 6-3 6-0 untuk merebut gelar Grand Slam pertamanya.

Sebagai petenis Afrika-Amerika yang memainkan pertandingan pertama di Arthur Ashe, Rubin mengatakan bahwa dia sadar akan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekedar kontes olah raga tapi baru beberapa tahun kemudian dia benar-benar menghargai pentingnya momen itu.

Masih teringat saat upacara pembukaan malam 25 Agustus 1997, janda Ashe, Jeanne Moutoussamy-Ashe berbicara dan Whitney Houston bernyanyi. Tapi apa yang paling diingat Rubin adalah tentang kekecewaan kekalahan pertandingannya 6-4 6-0 atas Tamarine Tanasugarn. Pahitnya kegagalan pertandingan itu masih terasa.

"Saya menyadari hal itu tapi saya tidak memiliki perspektif seperti yang saya miliki saat ini." kata Rubin sembari mengingat pertandingan malam di bawah bayang-bayang stadion besar itu. Rubin mengingat kembali bahwa apa yang dia lakukan pada saat itu bukanlah penampilannya yang optimal. "Saya berada di level untuk bisa tampil baik di pertandingan pertama di Ashe tapi saya kecewa dengan hasilnya."

Pada hari yang sama, Venus Williams membuat debutnya di AS Terbuka mengalahkan Larisa Neiland dalam penampilan pertamanya di arena Arthur Ashe. Dua dekade kemudian gairah bermain di Ashe belum berkurang bagi Williams, yang masih tergelitik setiap kali ia melangkah ke lapangan.

"Tidak banyak perasaan yang mengagumkan saat bermain di bawah lampu stadion yang mengagumkan ini," kata Williams. "Dia (Ashe) bermain di saat dirinya tidak bisa hanya fokus pada tenis. Saya sangat diberkati untuk bisa fokus pada permainan. Tapi dia harus berjuang karena warna kulitnya. Tak terbayangkan tekanan yang dialaminya selama masa itu."

Sementara pemain seperti Venus dan Serena Williams, Stephens dan Keys memberikan inspirasi bagi generasi baru, Stadion Arthur Ashe juga berdiri sebagai monumen anugerah, toleransi dan keunggulan.

"Menamai stadion ini Arthur Ashe tidaklah signifikan," kata Martin Blackman, General Manager pembangunan ASTA. "Jika Anda memikirkan warisan tenis Amerika dan memikirkan seorang Althea Gibson dan Arthur Ashe, saya yakin Frances dan pemain lainnya mengetahui sejarah tenisnya."

Althea Gibson, pionir petenis kulit hitamarthur-ashe-6321850d6fdd8e6.jpg

 

Baca Juga:
Permainan Dominan, Nadal Raih Gelar Ketiga AS Terbuka
Sloane Stephens, Dari Ranking 957 Menjadi Bintang AS Terbuka
 

 





 

  • facebook share

RELATED NEWS

Indonesia Siapkan Regulasi Motor Listrik

Indonesia Siapkan Regulasi Motor Listrik

HOT ISSUE
Ducati Tertarik Ben Spies

Ducati Tertarik Ben Spies

HOT ISSUE
FDR Dominasi Podium

FDR Dominasi Podium

HOT ISSUE
Kawasaki Siap Luncurkan Motor Terbaru

Kawasaki Siap Luncurkan Motor Terbaru

HOT ISSUE

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company