Red Flag Kontroversial di Seri 4 Kejurnas IRS 2017

Text : Suhartono | Editor: Dedi Hermawan | 16 October 2017

Red Flag Kontroversial Kejurnas IRS

SPORTKU.COM

Penyelenggaraan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Indospeed Race Series (IRS) selalu saja mendatangkan drama tersendiri. Seperti yang terjadi di Seri 4 kemarin.

Akhir pekan kemarin, 14-15 Oktober Sirkuit Sentul Bogor, Jawa Barat kembali menjadi tuan rumah gelaran bergengsi Kejurnas IRS 2017. Gelaran balap persembahan Indospeed Motorsport Club (IMC) ini memang selalu menghadirkan banyak drama di dalamnya yang semakin menarik untuk dibahas lebih mendalam.

Pada Seri 3 Agustus lalu, ajang balap Kejurnas IRS dihebohkan dengan isu adanya bahan bakar minyak (BBM) basi. Pertamax Turbo yang digunakan para pebalap terindikasi sudah tidak sesuai dengan standarisasi. Akibatnya, banyak pebalap yang mengalami mesin jebol bahkan lebih dari satu mesin yang harus mereka korbankan.

Nah, kali ini yang menyita banyak perhatian di Seri 4 Kejurnas IRS 2017 adalah mengenai munculnya red flag. Bendera merah yang dikibarkan marshall di akhir lap atau lap ke-12 di Kelas Kejurnas Sport 250cc menuai banyak kecaman. Banyak komentar yang menilai seharusnya bendera merah tersebut tidak keluar.

Sejak awal, jalannya Race 2 Kelas Sport 250cc memang sudah terlihat sengit. Persaingan antar pebalap yang mengikuti kelas ini terlihat pada terus bergantiannya posisi di barisan terdepan. Aksi saling overtake antar pebalap menjadi drama yang menarik. Hingga akhirnya di detik-detik terakhir, drama menghebokan muncul: balapan harus dihentikan dengan red flag.

Red flag dikibarkan oleh petugas sirkuit atau marshall menyusul kecelakaan yang dialami oleh Richard Taroreh di lap ke-12. Pebalap dari Yamaha Jasti Putra Usaha Jaya NHK FDR 549 Kaboci Racing Team tersebut kecelakaan di tikungan S kecil. Richard Taroreh mengalami highside hingga tubuhnya terpental.

Lucunya, red flag baru dikibarkan setelah bendera finish diangkat. Ketika bendera kotak-kotak hitam-putih itu dikibaskan  Sudarmono, pebalap Astra Motor Racing Team (ART) Jakarta yang disupport oleh ban FDR, menjadi yang pertama melintas garis finish. Diikuti oleh pebalap Manual Tech Kawasaki AM Fadli dan Rey Ratukore dari WR Super Battery Yamaha KYT TJM Racetech Racing Team.

Akan tetapi red flag membuat hasil Race 2 Kelas Kejurnas Sport 250cc berubah total. Pasalnya, lap 11 menjadi patokan race director untuk menentukan juara. Artinya, Rey menjadi jawara di Race 2 Kelas Sport 250cc dengan kemasan waktu 19menit 14.224detik. Tempat kedua ditempati A.M Fadli dengan gap 0.038detik. Sedangkan Richard Taroreh yang terjatuh dan tidak menyentuh garis finish menduduki tempat ketiga.

Baca Juga
Begini Kehidupan Mekanik MotoGP Yang Super Sibuk

Pengibaran red flag ini kemudian menjadi sorotan. Yang jadi perhatian adalah soal pengibaran bendera merah dilakukan setelah bendera finish, juga perlu atau tidaknya bendera merah itu dikibarkan.

Tidak sedikit yang menganggap pengibaran red flag setelah chequered flag tersebut sebagai lelucon. Memang aneh, bagaimana mungkin bendera merah dikeluarkan setelah balapan dianggap selesai? Apalagi, dari video yang beredar, ketika bendera finish itu diangkat sudah empat pebalap yang melewati garis finish.

Tepat atau tidaknya red flag dikeluarkan juga menjadi sorotan. Beberapa pebalap dan tim berpendapat bahwa seharusnya bendera merah dapat dikibarkan jika pebalap yang jatuh tersebut sama sekali tidak bergerak antara 5-10detik. Namun bukti di lapangan termasuk dari video yang didapatkan oleh tim SPORTKU.com, tidak sampai 10detik Richard Taroreh sudah melambaikan tangan.

"Petugas bendera finish mengibarkan bendera finish dan itu sudah dilewati oleh leader balap, artinya sah. Saya tidak tahu bagaimana koordinasinya. Kan dari S kecil ke finish lumayan jauh, cukuplah koordinasi pakai handie talkie (HT) dan mengganti bendera finish dengan bendera merah," beber Ergus,  Manager Honda Oei Racing Team.

Ergus juga menyebutkan bahwa dalam 5detik pebalap masih bisa bergerak. Setelah kecelakaan, pebalap juga tidak berada di lintasan alias di pinggir sirkuit. Selain itu, menurut Ergus, jarak dari tikungan S kecil menuju finish itu hampir setengah sirkuit Sentul. Hal ini terlalu lama ambil keputusan hingga keluarnya red flag.

"Di saat yang sama saat bendera finish berkibar, bendera merah menyusul dikibarkan. Seharusnya yang sudah melewati garis finish itu sah sebagai juara, yang belum itu diambil dari lap sebelumnya tidak termasuk yang DNF atau penyebab bendera merah berkibar. Kasus ini saya pernah ketahui dari pengalaman di ARRC Johor, Malaysia 2017," imbuh Ergus.

Yang lebih 'menarik' lagi dalam insiden ini adalah, meski terjatuh Richard Taroreh mendapatkan ‘durian runtuh’. Red flag dikibarkan oleh marshal akibat dirinya celaka dan gagal menyentuh finish. Tapi, ia justru naik podium ketiga dan mendapatkan poin.

"Logika simple "DNF" kok malah juara," cetus Ergus.

Senada dengan Ergus, Dendy yang merupakan Manager Team Sidrap Honda Daya KYT Nissin IRC Trijaya Racing juga menganggap jika red flag kali ini lucu. Menurut Dendy, kelucuannya ada pada posisi pebalap yang jatuh dan menyebabkan red flag justru podium. Sementara pebalap yang menyentuh garis finish justru terdepak dari podium.

"Lalu red flag keluar menjelang tikungan terakhir, tetapi di garis finish petugas mengeluarkan bendera finish. Dan juga seandainya gak ada red flag, kan pebalap yang lewat di tikungan S kecil sudah tidak kencang karena sudah ada bendera kuning. Jadi menurut saya keputusan ini aneh.”

“Sekarang kita ambil contoh, seandainya di last lap pebalap berada di posisi terdepan tetapi menjelang tikungan terakhir dia jatuh terus ada red flag, berarti dia akan juara 1 dong. Jadi menurut saya insiden kemarin itu bendera kuning saja cukup kok," urai Dendy.

Protes paling keras tentunya datang dari Astra Motor Racing Team Jakarta. Sebab pebalap mereka yang berhasil overtake Rey Ratukore sesaat sebelum menyentuh garis finish malah justru dianggap tidak sah. Berusaha mengajukan banding ke race director, namun tetap saja tidak bisa mengubah keputusan.

"Saya yang paling merasa dirugikan di sini. Menurut saya red flag tersebut juga belum tepat. Seharusnya yang sudah melewati bendera finish yang sah (sebagai juara),” ujar Sudarmono yang finish terdepan sebelum red flag.

Baca Juga
Heboh BBM Basi Panaskan Seri 3 Kejurnas IRS 2017

Di sisi lain, Fabrianus Balank yang merupakan pebalap dari Yamaha Yamalube Aspira Premio FSCM WJ72 EGP HDS Racing Team mengatakan jika red flag tersebut belum tepat. "Kalau menurut saya telat dan race director kurang sigap serta marshalnya (di garis finish) itu yang menjadi kontroversinya, penyampiannya jadi salah arti," ujar Balank.

"Marshal di pos masing-masing santai, race director tidak fokus melihat jalannya balapan dari awal lap dan akhir. Apa karena keterbatasan alat (kamera) atau bagaimana. Mungkin ada kali ya kameranya, tapi jarang ditonton. Apalagi kemarin kejadiannya di last lap dan tinggal beberapa tikungan," tegas Balank.

Mendapati banyak kecaman, Subhan Al Ghazali selaku pemilik tim yang dinaungi oleh Richard Taroreh merasa santai. "Saya kan orang baru di road race, jadi saya belum paham sepenuhnya. Tetapi intinya red flag itu pasti diperintahkan oleh orang yang berwenang dan mengetahui peraturanya, jadi hargai saja keputusan red flag tersebut. Artinya baru tahun ini kami ikut balap yang setidaknya lebih profesional, baru muncul iya, tapi memang sudah didesain jauh-jauh hari sebelum musim 2017," ungkap Baban sapaan akrabnya.

Pihak penyelenggara kemudian menjelaskan. "Mengenai bendera finish sudah berkibar lebih dulu lalu baru red flag, itu karena terjadi miskomunikasi. Tunggu release resmi saja dari Indospeed," ucap Eddy Horison selaku Race Director Kejurnas IRS 2017 saat dikonfirmasi oleh SPORTKU.com perihal red flag yang kontroversial tersebut.

Menurut Eddy Horison, red flag dikibarkan karena Richard baru melambaikan tangan atau bergerak di atas 5detik. Meski ditegaskan oleh Eddy Horison jika hal tersebut tidak menjadi patokan dalam mengeluarkan red flag. "Kondisi bahaya bagi korban, bukan patokan 5detik," timpal Eddy Horison.

"Kasus kemarin itu unik, tapi keputusan hasil balap itu kita harus hormati. Walaupun menurut saya ada kesalahan, tapi tetap harus kita hormati," ucap Ergus. "Mesti ada kejelasan dan peraturan tambahan, sebab ini baru kejadian pertama kali. Kita ini saling membutuhkan baik penyelenggara, regulator, peserta dan sponsor. Tidak ada gunanya jika saling menyalahkan, lebih berguna kita sepakat kejadian ini dijadikan pelajaran bersama dan kita buat peraturan tambahan. Karena balap di indonesia saat ini saya rasa mempunyai kompetisi yang terbaik di Asia." 

Sementara itu kecelakaan yang dialami Richard Taroreh tidak membuatnya cedera parah. Setelah mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak Bogor, Jawa Barat, pebalap Papua Barat ini sudah diijinkan pulang sejak tadi Minggu malam.

Semoga saja kejadian ini tidak memecah belah hubungan baik antar pebalap dan tim. Namanya balapan, sudah pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Namun, insiden red flag tersebut tetap harus dijelaskan dengan terang benderang.

Baca Juga
Sirkuit Tak Layak, Pebalap Jadi Korban. Siapa Yang Salah?

  • facebook share

RELATED NEWS

Sudarmono Samai Kisah Dovizioso

Sudarmono Samai Kisah Dovizioso

TOPIC OF THE WEEK
Di Balik Penampilan Cemerlang Sampdoria

Di Balik Penampilan Cemerlang Sampdoria

TOPIC OF THE WEEK
Rahasia Kesaktian City Musim Ini

Rahasia Kesaktian City Musim Ini

TOPIC OF THE WEEK
Integritas Felipe Massa

Integritas Felipe Massa

TOPIC OF THE WEEK

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company