Mempertanyakan Keabsahan Juara Bhayangkara FC

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Sepakbola.com | Editor: Dedi Hermawan | 9 November 2017

Mempertanyakan Keabsahan Juara Bhayangkara FC

SPORTKU.COM

Bhayangkara FC dipastikan juara Liga 1, namun mengundang kontroversi di baliknya. Sah kah status kampiun mereka?

Bhayangkara FC keluar sebagai juara untuk pertama kalinya di gelaran Liga 1 musim 2017 kali ini. Raihan tiga poin berkat kemenangan 3-1 atas Madura United di putaran ke-33 pada Rabu (8/11), memastikan The Guardian meraih 68 poin, unggul tiga angka dari Bali United yang menguntit di posisi kedua.

Bhayangkara dipastikan akan tetap juara meski kalah di pertandingan pamungkas melawan Persija Jakarta di pekan ke-34. Pasalnya, bila Bali United menang melawan Persegres Gresik United —dan membuat poin sama kuat menjadi 68, Evan Dimas dkk tetap menjadi kampiun lantaran unggul head to head atas tim berjuluk Serdadu Tridatu tersebut.

Namun kepastian kemenangan bagi Bhayangkara mengundang kontroversi. Sebab mereka dianggap diuntungkan oleh keputusan Komisi Disiplin (Komdis) PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang memberikan tiga angka tambahan bagi The Guardian.

Hal ini bermula dari Bhayangkara yang mengajukan protes kepada PT LIB lantaran mereka menganggap lawannya, Mitra Kukar menggunakan pemain tidak sah pada laga yang berkesudah imbang 1-1 pada 3 November 2017.

Adapun pemain Mitra Kukar yang dimaksud adalah Mohammed Sissoko. Mantan pemain Liverpool itu dianggap tidak boleh dimainkan lantaran menerima kartu merah dalam laga melawan Borneo FC pada 23 Oktober 2017 lalu.

Baca juga
Spaso Hattrick, Bhayangkara Diambang Juara

Komdis PSSI pun melalui surat surat no 112/L1/SK/KD-PSSI/X/2017 memberikan denda sebesar Rp10 juta dan larangan bermain sebanyak dua kali kepada Sissoko. Pengumuman itu tercantum dalam situs resmi PSSI pada tanggal 6 November 2017.

Hal tersebut tentu saja membuat Mitra Kukar keberatan. Pasalnya, selain pengumuman baru ditampilkan di situs PSSI tiga hari usai laga, mereka sebelumnya mendapat rilis dari PT LIB pada 3 November bahwa hanya Herwin Tri Saputra saja yang dilarang bermain.

Rilis PT LIB

kasus-bhayangkara-fc-sepakbola-com--22702c46f861df5.jpg

Sementara menurunkan Sissoko dianggap Mitra Kukar dalam laga melawan Bhayangkara adalah sah. Pasalnya, mantan pemain Juventus itu sebelumnya sudah tak bermain di pertandingan melawan Persib. Selain itu mereka juga mengikuti regulasi yang dibuat oleh PT Liga.

Menilik dari regulasi pada pasal 57 tentang Kartu Kuning dan Kartu Merah dimana dijelaskan pada ayat tiga yang berbunyi “Pemain yang memperoleh kartu merah langsung tidak diperkenankan untuk bermain 1 kali Pertandingan pada Pertandingan berikutnya,”.

Selain itu, besaran denda yang diterima oleh Mitra Kukar juga lebih besar dari regulasi Liga 1. Dalam pasal 57 ayat 7 menyatakan bahwa “Pemain yang mendapatkan kartu merah (langsung) dikenakan denda sebesar Rp. 5.000.000.”

Pasal 57 ayat 3

kasus-bhayangkara-fc-sepakbola-com--95076870a65ac07.jpg

Pasal 57 ayat 7
kasus-bhayangkara-fc-sepakbola-com--9876960c9c0d978.jpg

Dari atas bisa disimpulkan bahwa Sissoko hanya memperoleh satu kali larangan bertanding (saat melawan Persib) dan Mitra Kukar seharusnya hanya didenda Rp5 juta saja. Di sini jelas bahwa komdis berlebihan dalam menghukum klub asal Kalimantan Timur itu.

Menilik dari hal ini, Bhayangkara dapat dikatakan belum 100 persen juara mengingat Mitra Kukar memiliki kemungkinan besar untuk menang bila melakukan banding. Dengan demikian untuk menjadi juara seutuhnya, Bhayangkara harus menang melawan Persija di pertandingan terakhir.

PT LIB Konsisten untuk Inkonsisten

PT LIB sebagai penyelenggara liga memang dianggap konsisten untuk inkonsisten. Sejak awal mereka kerap mengubah peraturan yang mereka buat sendiri. Sebagai contoh, di awal musim peserta Liga 1 diwajibkan memainkan pemain U-23, namun akhirnya keputusan itu dibatalkan saat pertengahan musim.

Sebelumnya untuk mempersiapkan ajang SEA Games 2017 dan kualifikasi Piala Asia U-23, setiap klub peserta Liga 1 wajib memainkan tiga pemain U-23 sebagai starter. Namun ketika klub mulai terbiasa menggunakan pemain U-23, tiba-tiba peraturan diubah.

Klub boleh tidak memainkan pemain U-23 lantaran banyak pemain muda mereka yang memperkuat Timnas Indonesia U-23. Namun akhirnya setelah usai SEA Games dan kualifikasi Piala Asia U-23 dimana keduanya berujung dengan kegagalan, PT LIB justru menangguhkan peraturan itu sampai akhir musim.

Padahal sebelumnya klub peserta Liga 1 telah mengontrak setidaknya 7 pemain di bawah usia 23 tahun dan membuang banyak pemain andalan yang usianya lebih matang. Namun pengorbanan mererka itu dianggap tak berarti oleh PT LIB.

Tentunya, PT LIB selaku penyelenggara liga harus melakukan perubahan dalam diri mereka sendiri terlebih dahulu. Janganlah menghukum klub karena dianggap melanggar, namun di sisi lain PT LIB melanggar peraturan yang mereka buat sendiri. 

Baca juga
Dua Peslalom TTI Berebut Gelar

  • facebook share

RELATED NEWS

Salah Bakal Segera ke Madrid

Salah Bakal Segera ke Madrid

BALL
Wasit Wanita Bukan Sekedar Pemanis

Wasit Wanita Bukan Sekedar Pemanis

BALL
Di Balik Perkelahian Comvalius-Lilipaly

Di Balik Perkelahian Comvalius-Lilipaly

BALL
Pato Ingin Kembali ke Milan

Pato Ingin Kembali ke Milan

BALL

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company