Eusebio Di Francesco, Sosok Jenius Dari Pescara

Text : Aga Buge Katiara | Photo / Video : Istimewa | Editor: Dedi Hermawan | 14 April 2018

Sosok Jenius Dari Pescara

SPORTKU.COM

Eusebio Di Francesco merupakan sosok sentral yang membuat AS Roma bisa menyingkirkan Barcelona di Liga Champions. Siapa dia?

Di Francesco memang menjadi sosok kunci dalam kemenangan Roma atas Barcelona di leg kedua perempat final Liga Champions, Rabu (11/4) dini hari WIB. Di bawah arahannya, I Giallorossi mampu melakukan comeback luar biasa setelah di pertemuan pertama kalah dengan skor 1-4.

Sebelum memegang kendali kursi kepelatihan Roma, Di Francesco memang sama sekali tidak dikenal oleh publik karena ia hanya melatih tim semenjana di Italia. Ia hanya melatih Virtus Lanciano, Pescara, Lecce, Sassuolo yang merupakan klub medioker di kompetisi negeri pizza tersebut.

Mengenal lebih dekat Di Francesco

eusebio-di-francesco-99390ece7520c04.jpg

Pria kelahiran Pescara, Italia ini mengawali kariernya bersama Empoli pada medio 1987-1991 silam. Bersama klub berjuluk Azzurri tersebut ia mencatatkan 102 penampilan dengan sumbangan tiga gol.

Kemudian kariernya berlanjut ke Lucchese, Piacenza, sebelum akhirnya bergabung bersama AS Roma pada 1997 hingga 2001. Bersama Roma ia mencapai puncak tertinggi dalam kariernya karena berhasil menyabet gelar Serie A pada 2001 lalu.

Setelahnya, ia pun kembali ke Piacenza sebelum mengakhiri karier bermainnya bersama Perugia 2005 lalu. Kemudian, ia mulai terjun ke dunia kepelatihan dan kehebatannya teruji saat menangani Sassuolo.

Bersama Sassuolo, ia mampu mengantarkan klub tersebut menjuarai Serie B dan naik kasta ke Serie A. Dan setelah promosi, Sassuolo mampu memberikan kejutan setelah tampil konsisten berada di Serie A.

Tim-tim kuat seperti Napoli, Juventus, dan Inter Milan mampu ia kalahkan yang pada akhirnya di akhir musim 2015/2016 Sassuolo diantarkan finish di urutan enam di atas Inter dan AC Milan.

Posisi enam itu pun berhasil membuat tim berjuluk I Neroverdi bermain di Liga Europa meski prestasinya harus terhenti di fase grup. Namun, gaya bermain Sassuolo di tangannya sangat menghibur.

Ia tak segan memainkan sepak bola menyerang yang menjadi kontradiksi di Italia karena kerap bermain bertahan. Selain membawa perubahan soal taktik, ia dikenal tak segan mengorbitkan pemain, bersama Sassuolo ada Domenico Berardi yang bermain luar biasa untuk sejak diasuh Di Francesco.

Secara total, Berardi mampu mencetak 56 gol dari 164 penampilan bersama Sassuolo yang membuatnya sempat dikaitkan dengan klub-klub besar Italia. Hingga pada akhirnya petualangan Di Francesco pun berakhir bersama Sassuolo dan ia mengikat kontrak bersama klub Ibu Kota, AS Roma.

Bersama Roma, keraguan sebenarnya sempat menhinggapi dirinya. Apalagi, Roma ditinggalkan pemain kunci seperti sang legenda Francesco Totti yang pensiun serta Mohamed Salah yang bergabung dengan Liverpool.

Namun, hal itu justru membuat Roma lebih stabil. Lagi-lagi Di Francesco mampu mengolah skuad Roma dengan sangat baik. Nama-nama baru pun muncul, seperti Cengiz Under yang mampu menggebrak Serie A dan Liga Champions musim ini.

eusebio-di-francesco-27010df23de5734.jpg

Meski di liga mereka hanya menempati urutan empat, tapi di Eropa Roma bermain luar biasa. Klub seperti Chelsea mereka hancurkan 3-0 di fase grup, kemudian ada Atletico Madrid yang juga harus mengakui keunggulan Roma.

Dan yang terakhir tentu saja, Barcelona secara mengejutkan mereka permalukan di Stadion Olimpico. Jika melihat cara mereka menghentikan tim Catalan tentu saja tidak bisa dibilang berbau keberuntungan.

Karena dalam dua pertandingan, Roma bermain luar biasa dan berani keluar menyerang. Menghadapi tim sekelas Barcelona dengan pola menyerang sebenarnya bisa dibilang bunuh diri, tapi tidak dengan Roma.

Mereka sangat percaya diri memainkan sepak bola menyerang yang membuat Barcelona mati kutu. Hal itu diakui sendiri oleh pelatih Barca, Ernesto Valverde. "Jujur saja dalam pertandingan ini kami tidak bisa memainkan sepak bola kami. Roma sangat agresif dan sudah seharusnya kami memberikan selamat kepada mereka," ujar Valverde setelah pertandingan. 

Kemudian, kejeniusan Di Francesco pun diakui oleh kapten tim, Daniele De Rossi. Menurutnya, kemenangan ini adalah andil besar dari pelatih berusia 48 tahun tersebut.

"Yang membuat berbeda adalah Di Francesco karena dia membantu kami bermain benar. Dia mengubah banyak hal tapi keputusannya selalu tepat," papar De Rossi.

Ya, berbekal pengalaman sebagai gelandang yang enerjik ketika bermain, Di Francesco bisa dikatakan sosok jenius dalam kebangkitan Roma, terutama di Eropa. Hal ini jelas menjadi prestasi besar karena terakhir kali Roma melaju ke semifinal pada tahun 1984 silam.

Kini lawan mereka di semifinal Liga Champions adalah Liverpool. Pertandingan pertama akan dilangsungkan di Anfield pada 25 April baru sepekan setelahnya gantian mereka yang akan menjamu The Reds di Olimpico.

Jika dilihat dari cara bermain AS Roma saat ini, secercah harapan pun mengalir bersama Di Francesco. Satu pertanyaan kini muncul. Apakah kejutan Roma di Eropa terus berlanjut? Tentu ini menarik untuk ditunggu.

Baca Juga:
Ada Apa Barcelona?

Baca Juga:
Lerby Lawan Dominasi Pemain Asing

Text : Aga Buge Katiara | Photo / Video : Istimewa | Editor: Dedi Hermawan | 14 April 2018

  • facebook share

RELATED NEWS

Menilik Peluang Naldo

Menilik Peluang Naldo

FOOTBALL
Masalah Tiket Piala Dunia

Masalah Tiket Piala Dunia

FOOTBALL
Kalah, Harry Kane Merana

Kalah, Harry Kane Merana

FOOTBALL
Lewandowski Cetak Rekor di Bundesliga

Lewandowski Cetak Rekor di Bundesliga

FOOTBALL

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company