Kemenangan Emosional Chris Froome di Giro d'Italia 2018

Text : Andi Wahyudi | Photo / Video : Giro D'Italia | 29 May 2018

Kemenangan Emosional Chris Froome

SPORTKU.COM

Rakyat Inggris terus bersuka cita pasca selebrasi Royal Wedding. Ini lantaran kemenangan Chris Froome di Giro d'Italia 2018.

Kemenangan Chris Froome (Team Sky) di Giro d'Italia 2018 menjadi kemenangan yang emosional. Pasalnya, sejak memulai lomba, Froome tenggelam oleh kesuksesan rekan senegaranya yang memperkuat tim Michelton-Scott, Simon Yates yang meraih jersey Maglia Rosa sebagai pebalap tercepat di Giro. Yates mulai mengenakan Maglia Rosa sejak etape 6 hingga 18. Dominasi Yates ini memang terlihat beringas. Yates menguasai 4 etape yang menggiringnya terus mengenakan jersey Maglia Rosa.

Sementara Chris Froome hanya mengantongi 2 kemenangan di etape 14 dan 19. Selebihnya Froome berkutat di 20 besar bahkan sempat melorot jauh di urutan 65 pada etape 13. Namun konsistensi Froome inilah yang menjadi kunci kemenangan pebalap yang sedang menunggu kehadiran buah hatinya.

Dominasi Simon Yates memang harus diakui. Bahkan Yates digadang menjadi kandidat kuat Juara Giro d'Italia tahun ini selain Elia Viviani dan Tom Dumoulin. Namun etape 18 justru menjadi antiklimaks bagi Simon Yates. Etape 18 yang mengambil rute Abbiategrasso-Prato Nevoso sejauh 196km menjadi etape maut bagi Yates. Karakter trek yang didominasi oleh jalur pendakian menguras habis tenaga Yates. Di etape 18 ini Froome unggul dengan finish di urutan ke-14 dan Yates di urutan ke-20.

Baca juga
Kandidat Kuat Juara Giro d'Italia

Froome yang dikenal menyukai trek tanjakan memang terus berupaya mengejar ketertinggalannya. Bisa ditebak, pada etape 19 yang didominasi trek menanjak menjadi milik Froome. Froome menguasai etape 19 sekaligus menumbangkan dominasi Simon Yates untuk kategori Maglia Rosa yang bergengsi. Froome pun kemudian meraih jersey Maglia Rosa dan menyelesaikan dua etape berikutnya tanpa hambatan apapun.

Froome memang pebalap yang dikenal menyukai tanjakan. Juara Tour de France 4 kali ini terlihat perkasa di etape 19 terutama di wilayah Colle delle Finestre. Yang mengagumkan, Froome melenggang di depan meski garis finish masih terbentang 80km jauhnya.

"Pertama-tama saya harus menyingkirkan Simon Yates dan kemudian menjauh dari Tom Dumoulin. Untuk pergi dari posisi keempat ke pertama, saya tidak melakukannya pada pendakian terakhir. Colle delle Finestre adalah tempat yang tepat untuk melakukannya. Jalan-jalan kerikil mengingatkan saya pada Afrika. Besok akan sangat berat tetapi kaki saya terasa lebih baik sekarang," ujar Froome usai memang di etape 19.

Baca juga
Chris Froome Pecundangi Simon Yates

Pebalap kelahiran Nairobi, Kenya, mengatakan bahwa kemenangannya di Giro d'Italia kali ini sudah tidak perlu dipertanyakan. Sangat wajar Froome mengatakan hal tersebut, mengingat Froome pernah tersandung kasus doping akibat mengkonsumsi salbutamol.

Froome dinilai menggunakan salbutamol diluar batas kewajaran untuk mengobati penyakit asmanya. Froome berdalih bahwa penggunaan salbutamol masih diambang batas yang diperbolehkan. Gara-gara hal ini, Froome nyaris absen di Giro, meski akhirnya bisa turun laga. Di Giro, Froome mengikuti protokol pemeriksaan doping dengan ketat untuk menghindari terjadinya kesalahan serupa.

"Tidak ada yang perlu dipertanyakan mengenai validitas hasil balap di Giro. Saya bahkan harus mengikuti tes doping setiap hari, sebelum dan sesudah balapan, dan saya yakin tidak melakukan kesalahan sedikitpun," ujar Froome sebagaimana dikutip BBC.

"Seminggu yang lalu, saya tidak percaya bahwa saya akan berada di sini dengan Maglia Rosa. Etape 19 di Colle delle Finestre adalah balapan terbaik dimana segalanya berbalik kepada saya. Saya ingin mendedikasikan kemenangan ini untuk istri saya dan anak perempuan kami yang akan hadir pada awal Agustus,” tambah Froome.

Rakyat Inggris pantas merayakan kemenangan Froome di Giro d'Italia ini. Froome menjadi satu-satunya pebalap Inggris yang memenangkan Giro d'Italia. Sebelumnya hanya satu pebalap Inggris yang sempat naik podium di Italia yaitu Robert Millar pada tahun 1987 namun tidak memenangkan Giro.

Kemenangan ini juga melengkapi deretan gelar yang dimiliki Froome sebagai juara 3 Grand Tour (Tour de France, Vuelta a Espana dan Giro d'Italia). Nama Froome layak disandingkan dengan juara 3 Grand Tour lainnya seperti Jaques Abquetil, Felice Gimondi, Eddy Merckx, Bernard Hinault, Alberto Contador dan Vincenzo Nibali.

Kemenangan Froome juga menjadi istimewa, pasalnya selain sebagai pebalap terbaik (Maglia Rosa), Froome juga mendapatkan jersey Maglia Azzurra sebagai pebalap yang unggul di tanjakan (King of The Mountains). Ini merupakan pencapaian istimewa. Double winner ini pernah terjadi tahun 1998 dengan pebalap Marco Pantani.

Baca juga
Chris Froome Juara Giro d'Italia 2018

 

 

Text : Andi Wahyudi | Photo / Video : Giro D'Italia | 29 May 2018

  • facebook share

RELATED NEWS

Langkah Cerdas Zidane

Langkah Cerdas Zidane

TOPIC OF THE WEEK
Sirkuit Jalan Raya Zurich

Sirkuit Jalan Raya Zurich

TOPIC OF THE WEEK
Lorenzo Is Back!

Lorenzo Is Back!

TOPIC OF THE WEEK
Zidane Si Raja Eropa

Zidane Si Raja Eropa

TOPIC OF THE WEEK

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company