image

Neymar, PSG dan Politik Qatar

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Japantimes | Editor: Andi Wahyudi | Media Source: afc,blommberg | 16 August 2017

SPORTKU.COM

Pembelian Neymar dari Barcelona ke Paris Saint-Germain (PSG) tak hanya soal industri sepakbola saja, melainkan kepentingan politik Qatar.

Awal Agustus 2017 dunia dikejutkan dengan aktivitas transfer yang dilakukan oleh klub peserta Ligue 1, PSG dengan mendatangkan Neymar dari Barcelona dengan biaya diluar nalar, yakni 222 juta euro atau sekitar Rp3,4 triliun.

Besarnya biaya tersebut menjadikan pemain asal Brasil itu tercatat sebagai pesepakbola dengan biaya transfer termahal di dunia. Bahkan jumlah tersebut bernilai dua kali lipat dari besaran uang yang dibayarkan Manchester United (MU) kala menebus Paul Pogba dari Juventus dengan biaya sebesar105 juta euro atau sekitar Rp 1,6 triliun pada musim 2016/2017 silam.

Transfer Neymar sendiri sukses akibat otoritas sepak bola tertinggi di Eropa, UEFA setuju dengan jumlah klausul pelepasan kontrak pemain yang mengawali karir profesional di kesebelasan Santos tersebut. Tetapi dengan syarat PSG harus punya pendapatan yang mencukupi sehingga bisa memenuhi Financial Fair Play (FFP) yang ditetapkan.

Kehadiran pemain yang telah memenangkan medali emas di ajang Olimpiade pada tahun 2016 ini nyatanya memiliki dampak yang signifikan bagi PSG. Dikutip dari AFP, di hari pertama usai diumumkan sebagai salah satu punggawa klub, jersey nomor 10 milik Neymar terjual hingga mencapa 1 juta euro atau sekitar Rp15,6 miliar.

Bahkan bila mampu mempertahankan penjualan jersey milik Neymar di level yang sama, maka PSG bisa balik modal paling cepat pada pertengahan Maret 2018. Jika dihitung dengan pendapatan lain seperti pemasukan dari tiket, hak siar, komersil, serta banyaknya sponsor masuk. Mungkin tak sampai selama itu sudah balik modal.

Baca juga
Lexus LC500 Kuasai Super GT

Meski demikian, menurut pemilik PSG, Nasser Al-Khelaifi. Harga pembelian pemain yang mendapatkan gaji sebesar 30 juta euro atau sekitar Rp472 miliar per tahun ini dianggapnya hanya receh alias tidak mahal. Bahkan Sang Presiden beruntung lantaran di masa depan mungkin ia akan mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendatangkan Neymar di masa depan.

"Saya tak menganggap harga ini mahal. Saya yakin kami akan mendapatkan banyak uang bersama dia. Ini proyek dua brand: kami berhubungan dengan brand Neymar dan brand PSG," ujar Al-Khelaifi dinukil AFP.

Usut punya usut. Transfer Neymar sendiri nyatanya merupakan campur tangan Pemerintahan Qatar. Pasalnya, pemain yang baru berusia 25 tahun itu, bersamaan dengan transfernya ke PSG ditunjuk untuk menjadi Duta Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Qatar.

PSG sendiri pada tahun 2011 lalu diakuisisi oleh Oryx Qatar Sports Investment yang belakangan kita ketahui bersama merupakan perusahaan swasta milik Pemerintah Qatar. Sehingga dapat dikatakan yang membeli Neymar bukanlah klub, melainkan perusahaan yang bergerak dalam memajukan olah raga dan hiburan yang bermarkas di Doha ini.

Tak heran dalam kontrak Neymar tercatat beberapa perjanjian yang lumayan asing di telinga seperti hak komersil, hak sponsor, hak gambar, hak endorsement, dan hak-hak lainnya. Dapat dikatakan Qatar memonopoli brand yang dimiliki oleh Neymar. Selain alasan ekonomi di atas, alasan perekrutan Neymar adalah sebagai jawaban bahwa Qatar baik-baik saja walau diembargo oleh 7 negara yang mayoritas merupakan negara tetangga seperti Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Libia, dan Uni Emirat Arab di awal Juni lalu.

Embargo dilakukan lantaran Qatar diduga “memelihara” kelompok-kelompok radikal dari 7 negara tersebut seperti kelompok Ikhwanul Muslimin, ISIS, dan Al-Qaedah . Tak hanya itu, negara yang terletak di semenanjung kecil di Jazirah Arab ini juga diduga mendanai kelompok tersebut.

Dampak dari embargo yang dilakukan oleh Arab Saudi dkk ini—dalam hal yang paling pahit—adalah gagalnya penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar. Pasalnya, selain adanya krisis teluk yang terjadi saat ini—dan belum ada penyelesaiannya. Masalah-masalah lain, seperti cuaca yang panas di negara tersebut, juga masalah tenaga kerja yang kurang serta tersendatnya bahan baku untuk membangun fasilitas membuat rencana untuk mengadakan pertandingan Piala Dunia bisa batal. Apalagi, beberapa jalur masuk sebagai transit bagi negara peserta Piala Dunia pun ditutup.

Dikutip dari Bloomberg, Milena Rodban konsultan politik yang berbasis di Washington mengarakan bahwa apa yang dilakukan Qatar dengan membeli Neymar adalah upaya negara tersebut agar mendapatkan dukungan dari dunia barat atas krisis yang terjadi di semenanjung Arab itu.

“Qatar tak asing dengan menggunakan soft power dalam membeli sesuatu yang dapat mempengaruhi banyak orang, terutama dari barat. Hal ini akan menguntungkan dalam krisis teluk ini,” ujarnya.

Hal senada juga diucapkan oleh Andreas Krieg, Analisis Politik dari King's College London. Penunjukan Neymar sebagai duta Piala Dunia menunjukan bahwa Qatar tetap memiliki panggung politik yang kuat tak hanya di Arab, tapi juga dunia dengan tidak mudah didikte oleh negara yang mengembargo.

“Biaya pembelian Neymar sebagai sinyal yang kuat (keseriusan) mereka di dunia olahraga dan sinyal pembangkangan yang sangat kuat kepada UEA dan Arab Saudi. Mereka menginginkan pemain ini dan mereka menggunakan uang itu untuk membeli dengan harga berapa pun,” ungkapnya.

Baca juga
Usain Bolt Ingin Menjadi Pesepakbola

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Japantimes | Editor: Andi Wahyudi | Media Source : afc,blommberg | 16 August 2017

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company