image

Fakta Tentang Asma dan Atlet Balap Sepeda

Text : Adi Supriyatna | Editor: Andi Wahyudi | Media Source: cyclingweekly | 15 December 2017

SPORTKU.COM

Penggunaan obat asma di kalangan pebalap sepeda profesional kini menjadi sesuatu yang kontroversial.

Hal itu menjadi perhatian setelah Chris Froome ditetapkan memiliki kadar salbutamol - kandungan dalam obat asma - yang lebih tinggi pada sampel yang diambil selama Vuelta a España 2017 (Tour Spanyol).

Dengan hasil itu, penggunaan obat asma dalam bersepeda profesional pun menjadi sorotan. Sebelumnya pada tahun 2017, British Cycling, Team Sky dan Bradley Wiggins, mendapat sorotan mengenai penggunaan obat yang diizinkan (TUE), terkait dengan pengobatan asma, setelah data mereka dibocorkan oleh kelompok hacker, Fancy Bears. Pada bulan April 2016, Simon Yates dilarang berlomba setelah dinyatakan positif menggunakan terbutaline.

TUE pun dikhawatirkan menjadi area “abu-abu” bagi beberapa atlet untuk mendapatkan keuntungan performa dan menjadi berita utama selama beberapa tahun terakhir.

Semua itu menimbulkan pertanyaan: Apakah ada “kesepakatan” antara asma dan pebalap sepeda? Dan mengapa banyak pebalap yang membutuhkan obat tersebut untuk membantu mereka dalam bernafas dan apakah mereka mendapatkan keuntungan dari hal itu?

Kepala klinik pernafasan Universitas Kent, dr. John Dickinson, pernah melakukan pemeriksaan pernapasan di Medway Park Sports Center. Dia telah menguji atlet Olimpiade dan elite dari hampir semua olahraga, termasuk pebalap sepeda Inggris dan rider Team Sky.

Penilaian tim British Cycling sebelum Olimpiade 2004 menunjukkan bahwa sekitar 40 persen atlet menderita asma, dibandingkan dengan yang hanya sekitar delapan persen dari populasi lainnya. Bagi Dickinson, perbedaan itu masuk akal.

"Atlet jauh lebih rentan terhadap masalah yang terkait asma, terutama karena lingkungan yang mereka hadapi dan kondisi yang dibutuhkan oleh aktivitas olahraga, seperti tingkat pernapasan yang tinggi dan dalam waktu lama. Bersepeda dilakukan di luar rumah dan seringkali di udara yang kering dan tercemar - ada banyak alasan untuk prevalensi tinggi," kata Dickinson.

Dia menjelaskan bahwa tidak semua dokter memiliki informasi yang cukup untuk menilai secara akurat terkait asma, seperti bronkospasme akibat olahraga (EIB), sehingga mereka terkadang memberi resep obat tanpa pemeriksaan gejala yang memadai.

Lantas apakah inhaler (obat hisap) berpengaruh bagi mereka yang tidak mengidap asma?

"(Banyak atlet) yang telah diberi inhaler merasa tidak menghentikan gejala, dan kemudian mereka bisa panik dan mulai meragukan kemampuan mereka. Mungkin mereka tidak menderita asma atau bukan penyebab utama gejala mereka. Kita bisa mengukur tingkat keparahannya, dan membuat mereka lebih sadar akan penyebabnya," ungkap Dickinson.

Di sisi lain, ada kecurigaan besar bahwa atlet didiagnosis menderita asma untuk dapat mengakses obat-obatan yang akan meningkatkan kinerjanya. Namun Dickinson menolak teori itu dan mengatakan hal itu sebagai teori yang tidak logis dan tidak berdasar.

"Kami tahu, dosis inhaler terapeutik tidak mempengaruhi penampilan. Jadi, jika Anda bukan penderita asma dan mengambil beberapa embusan salbutamol, hal itu tidak akan berhasil untuk Anda. Kami punya banyak penelitian yang membuktikan hal itu," tegas Dickinson.

Penelitian tersebut telah menunjukkan bahwa agonis beta-2 - obat yang cepat bereaksi pada penderita asma untuk mengurangi penyempitan di saluran udara - memiliki efek yang dapat diabaikan terkait performa mereka yang tidak menderita asma.

"Obat asma inhalasi yang biasanya diresepkan, yang sebagian besar diijinkan tanpa TUE, tidak akan meningkatkan kinerja secara signifikan meskipun mereka disalahgunakan," tegas Dickinson.

“Jika inhaler saja tidak bekerja, Anda biasanya pergi ke kortikosteroid oral; bentuk intra-otot lebih kuat. Suntikan ampuh semacam itu hanya ditentukan dalam kasus di mana pasien asma sangat tidak sehat,” jelas Dickinson.

Dari pengalaman Dickinson, hanya sebagian kecil pebalap yang memiliki masalah terkait asma, yang berlaku untuk TUE.

"Ini sangat jarang. Saya pikir kadang-kadang obat kuat dipaksakan lebih awal dari yang sebenarnya mereka butuhkan. Tapi saya pernah bekerja dengan segelintir atlet yang membutuhkan kortikosteroid oral," katanya lagi.

Masalah pernafasan sangat umum di kalangan pengendara sepeda dan kecurigaan mengenai perawatan khusus seharusnya tidak menghalangi orang untuk mencari penilaian medis dan, jika perlu, dilakukan perawatan.

Berkaca dari penjelasan di atas, obat asma tidak memberikan pengaruh dalam meningkatkan performa atlet yang tidak mengidap asma. Sebaliknya, obat tersebut jelas bisa membantu bagi atlet yang mengidap asma.

Terkait kasus Chris Froome, UCI sendiri masih memproses kasus ini dan belum menjatuhkan sanksi apapun kepada pebalap Team Sky itu.

Baca juga:
HIGHLIGHTS BRIRUN 2017 BOGOR SERIES

Baca juga:
OASIS DONGKRAK PERFORMA MANCHESTER CITY?

Chris Froome terbukti menggunakan salbutamol dengan dosis berlebihan di Vuelta 2017 (Bettini Photo)

vuelta-2017-96559046467281c.jpg

 

Text : Adi Supriyatna | Editor: Andi Wahyudi | Media Source : cyclingweekly | 15 December 2017

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

Valverde Tercepat di Etape 3

Valverde Tercepat di Etape 3

ROAD BIKE
Gaviria Berjaya Dikandang

Gaviria Berjaya Dikandang

ROAD BIKE
Tim WorldTour Terinspirasi F1

Tim WorldTour Terinspirasi F1

ROAD BIKE
Juara Dunia di UAE Tour

Juara Dunia di UAE Tour

ROAD BIKE

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company