image Fabrianus Balank (128) dan Aditya Pangestu (18) saat bersaing di Race 1 Grand Final Kejurnas IRS 2017 Hasil Race 2 Kejurnas IRS 2013 Kelas Premium Rookies Cup 110cc

Pebalap, Jangan Asal Pasang Transponder

Text : Suhartono | Photo / Video : Suhartono, Sonny Hastara | Editor: Andi Wahyudi | 19 December 2017

uploads/news/2017/12/pebalap-jangan-asal-pasang-4656230cbd3ff5e.JPG

Pebalap, Jangan Asal Pasang Transponder

transponder-93373bd293e903f
transponder-198747f48cc1445
SPORTKU.COM

Dunia balap tak lepas dari catatan waktu yang begitu penting bagi setiap pebalap atau tim untuk mengukur kekuatan mereka.

Secara harfiah, transponder merupakan singkatan dari transmitter responder. Sebuah perangkat otomatis yang menerima, memperkuat dan mengirimkan sinyal dalam frekuensi tertentu. Dunia balap baik motor maupun mobil tentu menggunakan alat tersebut sebagai pencatat waktu otomatis.

Dalam dunia otomotif, transponder digunakan untuk menghitung waktu suatu putaran dalam perlombaan balap pada setiap lapnya. Setiap mobil/motor memiliki transponder aktif yang bertanda. Ketika mobil/motor balap melewati garis start/finish, transponder itu akan mengirimkan sinyal ke kabel yang telah ditanam di sekitar garis itu dan kemudian menunjukkan urutan balap.

Keberadaan transponder memang sangat penting. Gak bisa terbayangkan bagaimana jika pada suatu balapan tapi setiap kendaraan tak dipasang transponder. Maka sulit untuk menentukan siapa sebagai juaranya karena catatan waktunya tak terverifikasi dengan jelas.

Transponder bekerja dengan sistem sensor khusus. Unitnya sendiri terdiri dari transponder, receiver/dekoder. Transponder yang terpasang pada kendaraan akan ditangkap oleh alat yang bernama dekoder. Agar bisa menerima data, dekoder ini terhubung dengan sensor yang ditaruh di dekat trek aspal (garis finish).

Baca Juga
Rossi Bukan Legenda MotoGP, Ini Daftar dari Dorna

Selanjutnya dekoder ini terhubung dengan komputer. Dari layar komputer akan muncul nama pebalap, kemudian waktu tempuh, lap terbaik dan data lainnya termasuk jenis motor serta nama tim. Dengan menggunakan transponder, tentu hasil atau catatan waktu yang diperoleh akan lebih akurat jika dibandingkan dengan menggunakan stopwatch. 

Tapi ingat, jangan asal pasang transponder kalau gak mau rugi. Hal ini pernah dialami oleh salah satu pebalap Indonesia yang berlaga di Kejurnas Indospeed Race Series (IRS). Adalah Fabrianus Balank. Karena kesalahan pasang transponder, catatan waktu yang dimiliki tak sesuai dengan hasil finish.

"Iya pernah mengalami kejadian yang sangat merugikan saya soal pemasangan transponder. Karena salah pasang posisi transponder. Jadi saya yang menyentuh garis finish nomer tiga harus turun ke posisi 4," ungkap Fabrianus Balank.

Perlu diketahui, Fabrianus Balank saat itu memang terlihat finish ketiga (berdasarkan hasil foto). Akan tetapi Race Director Kejurnas IRS Eddy Horison menganulir hasil tersebut. Seperti dikatakan Fabrianus Balank, Eddy Horison mengambil hasil berpatokan dari catatan waktu transponder.

"Kalau di dunia berdasarkan hasil foto. Kalau di Sentul menurut transponder. Peraturan di mana-mana diambil dari foto finish, tapi kalau di Sentul dari hasil timing. Kalau pimpinan lombanya Eddy Horison hasil timing, katanya begitu," kesal Fabrianus Balank.

Baca Juga
Seberapa Penting Knalpot di Motor Balap? 

Kejadian yang sama hampir mirip juga pernah terjadi di Seri 4 Kejurnas IRS 2013 silam. Saat itu Teddy Permana dari tim Daya Honda Jayadi KYT Denso Showa Federal Oil dan Irwan Ardiyansyah dari tim Yamaha Yamalube Nissin Gandasari Bonaharto INK finish dengan catatan waktu yang sama persis, 24menit 07.283detik.

Lalu Eddy Horison yang saat kejadian juga menjadi Race Director akhirnya menentukan juaranya dengan melihat posisi pemasangan transponder. Pebalap dengan posisi transponder berada lebih ke belakang dialah yang jadi pemenang. Akhirnya Teddy Permana menjadi jawara di Kelas Premium Rookies Cup 110cc.

"Kalau biasanya pemasangan transponder memang di suspensi depan. Tapi ada juga pemilik timing system tidak mau kalau transponder dipasang di suspensi depan, karena kalau ada kecelakaan dekoder-nya bisa hilang atau rusak. Makanya kadang ada yang dipasang di frame tengah karena bisa terlindung kalau misalnya motor jatuh," ungkap Eddy Horison yang punya jabatan sebagai Race Director.

Eddy Horison juga menambahkan untuk musim depan memang tengah digodok mengenai regulasi posisi pasang transponder. Intinya posisi pasang transponder harus diseragamkan antara satu pebalap dengan pebalap lainnya.

"Intinya pasang transponder di posisi yang sama. Paling kalau beda hanya 5-10cm saja," tutupnya saat dikonfirmasi oleh SPORTKU.com.

Baca Juga
Apa Itu Ban Radial?

Text : Suhartono | Photo / Video : Suhartono, Sonny Hastara | Editor: Andi Wahyudi | 19 December 2017

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company