image

2018, Tahun Sepakbola dan Politik

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Sportku | Editor: Andi Wahyudi | 15 January 2018

SPORTKU.COM

Tahun 2018 ini akan menjadi tahun sepak bola dan tahun politik mengingat kedua event besar itu akan digelar.

Tahun 2018 dapat dikatakan sebagai tahun yang penuh dengan agenda sepak bola. Pasalnya, terdapat sekurang-kurangnya ada tiga agenda sepak bola internasional akan digelar di Indonesia. Pertama adalah Asian Games, Piala Asia U-19, dan Piala AFF.

Asian Games menjadi ajang pertama yang digulirkan. Indonesia sebagai tuan rumah akan diwakili oleh Timnas Indonesia U-23. Lalu, selanjutnya adalah Piala Asia U-19 di mana akan diikuti oleh Timnas Indonesia U-19.

Terakhir di penghujung tahun, Piala AFF dengan format baru juga digelar. Dengan demikian, Timnas Indonesia minimal bisa mengelar dua laga kandang—bisa bertambah sampai empat pertandingan bila masuk ke babak final.

Di luar event internasional, kompetisi lokal seperti Piala Presiden, Liga 1, Liga 2, hingga Liga 3 (Liga Nusantara) kemungkinan akan digelar secara berurutan dari pertengahan Januari nanti. Dapat dikatakan tahun ini, sepak bola sangat meriah lantaran banyaknya event yang digelar.

Hal ini belum termasuk dari gaung Piala Dunia 2018 mendatang. Bahkan event yang mempertemukan 32 negara terbaik sedunia itu bertepatan dengan event besar lainnya di Indonesia, yakni Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada.

Sebanyak 171 daerah yang terdiri dari 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang dilakukan secara serentak pada 27 Juni 2018 mendatang. Disimpulkan bahwa tahun 2018 adalah tahun sepak bola.

Baik sepak bola dan politik adalah sebuah pertandingan yang harus dimenangkan. Sehingga dibutuhkan strategi dalam menyusun taktik, filosofi bermain, hingga mencari kelemahan lawan untuk bisa menjadi juara.

Selain itu, persamaan lain antara sepak bola dan politik adalah keduanya memiliki basis massa yang sama banyak dan sama kuat. Hal ini yang kerap kali membuat perbedaan keduanya menjadi kabur dan bahkan saling bertalian pada akhirnya.

Kerap kali politisi memanfaatkan suporter sepak bola yang jumlahnya banyak itu sebagai pendulang suara. Misalnya, wakil gubernur terpilih DKI Jakarta, Sandiaga Uno menjanjikan pembangunan Stadion di Jakarta. Janji tersebut sedikit banyak sukses membuat dirinya terpilih menjadi wakil gubernur.

Baca juga
Komentar Rossi Soal Airbag Pebalap

Sementara untuk pilkada 2018 kali ini, setidaknya ada dua calon kepala daerah yang berafisiliasi dengan klub sepak bola di Indonesia.

Pertama adalah manajer Sriwijaya FC, Dodi Reza Alex Noerdin. Ia merupakan calon Gubernur Sumatera Selatan. Sebelumnya anak dari Alex Noerdin merupakan Bupati Musi Banyuasin.

Uniknya, pencalonan Dodi ini membuat Sriwijaya menjadi salah satu kontestan yang paling serius menghadapi Liga 1 musim 2018 kali ini. mereka melakukan manuver dengan mendatangkan banyak pemain baru yang berstatus sebagai bintang.

Manuchecr Jalilov, Mahammadou N'Diaye, Esteban Vizcarra, Adam Alis, Makan Konate, Alfin Tuasalamony, Irsyad Maulana, Novan Setya, Agung Prasetyo, Yogi Rahadian Zulfiandi, Syahrian Abimanyu dan Samuel Christianson didatangkan beserta pelatih jempolan, Rahmad darmawan.

Hal inilah yang membuat publik pun menjugde bahwa Dodi menggunakan Sriwijaya sebagai kendaraan politik untuk mendulang suara.

Selain Dodi, nama lain yang dianggap menggunakan klub sebagai ajang penarik suara dari suporter adalah Edy Rahmayadi. Selain statusnya sebagai ketua umum PSSI. Ia merupakan pemilik klub PS TNI dan Dewan Penasehat PSMS Medan.

Edy sendiri menjadi calon gubernur dari Sumatera Utara dan PSMS sendiri berbasis di Medan yang notabene merupakan ibukota dari provinsi tersebut.

Uniknya, Di bawah kendali tak langsung Edy Rahmayadi. PSMS dalam beberapa musim ini memang tampil menawan. Setelah lama terpuruk, mereka mendadak sukses menjadi Juara Piala Kemerdekaan pada tahun 2015 lalu dan menjadi runner up Liga 2 musim 2017 lalu sekaligus promosi ke Liga 1 musim 2018 ini.

Bukan tidak mungkin bila Edy memang memanfaatkan PSMS ini sebagai jalan untuk meraih kursi nomor satu di Sumut lantaran popularitas klub tersebut di wilayah Sumatera Utara. Apalagi promosinya mereka ke kasta utama secara otomatis akan menambah jumlah penonton yang bisa menjadi menjadi objek dalam perjuangan menuju kekuasaan bagi mantan Pangkostrad TNI tersebut.

Selain itu, sebenarnya memanfaatkan sepak bola sebagai pendulang suara juga sudah lazim dilakukan. Misalnya dengan mengadakan turnamen sepak bola atau melakukan nobar sepak bola yang disinisiasi oleh calon kepala daerah yang tentu saja diniatkan untuk mendapatkan suara dari penggemar sepak bola.

Baca juga
Upaya Madura United Juara Liga 1

 

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Sportku | Editor: Andi Wahyudi | 15 January 2018

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company