image Piala Australia Terbuka Federer yang pertama di tahun 2004 Piala Grand Slam pertama yang diraih Roger Federer, Wimbledon 2003 Kejutan besar dicetak Federer saat menang di Australia Terbuka 2017 pasca absen cedera Suksesi Roger Federer berlanjut di Rod Laver Arena pada final Australia Terbuka 2018

Roger Federer: Usia Hanya Sebuah Angka

Text : Maya Soeparwoto | Photo / Video : Australian Open | 29 January 2018

uploads/news/2018/01/federer-usia-hanya-sebuah-9098751bab688c9.jpg

Federer: Usia Hanya Sebuah Angka

australian-open-2018-ii-61873d449f5978c
australian-open-2018-ii-78486a529385850
australian-open-2018-ii-56208f951c359aa
australian-open-2018-ii-29716cd5cf0231b
SPORTKU.COM

Roger Federer meyakinkan mata dunia olah raga, bahwa usia bukanlah rintangan untuk sebuah kesuksesan. Ini terbukti pada Australia Terbuka 2018.

Ketika Roger Federer memenangkan gelar Australia Terbuka setahun yang lalu, lima tahun setelah gelar Grand Slam sebelumnya, seperti pencapaian yang mustahil. Ibarat keberhasilan yang pernah terjadi pada masanya, tak mungkin terulang kembali.

Saat itu petenis Swiss ini berusia 35 tahun dan menempati unggulan ke-17. Dia absen selama enam bulan setelah operasi lutut dan masalah punggung. Namun apa yang terjadi pasca rehatnya, ia kembali dan membuat kejutan kemenangan yang tak dibayangkan.

Dalam 12 bulan terakhir ini, Federer sudah mengoleksi tiga gelar Grand Slam. Pada usia 36 sekarang, ia memulai Australia Terbuka ini sebagai pemain favorit dan menang dengan kehilangan dua set di final. Ini bukanlah nostalgia.  Sesuatu terjadi pada seorang Roger Federer. Sebuah dominasi baru, bukan gema kejayaan masa lalu. Federer menghasilkan tiga laga klasik yang baru.

Dalam persiapan laga final melawan Marin Cilic, Federer pergi ke Melbourne untuk mencari inspirasi dengan menyaksikan film biografi PM Inggris Winston Churchill yaitu 'Darkest Hour' yang dibintangi oleh Gary Oldman. Mungkin lewat film inilah masa keemasan kedua Federer tercipta.

Dalam kurun waktu enam tahun dari 2011 sampai 2016, Federer hanya meraih satu gelar Grand Slam yaitu Wimbledon 2012. Setahun yang lalu dia tidak hanya melewati masa jayanya tapi melewati periode saat dia melewati masa jayanya.

Baca Juga:
Roger Federer Raih Gelar Grand Slam Ke-20

Federer adalah sosok yang lengkap. Luka yang dialami begitu beragam, dari lutut lecet saat karena memandikan keempat anaknya hingga luka pada wajah saat kena pukulan forehand Milos Raonic di Wimbledon. Bak seorang pria dengan keterampilan yang beragam namun dengan usia sembilan tahun lebih muda. Meski begitu, kini ia mengakui bahwa perlu menggunakan raket yang lebih besar, layaknya pria paruh baya yang harus menerima kenyataan harus mengenakan kaca mata baca.

Novak Djokovic yang pensiun di putaran keempat dan Andy Murray yang absen karena harus lakoni operasi pinggang,  makin memuluskan pergulatannya pada event besar ini. Kini tiga pencapaian besar telah disabet Federer, gelar Australia Terbuka 2017, mendapatkan kembali mahkota Wimbledonnya dan mempertahankan gelar di Melbourne. Dengan Rafael Nadal mempertahankan beberapa poin peringkat selama dua bulan ke depan, kemungkinan Federer bisa menjadi petenis nomor satu dunia lagi pada akhir Maret.

Dua puluh gelar tunggal Grand Slam, ini pencapaian yang lebih dari petenis lainnya. Setidaknya terpaut empat dari rivalnya Rafael Nadal, juga hanya selisih tiga dari raihan gelar Serena Williams. Ia juga selamat dari para rival besar lainnya yang banyak cedera dan para pemain muda yang terhenti. Lalu apakah Federer harus berhenti di sini? Bukankah Wimbledon segera menantinya sekali lagi?

Kemenangan Federer di Melbourne 12 bulan yang lalu membawa kembali kenangan akan Jack Nicklaus yang meraih gelar ke-18 di Augusta pada tahun 1986. Itu terjadi setelah 23 tahun setelah gelar pertamanya, enam tahun setelah pencapaian terakhirnya. Ini juga memicu perbandingan dengan Muhammad Ali di Kinshasa pada bulan Oktober 1974. Ia memenangkan gelarnya sendiri dari George Foreman pada usia 32, seorang juara yang kembali dari pengasingan.

Dalam menambahkan dua gelar Grand Slam pada enam bulan terakhir, Federer telah mengantongi semangat lebih dari pencapaiannya yang luar biasa. Dia tidak pernah emosional atau meluapkan amarah, meski kendala besar sering menyerangnya. Semua ini mengalir harmonis dengan anugerah fisik dan gaya yang tenang seperti satu dekade yang lalu.

Cuaca panas ekstrem yang menghantam Melbourne, membuat kebijakan penyelenggara untuk menutup atap Rod Laver Arena. Nampak pada final Marin Cilic bermandi keringat akibat kepanasan. Cilic dan sedikit terganggu  dalam permainannya. Namun hal ini tidak berpengaruh pada Federer, ia nyaman dan stabil.  Padahal sikon mengancam dirinya setelah kehilangan set kedua dan keempat.

Piala Grand Slam pertama yang diraih Roger Federer, Wimbledon 2003australian-open-2018-ii-78486a529385850.jpg

Tercatat pada sejarah Australia Terbuka, adalah Ken Rosewall yang berhasil mengangkat trofi pada tahun 1972 di usia 37. Ia adalah satu-satunya petenis pria yang lebih tua dari Federer yang memenangkan gelar tunggal besar di era Terbuka. Dengan pencapaiannya Rosewall maka tak salah jika Roger Federer mengatakan "usia bukanlah masalah".

"Saya sudah tiga kali menang dalam 12 bulan terakhir. Sungguh saya tidak percaya. Saya baru saja menjaga jadwal yang baik. Mungkin hal baik bisa terjadi, maka saya rasa umur bukan masalah. Itu adalah sebuah angka" katanya.

Meski begitu, Federer tetap bijak menata langkah kariernya ke depan. "Saya harus sangat berhati-hati dalam perencanaan. Benar-benar memutuskan dengan seksama apa yang menjadi goal dan prioritas saya. Saya pikir itulah yang akan mendikte seberapa sukses saya nantinya.

Suksesi Federer di Rod Laver Arena ini juga mengundang sambutan para bintang tenis, salah satunya legenda Rod Laver yang sangat dihormati.


Ketika ia memenangkan Wimbledon musim panas lalu, ini adalah pertama kalinya dalam hampir delapan tahun ia tidak harus berhadapan dengan salah satu dari Big Four lainnya dalam perjalanan ke final Grand Slam. Dan di Melbourne pola itu berulang.

Australia Terbuka tahun ini kehilangan banyak bintangnya. Andy Murray, Novak Djokovic, Djokovic, Stan Wawrinka, Kei Nishikori hingga pesaing abadinya Rafel Nadal, terpaksa absen karena rata-rata dilanda cedera. Demikian pula harapan tuan rumah Nick Kyrgios dan Bernard Tomic yang mengecewakan fans Australia. Tak ketinggalan para pemain muda yang namanya mencuat di ajang ini yaitu Kyle Edmund dan Chung Hyeon. Semua harus turun dari panggungnya.

Namun hanya satu nama yang tak kehilangan pentasnya. Seorang Federer telah bangkit kembali dan membuktikan pada dunia. Bahwa usia bukan halangan mencapai puncak.

Suksesi Roger Federer berlanjut di Rod Laver Arena pada final Australia Terbuka 2018
australian-open-2018-ii-29716cd5cf0231b.jpg

Baca Juga:
Caroline Wozniacki Raih Gelar Grand Slam Pertamanya

Text : Maya Soeparwoto | Photo / Video : Australian Open | 29 January 2018

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company