image

Keakraban Firman Utina dan Benny Dollo di Dunia Sepak Bola Indonesia

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Sepakbola Indonesia | Editor: Andi Wahyudi | 12 March 2018

SPORTKU.COM

Hubungan Firman Utina dan Benny Dollo dikenal sangat akrab. Bahkan keduanya selalu berada di dua klub yang sama.

Sepanjang karir sepak bola, Firman Utina dikenal dekat dengan Benny Dollo. Bahkan, hubungan keduanya dianggap bukan lagi antara pemain dengan pelatih, melainkan hubungan antara anak dan ayah.

Firman dikenal sebagai playmaker modern terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Ia merupakan pionir posisi tersebut di Indonesia. Hingga dirinya memutuskan untuk pensiun pada akhir tahun 2017 lalu, belum ada pemain yang menggantikan posisinya di Tim Nasional (Timnas) Indonesia.

Tak heran, Firman pun cukup lama menjadi pemain andalan bagi Indonesia. Tercatat dirinya pun tak tergantikan selama kurang lebih 10 tahun dimana puncak karirnya adalah meraih gelar pemain terbaik di Piala AFF 2010 silam.

Baca juga
Lintasan Slalom Bandung Makan Korban

Hal tersebut lantaran kebanyakan gelandang di Indonesia merupakan tipikal sebagai gelandang bertahan yang hanya bertugas menjaga keseimbangan di lini tengah ketimbang menjadi pelayan bagi striker.

Memang, pemain seperti Evan Dimas, Septian David Maulana, Muhammad Hargianto bisa bermain di posisi tersebut, namun ketiganya masih belum dianggap mampu mengemban peran serupa seperti yang dilakukan oleh Firman.

Benny Dollo tak dapat dipungkiri merupakan sosok di balik ditemukannya salah satu talenta terbaik di Indonesia ini. Ia merupakan orang pertama yang memberikan kesempatan Firman untuk menunjukan talentanya. Tepatnya pada saat pelatih asal Manado itu menukangi tim Persma Manado pada tahun 2000 silam. Saat itu usia Firman masih berusia 17 tahun.

Kemudian, ketika Benny pindah untuk menukangi Persita Tangerang, Firman pun diajak untuk ikut dalam rombongannya dan sejak saat itu, keduanya seakan tak terpisahkan sehingga bila di sebuah klub ada Benny maka pasti ada Firman.

Kehadiran Benny dan Firman di Persita membuat tim asal Tangerang menjadi salah satu tim besar di Indonesia. Puncaknya, mereka menjadi finalis Liga Indonesia pada tahun 2002 dimana mereka menjadi runner up setelah dikalahkan Pertrokimia Putra (Kini Persegres Gresik United) dengan skor 2-1.

Baca juga
Seat Kenalkan Mobil Balap Elektrik

Duet keduanya dapat dikatakan berhasil ketika mereka berada di Arema Malang. Bersama tim tersebut, nama Benny mulai diperhitungkan sebagai pelatih jenius lantaran sukses menjuarai gelar Divisi Utama (2004) dan dua gelar Coppa Dji Sam Soe berturut-turut (2005 dan 2006).

Begitupun Firman. Namanya mulai mencuat ketika tampil ciamik sebagai playmaker di Arema Malang. Salah satu yang paling diingat adalah ketika dirinya mencetak hattrick di final Copa Dji Sam Soe tahun 2015 silam sekaligus mengantarkan Arema juara dengan mengalhakan Persija dengan skor 2-1.

Salah satu gol Firman dalam pertandingan tersebut menjadi gol yang paling diingat oleh sejarah sepak bola Indonesia lantaran aksinya bersolo run dari tengah lapangan membuat Arema saat itu balik unggul atas Persija menjadi 2-1. Usai laga Firman pun keluar sebagai Most Valuable Player.

Baca juga
Hasil BMX Weekend Party 2018

Hubungan Akrab Diakhiri Menjadi Rival

Sukses di Malang, keduanya kembali ke Persita pada tahun 2007. Namun comeback keduanya kali ini bersama klub tersebut tak berjalan baik. Kemudian Benny yang disibukan dengan proyek Timnas Indonesia pada tahun berikutnya pun tetap mencantumkan nama Firman sebagai bagian dari skuatnya sejak 2008 hingga 2010.

Setelah itu, ketika Benny ditunjuk untuk menjadi pelatih Persija—yang saat itu berada di zona degradasi—pada tahun 2010 membuat Firman lagi-lagi ikut serta dengan bermain bagi Macan Kemayoran dan memilih meninggalkan klubnya saat itu, Pelita Jaya (Kini Madura United).

Setelah Persija, keduanya pun akhirnya memilih jalan sendiri. Benny ke Mitra Kukar kemudian, Firman memilih bergabung bersama Sriwijaya. Sejak saat itu, prestasi Firman lebih menonjol dengan memenangkan gelar.

Di Sriwijaya Firman sukses meraih gelar Liga Super Indonesia (Kini Liga 1) pada tahun 2012. Kemudian ia yang bergabung bersama Persib usai meraih gelar di Sriwijaya sukses mengulangi prestasi tersebut pada tahun 2014 silam.

Sementara Benny gagal di Mitra Kukar dan pada musim berikutnya ditunjuk untuk menukangi Sriwijaya.

Momen menarik antara Benny dan Firman terjadi pada tahun 2015 lalu. Saat itu keduanya bertemu bukan sebagai sahabat namun sebagai rival. Benny melatih Sriwijaya sementara Firman bermain sebagai punggawa Persib itu bertemu dalam laga final Piala Presiden 2015. Dalam pertandingan tersebut, Firman sukses mengalahkan tim yang diasuh oleh tutornya tersebut.

Bahkan, ketika Benny tak lagi melatih, Firman sukses menutup karirnya dengan menjadi kampiun bersama Bhayangkara FC pada Liga 1 musim 2017 lalu. Kini, Firman pun mulai mengikuti jejak mentornya sebagai pelatih.

Firman sendiri mengaku bahwa Benny menjadi inspirasinya dalam karir barunya sebagai asisten pelatih di Bhayangkara FC. Dan yang menjadi pertanyaan, akankah, dirinya mengikuti jejak Benny dengan menciptakan anak emas hasil didikannya untuk bermain bersama di satu klub?

Baca juga
Kisah Penemu Bakat Firman Utina dan Egy Maulana Vikri

 

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Sepakbola Indonesia | Editor: Andi Wahyudi | 12 March 2018

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company