image Geraint Thomas (jersey biru) di Paris-Roubaix. Thomas gagal melanjutkan race setelah mengalami crash (Twitter/Team Sky) Silvan Dillier Peter Sagan

Fakta-Fakta Menarik dari Paris-Roubaix 2018

Text : Adi Supriyatna | Photo / Video : Paris-roubaix | Editor: Andi Wahyudi | Media Source: Cyclingweekly | 13 April 2018

uploads/news/2018/04/fakta-menarik-dari-paris-roubaix-92962e2d2175719.jpg

Fakta Menarik dari Paris-Roubaix

paris-roubaix-2018-96816aa5ec30d42
paris-roubaix-2018-13710bf733b2919
paris-roubaix-2018-15703b2f065dd1d
SPORTKU.COM

Paris-Roubaix 2018 memang telah berakhir. Tapi race klasik akhir musim semi di Belgia ini menyisakan sejumlah catatan menarik.

Beberapa catatan tersebut meliputi kemenangan Sagan yang dinilai istimewa, munculnya kejutan dari Silvan Dillier, hingga gagalnya pebalap tuan rumah, Belgia, yang menang di race ini.

Uniknya Kemenangan Sagan
Peter Sagan (Bora-Hansgrohe) sukses keluar sebagai juara di ajang Paris-Roubaix musim ini. Kemenangan Sagan kali ini dianggap istimewa bila dilihat dari beberapa sisi.

Pertama, Sagan adalah juara dunia yang berhasil menjadi juara di Paris-Roubaix. Hal ini tergolong langka, mengingat momen seperti ini, terakhir dicatat oleh Bernard Hinault pada 1981.

Selain itu, kemenangan Sagan dinilai cukup spesial dan penuh gaya bila dibandingkan dengan pebalap lainnya. Para pebalap klasik besar sepanjang dekade terakhir, semua pebalap yang juara di race ini menang dengan jarak yang jauh dari pebalap di belakangnya.

Fabian Cancellara, misalnya, menang dari jarak lebih dari 50km untuk memenangkan Paris-Roubaix 2010. Tom Boonen, juga melakukan dari jarak yang sama ketika memenangkan edisi 2012 dan Philippe Gilbert memuncak ketika ia memenangkan Tour of Flanders dari jarak 55km.

Baca juga:
LIMA GOL IKONIK ZLATAN IBRAHIMOVIC

Kemenangan Sagan juga memunculkan adrenalin, dengan kehadiran Silvan Dillier (Ag2r-La Mondiale). Fakta menegaskan bahwa kemenangan dipastikan di garis finish.

Selama balapan, Sagan berada di posisi yang tidak biasa karena tidak menjadi favorit untuk menang. Penampilannya pada musim semi tahun ini belum yang terbaik, dan rekornya di Paris-Roubaix pun ternyata sangat buruk, dimana pencapaian terbaik sagan sebelumnya hanya finish di posisi keenam. 

Kejutan dari Silvan Dillier
Juara nasional Swiss, Silvan Dillier, adalah orang terakhir yang selamat dari Sagan, yang telah menjatuhkan satu-per-satu pebalap lainnya. Ia sempat diprediksi akan jatuh pada titik tertentu. Namun entah bagaimana, pebalap berusia 27 tahun itu mampu bertahan di lintasan.

Silvan bergantian memimpin race. Silvan bahkan mampu memimpin sprint saat memasuki velodrome, meski akhirnya dia hanya mampu finish di belakang roda Sagan.

Gagalnya Taktik Quick-Step Floors
Tim Quick-Step Floors menjadi tim yang solid dan sangat jarang melakukan kesalahan sepanjang musim semi. Buktinya, tim ini mengantarkan pebalapnya menjuarai Flanders.

Tetapi taktik mereka tidak berjalan sesuai rencana di Paris-Roubaix. Memang ada serangan awal - Philippe Gilbert di Arenberg Forest dan ketika dia tertangkap 75km dari garis finish, Zdenek Stybar memimpin sejauh 15 kilometer. Tetapi mereka berdua ditutup oleh peloton dan tim Trek-Segafredo dan Bora-Hansgrohe yang memiliki Sagan, yang bertekad untuk tidak membiarkan Quick-Step.

Quick-Step tampak kehilangan kesempatan untuk menang adalah 55km dari finish. Pada balapan sebelumnya dan pada momen tersebut, pebalap Quick-Step Floors telah membuat langkah kemenangan. Tapi Van Avermaet gagal di depan dan kemudian Sagan-lah yang berhasil yang menggunakan kecepatan untuk melompat keluar dari kelompok itu.

Saat Sagan melarikan diri dari kepungan pebalap Quick-Step Floors, pebalap kunci Gilbert dan Stybar tampak kelelahan akibat serangan yang telah dilakukan sebelumnya.

Terpstra memang melakukan pengejaran dengan maju ke depan pada banyak bagian penting. Tapi upayanya tak membuahkan hasil dan diapun hanya mampu meraih podium ketiga.

Baca juga:
PETUALANGAN DANNY MACASKILL DAN CLAUDIO CALUORI DI GRAUBÜNDEN

Team Sky Dirundung Crash
Balapan kali ini menjadi balapan yang buruk bagi tim asal Inggris, Team Sky. Semuanya dimulai dengan ketika Geraint Thomas terpaksa meninggalkan balapan setelah mengalami kerusakan pada bagian lintasan berbatu pertama.

Luke Rowe, kemudian mengikutinya dengan jatuh saat menuju Mons-en-Pévèle, bersama dengan Alexander Kristoff (UAE Tim Emirates) dan Tony Martin (Katusha-Alpecin).

Team Sky masih menyisakan Dylan Van Baarle, Ian Stannard dan Gianni Moscon dalam persaingan. Tetapi semuanya gagal melangkahkan ke podium juara.

Kabar baik untuk tim ini adalah dengan suksesnya Lewis Askey, yang berhasil memenangkan Paris-Roubaix Juniors.

Akhir musim Semi yang Mengecewakan Untuk Belgia
Kalau biasanya pebalap Belgia selalu tajam di ajang Paris-Roubaix, tidak demikian pada tahun ini. Tak satupun dari mereka bisa menang.

Kelompok pengejar di belakang Sagan, di Carrefour de l'Arbre, terdapat tiga pebalap top Belgia, yaitu Greg Van Avermaet (BMC Racing), Sep Vanmarcke (EF Education First -Drapac) dan Jasper Stuyven (Trek-Segafredo). Namun, mereka gagal menahan Sagan.

Dari semua race WorldTour klasik di utara tahun ini, hanya satu yang dimenangkan oleh pebalap asal Belgia, yaitu Yves Lampaert di Dwars Door Vlaanderen.

Peter Sagan

paris-roubaix-2018-15703b2f065dd1d.jpg

Text : Adi Supriyatna | Photo / Video : Paris-roubaix | Editor: Andi Wahyudi | Media Source : Cyclingweekly | 13 April 2018

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company