Dewasalah Suporter Indonesia!

Text : Aga Buge Katiara | Photo / Video : Pariyono | Editor: Andi Wahyudi | 25 April 2018

Dewasalah Suporter Indonesia!

SPORTKU.COM

Suporter memang menjadi elemen sangat penting dalam olahraga apapun, termasuk sepak bola. 

Sepak bola Indonesia kini sedang dalam tahap berkembang ke era yang lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu, PT Liga Indonesia Baru (LIB) mulai dibentuk sejak musim lalu untuk menaungi kompetisi di Indonesia, yaitu Liga 1, 2, dan 3. 

Dan dalam membangun sepak bola ke arah yang lebih baik memang banyak jalan terjal yang menghalangi. Salah satunya adalah faktor suporter. 

Sudah bukan rahasia lagi bahwa mayoritas penduduk Indonesia sangat menggemari sepak bola. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa sangat menyukai olahraga si kulit bundar ini. Namun, inilah masalahnya, dari jutaan penggemar sepak bola Indonesia masih banyak bersikap tidak dewasa.

Kenapa dikatakan demikian? Bisa dilihat pada pekan keempat lalu, saat Arema FC menjamu Persib Bandung di Stadion Kanjuruhan, 15 April 2018. Pertandingan tersebut diwarnai kericuhan sesaat sebelum laga berakhir.

Baca Juga:
Momen Penting Saat Satria Muda Menjuarai IBL 2018

Kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan (Fox Sports Asia)

suporter-indonesia-5587832a493099e.jpg

Banyak yang mengatakan ada dua pemicu utama di sini. Yang pertama, ada yang menyebut Aremania, julukan suporter Arema merasa kesal dengan kepemimpinan wasit Handri Kristanto yang dinilai berat sebelah. Dan persoalan kedua, Aremania kesal kepada manajemen karena performa tim kesayangannya di musim ini belum sekalipun meraih kemenangan. 

Seperti diungkapkan pembina klub, Agoes Soerjanto, menurutnya ini menjadi teguran keras dari Aremania terhadap manajemen.  “Yang jelas ini menjadi momentum koreksi yang luar biasa dari Aremania kepada kami. Karena itu manajemen dan tim harus menerima dengan baik teguran keras dari Aremania terhadap situasi sekarang,” kata Agoes dikutip Wearemania.

Tetapi, apapun pemicunya, jelas kerusuhan di sepak bola tidak dibenarkan. Apalagi, sampai menimbulkan korban jiwa seperti yang menimpa salah satu Aremania, Dhimas Duha Romli yang akhirnya meninggal dunia karena mengalami sesak nafas usai insiden tersebut.

Jatuhnya korban akibat insiden ini jelas menambah panjang saja daftar korban akibat sepak bola tanah air. Sebelumnya, sudah banyak korban yang meregang nyawa di saat sepak bola seharusnya menjadi hiburan bagi masyarakat Indonesia. 

Jika dilihat dari pertandingan itu, memang yang patut disalahkan adalah Panitia Pelaksana (Panpel) Arema, yang terlihat tidak siap saat menghadapi laga besar seperti itu. Terlihat dari personel keamanan yang sangat sedikit, padahal lawan yang dihadapi adalah Persib Bandung, yang jelas-jelas rawan terjadi kericuhan.

Hal tersebut juga sudah disampaikan oleh CEO Singo Edan, Iwan Budianto, yang mengakui hal tersebut. Meski ia juga menyesalkan tindakan aparat keamanan yang bertindak represif dalam menangani animo suporter yang memaksa masuk ke lapangan.

“Saya sebagai CEO yang membawahi tim, manajemen, Panpel, mengakui ada kelalaian aparat yang kami tugaskan. Untuk itu saya meminta maaf atas insiden yang sama-sama tidak kita inginkan ini. Sikap dari aparat keamanan yang melakukan pemukulan atau apapun tidak dibenarkan sama sekali dan saya siap memberi sanksi,” ucap Iwan Budianto

Aksi Jakmania mendukung tim kesayangannya, Persija Jakarta

suporter-indonesia-34717f1a311eea7.JPG

Hal ini jelas menjadi pelajaran bagi semua pihak. Untuk itu Komisi Disiplin (Komdis) PSSI pun sudah melayangkan sanksi kepada Arema. Sanksi yang diberikan dalam bentuk denda sebesar Rp 300 juta kepada manajemen serta Panpel Arema. 

Sepak bola Indonesia jelas tidak bisa terus seperti ini di kala negeri tetangga terus berbenah jadi lebih baik. Banyak faktor memang yang mesti dibenahi karena ini melibatkan banyak pihak. Tentu kita sebagai suporter menjadi orang pertama yang terlebih dulu bersikap dewasa.

Dewasa di sini bisa diartikan dalam banyak hal. Dewasa dalam menerima keputusan wasit, meskipun terkadang merugikan. Dewasa dalam menerima kekalahan serta dewasa dalam mengakui kemenangan tim lawan. 

Jangan dulu kita menuntut kompetisi tanah air bisa berjalan profesional atau mengikuti kiblat sepak bola di Eropa kalau perilaku kita masih kekanan-kanakan. Untuk itu, mulailah dari diri sendiri terlebih dulu dalam upaya membuat sepak bola kita lebih baik lagi di masa depan. Jika sistem kompetisi carut marut, maka kita sebagai suporter tidak harus mengikuti hal tersebut bukan?

Baca Juga:
Chikakeyy, Hijaber Berprofesi Joki Drag Bike

Baca Juga:
Menang Telak Atas Roma, Liverpool Tatap Final Liga Champions

Text : Aga Buge Katiara | Photo / Video : Pariyono | Editor: Andi Wahyudi | 25 April 2018

  • facebook share

RELATED NEWS

Ketika Murid Rossi Tak Berkutik

Ketika Murid Rossi Tak Berkutik

TOPIC OF THE WEEK
Geliat Arsenal Bersama Unai Emery

Geliat Arsenal Bersama Unai Emery

TOPIC OF THE WEEK
Sejarah COTA F1

Sejarah COTA F1

TOPIC OF THE WEEK
Kritikan Rossi Berbuah Manis

Kritikan Rossi Berbuah Manis

TOPIC OF THE WEEK

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company