image John Isner dijuluki sebagai 'The Marathon Man' Pelukan erat, pelukan kemenangan bagi keduanya setelah menempuh semifinal Wimbledon terpanjang Kevin Anderson berjuang sebagai petenis Afrika selatan pertama yang menembus final Wimbledon sejak Brian Norton tahun 1921

Semifinal Wimbledon Terpanjang, Anderson Sudahi Isner

Text : Maya Soeparwoto | Photo / Video : Wimbledon | 14 July 2018

uploads/news/2018/07/anderson-menangi-semifinal-wimbeldon-6789886834035fc.jpg

Anderson Menangi Semifinal Wimbeldon Terpanjang

wimbledon-2018-2812632dae34b4a
wimbledon-2018-60270f5dcc3404e
wimbledon-2018-41475876173afda
SPORTKU.COM

Inilah pertandingan terpanjang kedua dalam sejarah Wimbledon. Kevin Anderson akhirnya menempati final.

Unggulan kedelapan, petenis Afrika Selatan Kevin Anderson berjuang selama enam jam dan 35 menit di Centre Court untuk menaklukkan petenis AS John Isner dengan skor 7-6 (8-6) 6-7 (5-7) 6-7 (9-11) 6-4 26-24, Jumat (13/7).

Pada laga marathon yang menyita perhatian para fans tenis dunia, untuk set terakhir saja berlangsung selama dua jam dan 50 menit. Tercatat dalam sejarah Wimbledon, laga terpanjang terjadi tahun 2010 antara John Isner dan Nicolas Mahut, menempuh waktu 11 jam 5 menit. Sedangkan menempati urutan ketiga adalah laga ganda putra MarkKnowles/Daniel Nestor VS Simon Aspelin/Todd Perry di tahun 2006 dengan durasi 6 jam 9 menit.

Durasi pertandingan ini mengalahkan laga epik putaran ketiga 2012 di Wimbledon antara Marin Cilic dan Sam Querrey - yang berlangsung lima jam dan 31 menit. Pertandingan ini juga memecahkan rekor sebelumnya untuk semifinal terpanjang di SW19, ketika Djokovic membutuhkan empat jam dan 44 menit untuk mengalahkan Juan Martin del Potro pada 2013.

Namun dalam sejarah pertandingan tenis duinia, laga durasi ini masih lebih pendek dari pertandingan putaran pertama Piala Davis antara Leonardo Mayer dan Brasil Joao Souza, yang berlangsung selama enam jam dan 43 menit di 2015.

Anderson, yang menjadi runner-up untuk Nadal pada final AS Terbuka tahun lalu, menjadi petenis pria Afrika Selatan pertama yang mencapai final Wimbledon sejak Brian Norton pada 1921.

Dia akhirnya mematahkan servis petenis Amerika berusia 33 tahun itu pada game penentuan yang ke-49 setelah menempuh waktu melelahkan. Ia tampak tenang ketika menahan keberaniannya untuk mengamankan kemenangan.

Ketika laga panjang ini usai, tidak ada jeritan kemenangan, tak ada kepalan tangan dan juga taka ada lengan terangkat untuk sebuah perayaan. Hanya satu reaksi Anderson yang langsung dilakukan adalah memberi pelukan erat, pelukan simpatik pada sang lawan John Isner.

"Saya tidak tahu harus berkata apa sekarang. Hanya terus bermain dalam kondisi sulit bagi kami berdua," katanya Anderson usai pertandingan.

"Anda merasa seperti hasil imbang, tetapi seseorang harus menang. Saya telah mengenal John sejak lama. John adalah pria hebat dan saya merasakan dalam dirinya. Sejujurnya dia telah mendorong dalam karir saya dan memiliki karir yang hebat,"

Anderson juga mengatakan bahwa ia telah memacu dirinya lebih keras seperti pencapaian Isner selama ini. Maka dengan rendah hati ia mengatakan, "Saya harus mengucapkan selamat kepada John untuk turnamen besar ini dan semoga dia bisa kembali lebih baik,"

Baca Juga:
Kerber Kembali Menggeliat, Pastikan Final

Pasangan ini datang ke pertandingan dengan total 248 ace di antara mereka. Dengan peluang break-point yang sedikit dan jauh di antara keduanya, dua set yang baru dibuka menjadi tie-break.

Memimpin 4-3 di set ketiga, Anderson akhirnya mematahkan servis Isner dari 110 servis berturut-turut. Itu membuat dirinya melakukan servis untuk set. Tapi dia kehilangan kesempatannya dan menuju ke tie-break yang dimenangkan Isner.

Anderson mematahkan pada awal set keempat untuk memimpin 3-2, peluang Isner untuk membalas kembali. Tetapi petenis Afrika Selatan itu kembali mematahkan servisnya menjadi 5-4 - dan kali ini ia melakukan servis untuk menggiring pertandingan ke penentuan.

Dengan kelelahan mulai menyelimuti kedua pemain, butuh waktu hingga game ke-15 sebelum Anderson meraih peluang break-point pertama, yang diselamatkan Isner dengan ace 42.

Anderson memiliki kesempatan lain di game 21 dan juga di game 34. Namun Isner tetap bertahan. Dengan kelelahan yang tertimbun, Anderson melakukan servisnya dan akhirnya ia memanfaatkan peluangnya.

 Apakah boleh bagi pemain untuk tidak memiliki tie break akhir??

Juara Wimbledon tiga kali John McEnroe menuturkan, "Saya berharap upaya luar biasa dari dua petenis profesional yang berpengalaman dan sangat bugar ini memungkinkan kekuatan untuk membuat perubahan. Bagi mereka dan bagi para pemain mendatang,"

"Saya sangat meyakini itu, karena olahraga kami terus memiliki sebanyak mungkin penonton. Anda tidak bisa mengatakan bermain tie-break tidak akan menjadi akhir yang luar biasa untuk pertandingan ini. Set kelima tidak harus berakhir enam, bisa jadi 10. Ini akan berpengaruh pada kinerja Anderson di final nanti. Aturan harus dibuat untuk menguntungkan para pemain,"

Baca Juga:
Super Mom Serena Williams Capai Final ke-10 Wimbledon


 

 

Text : Maya Soeparwoto | Photo / Video : Wimbledon | 14 July 2018

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company