Indonesia Darurat Pelatih Lokal Berkualitas

Text : Aga Buge Katiara | Photo / Video : Pariyono | Editor: Andi Wahyudi | 19 September 2018

Indonesia Darurat Pelatih Lokal

SPORTKU.COM

Sepak bola Indonesia saat ini memang kekurangan stok pelatih lokal berkualitas yang memiliki lisensi pro.

Sebenarnya saat ditunjuknya Kurniawan Dwi Yulianto sebagai pelatih timnas Indonesia kami melihatnya bagai dua mata pisau. Sisi yang pertama tentu saja senang karena akhirnya setelah sekian lama muncul pelatih muda Indonesia yang diharapkan bisa membawa penyegaran untuk sepak bola Indonesia.

Namun, di lain pihak, kami seolah masih rindu akan sosok Luis Milla yang sukses mengubah cara bermain Indonesia menjadi lebih menghibur, meski sampai saat ini belum menghadirkan prestasi. Ditambah, gelaran Piala AFF yang akan dimulai sebentar lagi tentu saja sangat berbahaya bagi Indonesia jika harus berganti pelatih di tengah masa persiapan.

Di sini kami akan membahas poin pertama secara lebih dalam karena pada faktanya Indonesia memang butuh sosok pelatih lokal berkualitas yang sudah lama hilang. Tidak usah terlalu jauh melihat hal itu, coba saja tengok kompetisi Liga 1 yang sedang berlangsung saat ini.

Dari 18 tim yang bertanding hanya delapan tim yang menggunakan jasa pelatih lokal, 10 tim tersisa tercatat masih memakai pelatih asing seperti Mario Gomez (Persib Bandung), Stefano Cugurra Teco (Persija Jakarta), Simon McMenemy (Bhayangkara), Gomes De Oliviera (Madura United), dan Jacksen F. Tiago (Barito Putera). 

Nama yang disebut itu merupakan tim papan atas yang kini sedang berjuang keras untuk meraih gelar. Hanya ada Bali United yang menggunakan pelatih lokal (Widodo Cahyono Putro) yang saat ini bertengger di posisi lima besar. 

Baca Juga:
Amandio Juara Umum Di Battle Drift Putaran Ketiga

Tentunya hal itu menjadi ironi tersendiri karena pada dasarnya jika ingin memiliki pembinaan sepak bola yang baik maka harus memiliki pelatih berkualitas pula. 

“Indonesia masih kekurangan pelatih berkualitas. Terbukti, tidak ada satu pun pelatih di negara kita yang punya lisensi AFC Pro. Pelatih-pelatih kita kurang dukungan. Mereka perlu dana yang besar jika ingin mendapatkan lisensi,” jelas Bambang Nurdiansyah. 

Hal ini pula yang dirasakan oleh mantan pemain Real Madrid, Julien Faubert. Faubert yang membela Borneo FC di putaran pertama lalu menyayangkan kurangnya pelatih berkualitas di Indonesia. 

“Pemain-pemain di sini ada di level yang bagus, impresif, dan intensif. Tapi kurangnya pelatih berkualitas yang bisa membawa kompetisi ke level yang lebih tinggi. Negara kalian butuh pelatih yang datang dengan kecintaan besar terhadap sepak bola, bukan hanya untuk uang,” jelas Faubert. 

Dari pernyataan dua pelaku sepak bola di atas jelas membuktikan bahwa saat ini memang diperlukan pelatih-pelatih anyar yang bisa mendobrak dominasi para pelatih asing. Bukannya ingin anti pelatih asing tetapi setidaknya kita bisa berkaca pada Thailand yang dua kali menjuarai Piala AFF dengan pelatih muda, bernama Kiatisuk Senamuang.

Kala itu, Thailand di bawah asuhannya berhasil merajai Asia Tenggara pada 2014 dan 2016. Dimana pada 2016, Negeri Gajah Putih mengandaskan Indonesia pada partai puncak. 

Jika Thailand bisa meraih kesuksesan dengan jasa mantan pemainnya, kenapa tidak dengan Indonesia. Apalagi, kita memiliki banyak mantan pemain berkualitas, seperti Bima Sakti, Widodo Cahyono Putro, Bambang Pamungkas, Kurniawan, Budi Sudarsono, dan masih banyak lagi. 

Mereka seharusnya diberikan kesempatan untuk memimpin sepak bola Indonesia. Mungkin bisa dimulai dari usia muda terlebih dulu baru naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Untuk mengatasi masalah kurangnya pelatih lokal, PSSI sebenarnya sudah membuka kursus kepelatihan yang berlisensi Pro AFC di tahun 2018 ini. Dan sebanyak 24 pelatih yang sudah mengantongi lisensi A AFC turut mengikuti kursus ini.

Diantaranya adalah Djadjang Nurdjaman, Joko Susilo, Aji Santoso, Rahmad Darmawan, Rudy Eka Priyambada, Nilmaizar, Indra Sjafri, dan lainnya. 

“Memang ini sejarah karena baru pertama kali kita menggelar ini, namun jangan dijadikan hal baru. Tapi menjadi refleksi betapa kita sangat tertinggal dengan negara lain, khususnya populasi dengan lisensi Pro AFC. Dengan keyakinan dan tekad kuat kami optimistis bisa melahirkan pelatih handal,” jelas Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono. 

Langkah yang diambil PSSI tersebut sudah seharusnya kita dukung, karena jika sepak bola suatu negara ingin maju, wajib memiliki pelatih hebat di belakangnya. Selain itu, nantinya para pelatih yang berlisensi AFC Pro akan mendapat keuntungan bisa berkarier di luar negeri jika mendapat kesempatan tentunya.

Semoga saja di masa depan, ada pelatih lokal yang bisa membawa sepak bola Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan diperpanjangnya kontrak Luis Milla sebagai pelatih Indonesia juga diharapkan bisa membawa pengaruh positif kepada perkembangan pelatih lokal kita pastinya. 

Baca Juga:
Start Terbaik Liverpool Sejak 1961/1962

Baca Juga:
Inter Milan Menang di Liga Champions, Bepe Heran

Text : Aga Buge Katiara | Photo / Video : Pariyono | Editor: Andi Wahyudi | 19 September 2018

  • facebook share

RELATED NEWS

Ketika Murid Rossi Tak Berkutik

Ketika Murid Rossi Tak Berkutik

TOPIC OF THE WEEK
Geliat Arsenal Bersama Unai Emery

Geliat Arsenal Bersama Unai Emery

TOPIC OF THE WEEK
Sejarah COTA F1

Sejarah COTA F1

TOPIC OF THE WEEK
Kritikan Rossi Berbuah Manis

Kritikan Rossi Berbuah Manis

TOPIC OF THE WEEK

QUICK NAVIGATION

Image

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Image

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company