image Yoyok Cempe dan Tonny Wisnu Ario Danu dan Julian Johan

Kelas F1 Jadi Sorotan, Rifat Sungkar: Mesin 1.200 Tidak Sejalan dengan Balap

Text : Harsya Fikmazi | Photo / Video : Harsya Fikmazi, Sonny Hastara | Editor: Andi Wahyudi | 20 September 2018

uploads/news/2018/09/kontroversi-regulasi-baru-kelas-769822fe86a20f0.jpg

Kontroversi Regulasi Baru Kelas F.1

regulasi-kelas-f-1-kontroversi-971229a3d653a2c
regulasi-kelas-f-1-kontroversi-53227d615cea055
SPORTKU.COM

Komisi Reli telah menetapkan draft perubahan regulasi kelas F.1 untuk musim depan. Salah satu alasannya adalah ingin menarik banyak peserta.

Oleh karena itu, agar lebih familiar dan banyak animonya, Rifat Sungkar, sebagai orang yang duduk di dalam komisi reli, menjelaskan perihal perubahan regulasi tersebut. Menurutnya, untuk balapan di kelas F.1 yang saat ini ramai menggunakan mesin 1.200 cc tidak sejalan dengan konsep balap. Dalam sudut pandang Rifat, mobil dengan kapasitas 1.200 cc itu masuk dalam kategori LCGC dimana bisa dikatakan mobil murah dengan konsumsi bahan bakar irit.

"Sebenarnya alasannya tidak tiba-tiba, kelas F.1 adalah turunan dari zaman dulu di 2013 adalah kelas N.12. Pada waktu itu, generasi waktu itu mencetuskan ada kelas 1.200 karena dinilai mobil 1.200 cc adalah entry level, harga mobil murah dan affordable. Ternyata, membuat mobil 1.200 cc modal dasar equipment balapnya sama saja kaya mobil lain, cuma cc-nya aja kecil," buka Rifat kepada SPORTKU.

Selain melihat kapasitas mesin yang dirasa kurang mumpuni, Rifat juga menyoroti pereli yang terdaftar di kelas F.1. Rifat menjabarkan, sepanjang gelaran reli mulai 2013 hingga saat ini, peserta yang ada di dalamnya tidak sampai lima pereli. Oleh karena itu, ia mulai merumuskan dan menganalisa mengenai problem apa yang menyebabkan hal tersebut.

Baca juga:
DILEMA SIRKUIT DAN BAN LOKAL

"Tahun berjalan, 2013, 2014, 2015, 2016 sampai saat ini, pesertanya tidak sampai lima, dan pesertanya terus terusan tidak mencapai lima. Nah saya kan ada di komisi sejak tahun lalu, dan saya menganalisa problemnya itu apa? Ternyata 1.200 cc secara konsep waktu IMI bikin N.12, mau merangkul ATPM, ternyata 1.200 itu kan LCGC, itu mobil murah dengan bensin irit, kalau dia ikut balap menang, persepsinya bensinnya irit gak? Masa mobil kecil, menang balap, pasti bensinnya boros. Secara konsep, enggak ketemu, mobil terlalu kecil dibalapan enggak ketemu," tambah Rifat.

Dengan dinaikkannya kapasitas mesin menjadi 1.500 cc, Rifat percaya bahwa akan lebih ramai dengan peserta. Ia pun mengambil contoh pada ajang balap slalom dan balapan lainnya, dimana kelas 1.500 cc dipadati oleh banyak peserta setiap gelarannya.

"Kalau dilihat dari mobil mana yang populer yang bisa berkompetisi, lihat aja balap, yang paling rame mana? 1.500 kan? Lihat aja slalom yang ramai mana, 1.500 kan? Jadi di 1. 500 cc ini memang mobil jalan-jalan yang berpotensi untuk di develop untuk mobil balap. Oleh sebab itu, tahun lalu, saya sudah berusaha menaikan menjadi 1.400 cc, dan dijanjikan sama komunitas-komunitasnya bakalan ada yang baru. Tapi hanya ada satu, dua orang yang dominan," imbuhnya.

Namun demikian, jika melihat dari kelas 1.500 cc dalam kejuaraan slalom yang notabene merupakan balapan entry level untuk seorang pebalap, tidaklah bisa dijadikan patokan. Pasalnya, dalam balap slalom dan touring sekalipun, kedua jenis mesin dengan masing-masing kapasitas tersebut, berada di kelas terpisah. Sementara di F.1, andai regulasi tersebut sudah diketok palu, maka pereli yang menggeber mobil dengan kapasitas 1.200 atau kurang dari 1.500 cc, harus bersusah payah untuk bisa mengalahkan pereli yang menggunakan mobil berkapasitas 1.500 cc.

Baca juga:
MENGAPA MOBIL BALAP SPOORING MANUAL?

Untuk memutuskan hal tersebut, memang merupakan hal sulit. Terlebih, ada kalangan yang menolak jika hal tersebut benar-benar direalisasikan di tahun depan.

"Jadi saya rasa ini cukup, tapi kita harus melakukan sesuatu. Memang, tidak semua orang senang. Tapi kalau dari 10 orang yang harus saya senangin, saya tidak bisa menyenangkan sepuluh-sepuluhnya, saya pasti bisa menyenangkan yang mayoritas saja. Dipikirkan secara data, saya punya datanya kok, dipikirin secara egois, saya enggak egois, saya realistis. Tim kami, komisi reli realistis," paparnya.

Sedikit sesuatu yang menyentil pikiran adalah, apakah dengan perubahan regulasi tersebut bisa dipastikan peserta akan bertambah? Andai dibalikkan ke balap slalom yang selalu dipadati dengan ratusan peserta, wajar saja karena memang untuk balapan ngepot tersebut mobil yang digunakan tidak mengandalkan modifikasi penuh, kecuali untuk kelas F atau modifikasi.

Andai pun peraturan tetap diketok palu di penghujung tahun nanti atau di lain waktu, apakah peserta lama yang sudah bertahan akan tetap berada di kelas tersebut? Untuk mengejar waktu dan berlomba-lomba menjadi yang tercepat di kelas F.1 saja sudah butuh pengorbanan yang cukup, baik itu waktu dan dana yang dikucurkan. Apalagi nanti ada mobil yang berkapasitas 1.500 cc dengan minim modifikasi mesin serta suspensi, apa tidak timpang?

Text : Harsya Fikmazi | Photo / Video : Harsya Fikmazi, Sonny Hastara | Editor: Andi Wahyudi | 20 September 2018

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

Mobil Khusus untuk Junior WRC

Mobil Khusus untuk Junior WRC

WRC
Pasangan Baru Kris Meeke

Pasangan Baru Kris Meeke

WRC
Special Gift For Reagan

Special Gift For Reagan

SPEED RALLY
Jawara Kejurnas Reli Putaran Ketiga

Jawara Kejurnas Reli Putaran Ketiga

SPEED RALLY

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company