image

Kepergian Marotta, Kehilangan Besar bagi Juventus

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Calcio E Finanza | Editor: Andi Wahyudi | 7 October 2018

SPORTKU.COM

Guiseppe Marotta, pria yang menjadi otak di balik kesuksesan transfer Juventus dalam beberapa tahun belakangan itu memilih pergi dari klub.

Kabar mengejutkan dari juara bertahan Serie A musim lalu, Juventus. CEO sekaligus direktur umum klub, Guiseppe “Beppe” Marotta memilih mengundurkan diri dari jabatannya tersebut per tanggal 25 Oktober 2018.

Keputusan ini cukup mengagetkan dan terbilang cukup mendadak karena sebelum ini tidak ada kabar atau tanda-tanda terkait pengunduran pria yang sudah mengabdi bersama Juventus sejak tahun 2010 silam.

Adapun keputusan Marotta meninggalkan Juventus lantaran dirinya sudah tak seia sekata dengan Presiden Bianconeri, Andrea Agnelli terkait kebijakan dalam menjalankan keputusan klub di masa depan.

“Saya tidak lagi sinkron dengan Presiden Agnelli. Ini mengecewakan, keputusan telah dibuat dan sekarang harus diumumkan, karena nama saya sudah tidak ada lagi di daftar untuk Dewan Direksi,” beber Marotta seperti dikutip dari Football Italia.

Isu yang beredar menyatakan bahwa Marotta akan mencalonkan diri untuk menjadi Presiden FIGC. Namun, pria yang baru saja dinobatkan sebagai eksekutif klub terbaik dalam perkumpulan tahunan pegiat industri sepak bola, World Football Summit, pada 24-25 September 2018 lalu membantah hal tersebut.

"Saya pikir keputusan ini tepat untuk mengantisipasi pemberitaan media yang mungkin mencoba menyampaikannya dengan bermacam versi. Saya juga menegaskan, keputusan ini tidak terkait dengan rencana menjadi kandidat Presiden FIGC karena itu bukan pengalaman yang menarik," ungkap Marotta seperti dikutip Sky Sports Italia.

Kepergian mendadak Marotta sendiri dikomentari oleh Pelatih Juventus, Massimiliano Allegri. Menurutnya, sosok pria berusia 61 tahun itu telah mampu mengubah tim asal Turin itu menjadi tim besar saat ini.

“Saya pikir kami memiliki empat setengah tahun yang indah bersama. Dia (Marotta) adalah direktur terbaik Eropa. Dia membangun Juve bersama dengan semua direktur lainnya untuk menciptakan tim pemenang. Sejujurnya, saya tidak tahu harus berkata apa, karena ini adalah berita baru untuk saya juga,” jelas Allegri.

Sementara itu, Leonardo Bonucci merasa sedih dengan kepergian Marotta. Pasalnya, sosok itulah yang berjasa besar dalam karir pemain berusia 31 tahun di mana ia menjadi pemain yang direkrut di awal tugasnya sebagai juru transfer Juventus pada 2010 silam.

“Marotta? Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada manajer, karena dia menginginkan saya bersama dengan Paratici bahkan sebelum Piala Dunia 2010. Dia membawa saya ke Juventus, saya masih muda, jadi saya hanya bisa mengucapkan terima kasih," kata Bonucci seperti dikutip dari Calcio Mercato.

"Jelaslah bahwa ketika Anda kehilangan orang-orang yang Anda cintai dengan baik, ada sedikit kesulitan dalam menyerap segalanya, tetapi ini adalah sepakbola dan tentu saja merupakan keputusan yang dievaluasi oleh mereka yang bertugas. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada Marotta," sambungnya.

Lepasnya Marotta dari Juventus membuat ia pun kini menjadi incara klub-klub top Eropa. Barcelona, Manchester United, hingga Inter Milan dikabarkan telah melakukan pendekatan kepada pria berkebangsaan Italia tersebut.

Baca juga
Sambutan Meriah untuk Kontingen Palestina

Jasa Besar Marotta bagi Juventus

Delapan tahun berada di Juventus, Marotta telah berjasa besar bagi klub utamanya soal Pengamatan, lobi, dan pembelian pemain di bursa transfer menjadi salah satu kunci keberhasilan Juventus yang menjadi penguasa Serie A selama tujuh musim beruntun.

Di awal penugasannya, Marotta sempat dikritik lantaran berani melengserkan pemain idola tifosi Juventus, seperti David Trezeguet, Mauro Camoranesi, Nicola Legrottaglie, Jonathan Zebina dan Fabio Cannavaro yang dianggap sudah habis lantaran faktor usia.

Sebagai gantinya, Marotta mendatangkan 14 pemain baru bagi Juventus di mana dua di antaranya, yakni Bonucci dan Andrea Barzagli masih bertahan dan menjadi pemain andalan bagi klub hingga musim 2018/2019 kali ini.

Memang di musim perdananya Marotta itu, Juventus gagal tampil impresif lantaran hanya menempati urutan ketujuh pada musim 2010/2011. Namun, ia telah memiliki basic skuat yang tangguh dan menyempurnakan ketika menunjuk Antonio Conte sebagai pelatih di musim 2011/2012.

Keputusan tersebut sukses besar. Ditambah pemain seperti Stephan Lichtsteiner, Arturo Vidal, Mirko Vucinic dan Andrea Pirlo membuat Juventus sukses meraih scudetto pertama mereka setelah terdegradasi ke Serie B pada musim 2006/2007.

Marotta pun sukses memaintenance performa Juventus dengan merekrut pemain yang tak hanya tepat, tetapi juga tak terlalu menghabiskan uang klub seperti merekrut pemain berbakat seperti Paul Pogba, Fernando Llorente, hingga Kingsley Coman secara gratis.

Upaya itu dilakukan untuk menghindari Juventus dari aturan financial fair play (FFP) dan hingga musim 2018/2019 kali ini atau selama keputusan jual beli pemain dipegang Marotta, klub yang bermarkas di Allianz Stadium itu selalu lolos dari sanksi tersebut.

Jasa Marotta yang paling siginifikan bagi Juventus adalah terkait regenerasi yang terus berlanjut. Ketika Conte memilih untuk meninggalkan klub dengan menjadi pelatih Timnas Italia, ia sukses menunjuk suksesor dengan mendatangkan Allegri—sosok yang awalnya dibenci penggemar Juventus lantaran ia bekas pelatih Milan.

Namun, Allegri justru membawa Juventus meraih prestasi yang lebih signifikan ketimbang Conte. Bahkan dalam tiga musim terakhir, klub asal Italia itu tampil di partai final Liga Champions meski statusnya masih menjadi finalis.

Selain Allegri, Marotta juga terbukti sukses merekut pemain pengganti yang sepadan ketika mereka kehilangan pemain kunci macam Carlos Tevez, Pirlo, Pogba, Vidal di mana sebagai gantinya ia mampu merekut pemain seperti Miralem Pjanic, Emre Can, Paulo Dybala hingga Cristiano Ronaldo sebagai suksesor.

Bisa dibilang, Marotta adalah sosok yang sukses menggantikan Luciano Moggi, pria yang sebelumnya bertugas serupa di Juventus. Setelah Moggi terkena skandal Calciopolli yang membuatnya dilarang berkecimpung di dunia sepak bola, Si Nyonya Tua kesulitan mencari pengganti. Sosok macam Jean-Claude Blanc hingga Alessio Secco pun tak mampu berbuat banyak di bursa transfer lantaran gagal merekrut pemain yang bisa berkontribusi secara maksimal.

Tak heran, keperigan Marotta adalah kehilangan besar bagi Juventus.

Baca juga
Wacana Ganti Pelatih, Ramos: Gila!

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : Calcio E Finanza | Editor: Andi Wahyudi | 7 October 2018

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company