image

Dampak Buruk Brexit bagi Sepakbola Inggris

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : NewsOdy | Editor: Andi Wahyudi | 8 November 2018

SPORTKU.COM

Inilah sejumlah dampak buruk akibat kebijakan Braxit bagi sepakbola Inggris, khususnya bagi kontestan Liga Primer Inggris.

Kejutan ditunjukan oleh Tottenham Hotspur di ajang Liga Primer Inggris musim 2018/2019 kali ini. Tim asal London itu menjadi satu-satunya klub yang tak melakukan aktivitas berbelanja pemain pada bursa transfer musim panas beberapa waktu lalu.

Banyak yang mengatakan bahwa Tottenham tak membeli satu pemain pun di musim ini karena mereka tengah membangun stadion baru yang menghabiskan dana cukup besar, yakni 1 miliar poundsterling atau setara Rp18 biliun.

Namun, manajer klub berjuluk The Lilywhites itu mengatakan bahwa salah satu penyebab klubnya gagal merekrut pemain lantaran adanya Brexit yang merupakan kependekan dari Britain (Inggris Raya) dan Exit yang mengacu pada keluarnya negara Inggris, Irlandia Utara, Wales, dan Skotlandia dari Uni Eropa—atas hasil keputusan referendum pada 23 Juni 2016 silam.

“Apa yang klub lakukan menunjukkan suatu keberanian. Membangun sebuah tempat latihan baru merupakan investasi yang besar. Biaya pembangunan stadion mencapai 1 miliar poundsterling (Rp18 biliun), itu faktanya,” ungkap Pochettino kepada Sky Sports.

“Lalu Brexit juga memperparah kondisi dengan pembiayaan yang bertambah 30 persen. Ini drama, saya merasa kasihan dengan masyarakat Inggris. Bagi saya, ini suatu keberanian. Tentu orang-orang berpikir kami tidak membeli pemain, tetapi untuk apa membeli sembarang pemain? Kalian perlu menghargai pendapat orang, tetapi tentu saja klub telah memutuskan untuk tidak mengontrak pemain baru," sambungnya.

Efek Brexit sendiri membuat mata uang Inggris, Poundsterling menguat terhadap Euro. Tak heran, Stadion yang awalnya hanya dibangun dengan biaya maksimal 800 juta poundsterling harus bertambah menjadi 1miliar poundterling.

Selain itu, efek Brexit membuat Pochettino kesulitan untuk mendatangkan pemain yang diincarnya akibat terkendala aturan work permit alias izin kerja pemain.

Sebelumnya, pemain Uni Eropa atau pemain yang berasal dari Eropa akan mudah bermain di Liga Inggris karena sebelumnya negeri Ratu Elizabeth itu merupakan anggota dari Uni Eropa. Kini, pemain berstatus Uni Eropa sulit bermain di Inggris lantaran statusnya kini sama dengan pemain Non-Uni Eropa atau Non-EU.

Baca juga
Sektor Sayap Jadi Fokus Indonesia

Asosiasi Sepakbola Inggris (FA) sendiri memiliki banyak aturan bagi pemain Non-EU untuk bermain di Inggris. Aturan pertama adalah para pemain dari 50 negara top anggota FIFA yang dipertimbangkan mendapatkan izin kerja. Itu artinya bila ada pemain yang statusnya di bawah 50 tak akan bisa bermain di Liga Inggris.

Aturan kedua adalah pemain juga wajib memiliki caps penampilan tim nasional. Misalnya negara peringkat 10 besar FIFA diwajibkan tampil setidaknya 30 persen bersama tim nasional negara mereka dalam dua tahun terakhir.

Syarat persentase semakin besar kepada negara di bawah 10 besar FIFA dan maksimal sampai 75 persen.

Tak heran, dengan banyaknya syarat yang diberikan FA ini membuat Tottenham kesulitan mencari pemain dengan kriteria tersebut. Bahkan dipastikan akan sulit bagi mereka untuk merekrut pemain berusia muda di usia di bawah 18 tahun dari kawasan Amerika Selatan seperti Argentina, Brasil atau Uruguay.

Masalah lain yang timbul adalah meningkatnya jumlah harga pemain. Tim di Liga Primer Inggris mau tak mau harus menggunakan mata uang Euro untuk membeli pemain dengan klub-klub Eropa. Menilik dari nilai tukar poundsterling dengan euro semakin terpaut jauh, maka proses jual beli pemain menggunakan mata uang euro, harga pemain justru semakim mahal yang tentu akan merugikan mereka.


brexit-newsody--31417eeee2b9f89.jpg

David Gold (Evening Standard)

Tak heran bila pemilik West Ham United, David Gold secara terang-terangan mengkritik keputusan Brexit.

"Mengapa orang-orang malah ingin mengucilkan negera ini? Mengapa ingin ada perubahan semacam ini? Liga Primer Inggris telah mendunia, saya tak melihat ada upaya untuk mempertahankannya," ungkap Gold seperti dikutip dari Dailymail.

"Kami ingin pesepakbola mendapat pengecualian. Kami hanya bisa melihat dan menunggu. Mereka (pemerintah) tak tahu apa yang akan terjadi (imbasnya). Saya harap sepakbola bisa menemukan jalannya sendiri saat hal terburuk benar-benar terjadi. Waktu akan segera menjawab," sambungnya.

Punggawa Chelsea, Cesc Fabregras juga mengaku tak suka dengan kebijakan Brexit. Hal tersebut membuat penghasilannya berkurang lantaran mereka digaji dengan poundsterling yang nilainya rendah di mata Euro.

"Ini adalah keputusan yang sangat mengecewakan dan saya pikir sangat negatif bagi banyak orang," kata Fabregas seperti dikutip dari Soccerway.

Cesc Fabregas (Chelseadaft)

brexit-newsody--83177dfd718b794.jpg

"Saya pikir itu merusak ke Liga Inggris karena akan lebih sulit untuk menandatangani pemain. Gaji pemain akan berubah jika nilai mata uang Pound menyamai Euro," jelasnya.

Menilik dari apa yang dijelaskan di atas. Kemungkinan yang paling parah dari itu semua adalah klub-klub Liga Primer Inggris akan kesulitan bersaing di kompetisi Eropa mengingat mereka sulit mendatangkan pemain bintang akibat kebijakan Brexit.

Baca juga
Eko Dapat Bonus Dari Jokowi

Text : Handy Fernandy | Photo / Video : NewsOdy | Editor: Andi Wahyudi | 8 November 2018

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

Barcelona Bantah Ingin Pulangkan Neymar

Barcelona Bantah Ingin Pulangkan Neymar

FOOTBALL
Resmi, Ivan Kolev Tukangi Persija

Resmi, Ivan Kolev Tukangi Persija

FOOTBALL
Giggs Beberkan Kunci Sukses Solskjaer

Giggs Beberkan Kunci Sukses Solskjaer

FOOTBALL
Barcelona Berburu Eks Real Madrid

Barcelona Berburu Eks Real Madrid

FOOTBALL

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company