image

Juara Piala AFF, Hanya Sebuah Wacana?

Text : Aga Buge Katiara | Photo / Video : AFF | Editor: Andi Wahyudi | 21 November 2018

SPORTKU.COM

Wacana, satu kata yang menggambarkan nasib timnas Indonesia pada Piala AFF 2018 kali ini.

Sebelum Piala AFF digelar, Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dengan tegas menyatakan target utama skuat Garuda di kompetisi terbesar se-Asia Tenggara tersebut adalah gelar juara. Sebuah keinginan besar yang seharusnya 'bisa terwujud'. 

Bisa terwujud seandainya PSSI bisa dengan benar menyiapkan tim ini untuk mengikuti Piala AFF. Namun, pada kenyataannya tidak sama sekali. 

Sebuah hal yang terlihat selama masa persiapan tim ini, ketika negara lain sudah melakukan persiapan, Indonesia justru masih disibukkan dengan tarik ulur masa depan Luis Milla kala itu. Siapa pelatih Indonesia di Piala AFF? Apakah Luis Milla memperpanjang kontrak? Deretan pertanyaan yang pada akhirnya kita semua mendapat jawaban.

Pada 21 Oktober 2018, PSSI resmi menunjuk Bima Sakti sebagai pelatih kepala skuat Merah Putih yang akan berlaga di Piala AFF. Dipilihnya Bima memang bukan tanpa alasan, sebagai asisten yang selama ini mendampingi Milla selama satu setengah tahun membuat dirinya dianggap yang paling pas, karena sudah memahami strategi juru taktik asal Spanyol tersebut.

“Segala kemungkinan masih bisa terjadi (mengenai pelatih Indonesia), namun target kami tidak berubah (menjadi juara). Masalahnya begini, kalian harus bisa melihat persiapan tim untuk Piala AFF ini sudah all out. Coach Bima dibantu Coach Kurniawan, dan Kurnia Sandy tidak main-main. Oleh karenanya, PSSI siap,” jelas wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono ketika itu. 

Baca Juga:
Menilik Peluang Indonesia Lolos Semifinal Piala AFF 2018

Bima Sakti mengemban tugas sangat berat di Piala AFF 2018

timnas-9565779c97b6578.jpg

Meski tidak sedikit yang mempertanyakan keputusan tersebut. Pasalnya, Bima belum punya pengalaman melatih klub, namun sudah diserahi tanggung jawab besar membawa Indonesia juara. 

Sampai, tibalah waktunya Indonesia memainkan laga perdana grup B kontra Singapura pada Jumat (9/11). Semua mata tertuju pada Bima Sakti sang peracik strategi, dirinya mendapat sorotan karena masyarakat Indonesia tentu penasaran bagaimana jebolan Primavera itu mendapat ujian yang sebenarnya.

Dan hasilnya pun sangat mengecewakan. Indonesia takluk 0-1 dari tuan rumah berkat gol semata wayang Harris Harun. Akan tetapi, tidak hanya hasilnya saja yang membuat masyarakat Indonesia kecewa, melainkan dari cara bermain sudah jauh dari harapan.

Indonesia sangat berbeda, meski dihiasi skuat yang hampir serupa di Asian Games 2018 lalu, permainan Indonesia di pertandingan ini bukan seperti yang kita lihat selama pagelaran Asian Games lalu. Di mana bola pendek mengalir cepat, sektor sayap yang mematikan, serta ketenangan dalam bermain sama sekali tidak ada. 

Berlanjut ke laga kedua melawan Timor Leste, situasi belum juga berubah. Indonesia bermain sangat terburu-buru di awal serta banyak sekali kesalahan dalam mengoper bola. Memang, secara hasil Indonesia keluar sebagai pemenang, namun secara permainan, tidak jauh berbeda kala bertemu Singapura.

Publik mulai pesimis, apalagi yang akan dihadapi berikutnya merupakan juara bertahan, Thailand. Bertemu Thailand di Stadion Rajamangala pada Sabtu (17/11), Stefano Lilipaly Cs. sempat tampil mengejutkan di awal. Hasilnya, Zulfiandi mampu membuat publik Thailand terhenyak sejenak berkat golnya di menit 29. 

Akan tetapi, keunggulan Indonesia tidak bertahan lama karena Thailand secara cepat justru berbalik unggul di menit akhir babak pertama. Kemudian, di babak kedua, seperti yang kita semua lihat, Indonesia sama sekali tidak berkembang yang membuat Gajah Putih menambah dua gol, meski Fachrudin Aryanto sempat memperkecil kedudukan, hal tersebut tidak banyak membantu karena Indonesia tetap kalah 2-4. Sebuah hasil yang kian mempersulit langkah Indonesia ke semifinal.

Dari tiga pertandingan yang sudah dijalani, Indonesia sudah menelan dua kekalahan dan satu kemenangan yang menempatkan mereka di urutan empat klasemen sementara. Indonesia tertinggal 3 poin dari Thailand dan Filipina yang mengantongi dua kemenangan. 

Indonesia memang punya satu laga sisa kontra Filipina yang akan berlangsung Minggu (25/11). Sayangnya, laga itu tidak akan berarti banyak seandainya Thailand dan Filipina bermain imbang, atau bahkan Filipina yang keluar sebagai pemenang.

Sebuah Ironi, jika Indonesia kembali gagal di turnamen Asia Tenggara, padahal kita tercatat sebagai negara terbesar di ASEAN. Kini, target juara yang dicanangkan pun seolah meluap begitu saja jika melihat kondisi yang ada sekarang. 

Di sini kita tidak bisa menyalahkan para pemain, apalagi menyudutkan Bima Sakti yang sudah berjuang di lapangan. Seharusnya PSSI sebagai federasi bisa memperbaiki diri karena masyarakat Indonesia pastinya ingin melihat timnasnya meraih gelar secara nyata, bukan hanya sekedar janji manis atau sebuah wacana.

Indonesia berharap "bantuan" Thailand untuk lolos ke semifinal Piala AFF 2018

timnas-428959e7fa5bb7f.jpg

Baca Juga:
5 Crazy Rich Asians di Sepak Bola

Text : Aga Buge Katiara | Photo / Video : AFF | Editor: Andi Wahyudi | 21 November 2018

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company