image

Catatan Ferrari di Tangan Maurizio Arrivabene

Text : Ria Afriliani | Photo / Video : Istimewa | Editor: Andi Wahyudi | 10 January 2019

SPORTKU.COM

Empat musim berada di bawah kepemimpinan Maurizio Arrivabene, apa saja yang sudah dihasilkan oleh Scuderia Ferrari?

Mantan CEO Ferrari, Sergio Marchionne, adalah dalang dibalik pengangkatan Maurizio Arrivabene menjadi kepala tim di Maranello pada November 2014.

Marchionne menunjuk Arrivabene untuk menggantikan Marco Mattiacci yang baru tujuh bulan menjabat di posisi tersebut dengan alasan bahwa Arrivabene memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang Ferrari, tidak hanya mengenai mekanisme tata kelola, tapi juga tentang persyaratan olahraga.

Selain itu, pendelegasian Arrivabene sebagai kepala tim juga dinilai oleh Marchionne sebagai proses dari peremajaan Ferrari usai digulingkannya Luca di Montezemolo, mantan Kepala Tim Ferrari yang lama.

Selama menjabat, Maurizio Arrivabene dipandang sebagai yang ideal untuk memimpin Ferrari, dan boneka yang sempurna bagi Sergio Marchionne. Tapi serangkaian kesalahan, budaya menyalahkan, dan perbaikan di belakang layar telah menjatuhkan karier Arrivabene di Maranello.

Kegagalan Ferrari dalam meraih gelar juara konstruktor di Formula 1 hingga lebih dari satu dekade telah membuat Arrivabene sulit bertahan lama di Maranello. Bahkan mantan Direktur Teknis Ferrari, Ross Brawn mengatakan, bekas timnya itu telah menerima kutukan karena selalu finish di urutan kedua klasemen tim.

"Ferrari tidak pernah cukup baik ketika balapan di kandang, mereka selalu gagal untuk menang, dan itu selalu hampir menjadi masalah bagi tim nasional di Italia," kata Brawn seperti yang dikutip dari Motorsport.

Lantas, apa yang sebenarnya sedang dialami Ferrari hingga tak selalu mujur dan mengakhiri puasa gelar? Kepemimpinan Maurizio Arrivabene pun akhirnya dipertanyakan. Apakah dia benar-benar cukup layak untuk menjadi seorang atasan?

Baca Juga :
Dipecat Ferrari, Maurizio Arrivabene Kembali ke Juventus

Sebastian Vettel, adalah salah satu pebalap Ferrari yang berulang kali disalahkan oleh banyak pihak karena performa buruknya dan kelalaian konyol yang dia lakukan di beberapa balapan 2018. Salah satunya insiden mengunci ban dan melebar ke gravel saat sedang memimpin di GP Jerman beberapa waktu lalu.

Masing-masing orang boleh berpendapat tentang gaya kepemimpinan kepala tim Ferrari. Seperti Luciano Burti, mantan pebalap tes skuat kuda jingkrak era 2002-2004 yang berpendapat, semenjak tim dipandu oleh Maurizio Arrivabene tak berjalan efektif dibandingkan dengan era di awal 2000-an. "Mungkin Ferrari kehilangan gaya kepemimpinan yang dulu biasa ditunjukkan Jean Todt," kata Burti.

Selain itu, Burti juga menambahkan bahwa dirinya mengenal baik Stefano Domenicali, mantan bos tim sebelum Arrivabene. "Dia adalah orang yang sangat baik, meski saya tidak tahu seperti apa kondisi tim sewaktu dia menjabat. Tapi, begitu dia meninggalkan Ferrari, ritme yang biasanya seperti hilang," ujarnya.

Dan mudah-mudahan saja di bawah kepemimpinan Mattia Binotto, dia bisa membawa Ferrari ke arah yang lebih baik, khususnya merebut gelar juara konstruktor dan mengakhiri puasa gelar sejak tahun 2008 silam. Namun, sebelum melihat hasil itu, mari kita simak catatan Ferrari selama empat musim di tangan Maurizio Arrivabene.

Mulai tahun 2015 hingga 2018, Scuderia Ferrari sudah menuntaskan 81 kali balapan Grand Prix dengan 14 kali kemenangan, 12 kali raihan pole position, dan podium sebanyak 71 kali. Pada 2015, musim pertama di bawah kepemimpinan Arrivabene, Ferrari berhasil finish di urutan kedua, di bawah Mercedes. Sementara pebalapnya Sebastian Vettel dan Kimi Raikkonen menjadi yang tercepat di urutan ketiga dan keempat klasemen.

Setahun berikutnya, performa Ferrari menurun. Tim berakhir di peringkat ketiga, sementara Vettel berada di posisi keempat klasemen dan Raikkonen keenam. Masuk ke musim 2017, Ferrari kembali menaikkan peringkatnya di urutan kedua, sementara Vettel dan Raikkonen menjadi pebalap terbaik di posisi kedua dan keempat klasemen.

Pada musim lalu, yakni 2018, lagi-lagi Silver Arrows berhasil mempertahankan gelar juara dunianya, dan Ferrari hanya sanggup menjadi yang terbaik kedua. Begitupun dengan pebalapnya, di mana Vettel mengisi podium kedua dan Raikkonen menutup raihan podium ketiga.

Data dan Fakta Scuderia Ferrari (2015 - 2018)

Total Grand Prix = 81 kali
Menang = 14 kali
Pole Positions = 12 kali
Podium 71 kali

2015
Posisi Klasemen : 2
Sebastian Vettel : 3
Kimi Raikkonen : 4
Poin : 428

2016
Posisi Klasemen : 3
Sebastian Vettel : 4
Kimi Raikkonen : 6
Poin : 398

2017
Posisi Klasemen : 2
Sebastian Vettel : 2
Kimi Raikkonen : 4
Poin : 522

2018
Posisi Klasemen : 2
Sebastian Vettel : 2
Kimi Raikkonen : 3
Poin : 571

catatan-ferrari-di-tangan-587777ab2c24b02.jpg

Baca Juga :
Maurizio Arrivabene : Masa Depan Saya di Ferrari, Bukan Juventus

Text : Ria Afriliani | Photo / Video : Istimewa | Editor: Andi Wahyudi | 10 January 2019

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

Terima Kasih Marek Hamsik

Terima Kasih Marek Hamsik

TOPIC OF THE WEEK
Carut Marut Persija Jakarta

Carut Marut Persija Jakarta

TOPIC OF THE WEEK

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company