image Pelatih Pelita, Fictor Roring, dikenal sangat vokal dalam memberikan kritik Pemain asing IBL, Wayne Bradford (Pelita) dan David Atkinson (Bima Perkasa Jogja), Foto: IBL

Aturan 'Karet' IBL Yang Merugikan Tim

Text : Aga Buge Katiara | Photo / Video : Pariyono, IBL | Editor: Andi Wahyudi | 15 February 2019

uploads/news/2019/02/aturan-karet-ibl-rugikan-245569aa26d3d8b.JPG

Aturan 'Karet' IBL Rugikan Tim

ibl-seri-2-jakarta-453642478f31356
ibl-hari-terakhir-seri-171586d94a92ed8
SPORTKU.COM

Protes yang dilakukan Pelita Jaya terkait aturan tinggi badan menimbulkan pertanyaan mengenai peraturan yang dibuat oleh IBL.

Pada seri ketujuh IBL yang berlangsung di Malang, Pelita Jaya melakukan protes kepada IBL mengenai tinggi badan pemain asing Stapac Jakarta, Kendal Yancy. Di sana, pelatih Pelita, Fictor Roring mempertanyakan tinggi badan Yancy yang dinilai melebihi 188cm. 

Seperti diketahui, dalam aturan yang diterapkan IBL, setiap tim berhak memiliki dua pemain asing dengan batas maksimal 188cm dan satu lagi bertinggi badan bebas. Pihak Pelita menilai Yancy memiliki tinggi badan yang melebihi batas jika dilihat postur saat berdiri di lapangan.

Runner up IBL musim lalu kemudian melayangkang surat resmi dan meminta pihak IBL mengukur ulang tinggi badan Yancy. Namun, IBL dengan tegas menolak keinginan Pelita dengan alasan pengukuran yang dilakukan sudah valid.

Mendapat surat balasan dari IBL, Pelita tidak menyerah. Mereka kembali bersikeras ingin tinggi badan Yancy diukur ulang. “Ya mengenai surat itu kita sudah suratin balik disertai bukti foto, jadi ada foto dia berdiri dengan pemain lain yang tingginya sesuai aturan. Kami keberatan dan minta ditindaklanjuti,” kata pelatih Pelita, Fictor Roring

“Ini kan jadi pertanyaan, mereka bilang sudah diukur diikuti data rumah sakit yang valid, tapi di sana ngga ada saksi. Permintaan kita sebenarnya hal mudah, tapi kok dibuat rumit. Menghitung tinggi badan paling berapa lama, mereka bilang valid, ya sudah kita minta ukur lagi. Urusan simpel jadi rumit. Kalau memang hasilnya beda mereka tinggal akui ada kesalahan. Tapi ini kesannya seperti ditutup-tutupi, ada apa? kan aneh,” tambahnya. 

Masalah tinggi badan ini pun sudah menimbulkan korban, yakni Hangtuah. Pada tanggal 10 Februari lalu, pemain anyar mereka, Bryquise Perine tidak boleh dimainkan. Perine yang menggantikan Gary Jacobs tersebut dikatakan punya tinggi badan 190cm. Akhirnya, Perine tidak dimainkan melawan NSH Jakarta, padahal sehari sebelumnya, ia sempat tampil kontra Stapac. 

Baca Juga:
Pukul Pemain Prawira, Xaverius Prawiro Dihukum

Lucunya, semua list pemain ini sebenarnya dikeluarkan IBL. Secara logika, mereka seharusnya tahu berapa tinggi badan pemain yang akan ditawarkan kepada klub. Ini yang menjadi pertanyaan Hangtuah. Ditambah, Perine sempat bermain melawan Stapac, artinya dia seharusnya sudah memenuhi segala persyaratan. 

“Jadi begini, saya juga tidak tahu kenapa Perine tidak bisa bermain, saat siang sebelum melawan NSH saya dipanggil dan dijelaskan kalau dia (Perine) tidak bisa main.  Mereka (IBL) hanya bilang Perine melanggar aturan tinggi badan. Padahal, kami juga memilih dia dari daftar pemain yang dikeluarkan IBL. Mereka justru menyalahkan klub, padahal kami tidak tahu dan sebelumnya sama sekali tidak punya akses ke pemain atau agen mereka,” jelas pelatih Hangtuah, Andika Saputra.

Kemudian, Bedu sapaan akrabnya juga heran kenapa masalah ini timbul saat musim hendak berakhir. “Masalahnya kenapa ini terjadi saat musim mau berakhir, kan itu hanya berbeda berapa cm saja, kenapa tidak diberikan toleransi, mengingat situasi sedang genting seperti ini".

Hangtuah sebagai klub jelas dirugikan di sini. Saat posisi mereka tidak menguntungkan untuk lolos ke babak berikutnya, masalah ini justru muncul. Dua kali mengganti pemain di tengah padatnya kompetisi jelas bukan situasi ideal bagi sebuah tim. 

Dan jika dilihat secara lebih rinci melalui situs asia-basket.com, banyak perbedaan mengenai tinggi badan para pemain. Pemain-pemain seperti Carlton Hurst atau bahkan Wayne Bridge, yang membela Pelita selama setengah tahun menyalahi aturan yang dikeluarkan IBL.

“Aturan yang dikeluarkan itu kan sebenarnya harus ketat dan tegas, dan di sini tidak. Seperti aturan karet kalau seperti ini bisa dilanggar kapan saja,” lanjut Ito. 

Lebih lanjut, Ito juga menginginkan saat pengukuran tinggi badan dilakukan seharusnya ada saksi yang hadir. “Setahu saya seharusnya ada perwakilan tim dan minimal tiga klub lain datang sebagai saksi agar semuanya netral. Karena kalau hanya saksi dari satu atau dua klub sangat mungkin terjadi main mata."

Kini, semuanya sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Ke depan, diharapkan IBL bisa lebih ketat dalam memberikan aturan agar tak ada lagi korban seperti Hangtuah. 

“Ya setau saya nanti akan ada meeting owner club, saya juga pasti hadir di sana untuk membahas IBL ke depan seperti apa,” tegas Ito yang juga melatih timnas basket Indonesia tersebut. 

  • DATA & FAKTA :
  • Terdapat tujuh pemain yang bisa dikatakan menyalahi aturan tinggi badan jika dilihat berdasarkan draft list IBL dan situs lainnya seperti asia-basket.com
  • Untuk pemain naturalisasi, IBL tidak mengeluarkan aturan batasan tinggi badan. Untuk itu, Satria Muda tidak mendapat masalah memiliki Jamarr Andre Johnson (naturalisasi) dan Dior Lawhorn.

Baca Juga:
Protes Pelita Jaya Ditolak, Fictor Roring Sindir Sikap IBL

Text : Aga Buge Katiara | Photo / Video : Pariyono, IBL | Editor: Andi Wahyudi | 15 February 2019

  • facebook share
  • twitter share
  • instagram connect
  • youtube connect

RELATED NEWS

QUICK NAVIGATION

Tagline

SPORTKU adalah media berita online yang menyajikan informasi seputar dunia olahraga dengan mengedepankan Action, Competition, Adrenaline dan Lifestyle. 
ACT YOURS!

GROUP OF

Mahaka Media

MAHAKA MEDIA, dengan tagline "Beyond Media Creation", merupakan perusahaan induk dari unit usaha media dan hiburan (entertainment) yang memiliki kekuatan di bidang Broadcasting, Printing&Publishing, Online dan Marketing Company